Perjuangan Petugas Difabel, Dirampok dan Dianiaya Demi Obati Ibu

Reporter : Maulana Kautsar
Sabtu, 28 September 2019 08:01
Perjuangan Petugas Difabel, Dirampok dan Dianiaya Demi Obati Ibu
Di atas kursi roda, Helmi pernah dirampok hingga dianiaya orang.

Dream - Muhammad Helmi Firdaus Abdul Halid, 22 tahun, menjadi tulang punggung keluarga. Tak biasa, dia menjalani peran ini dengan menggunakan kursi roda. Kondisi tubuh itu karena hydrocephalus yang dialaminya.

Helmi bekerja sebagai pegawai kontrak yang bertugas menjaga dan membersihkan toilet umum di Taman Puchong Perdana, Selangor, Malaysia.

Dilaporkan World of Buzz, Helmi berangkat ke lokasi kerja sejak 05.00. Menggunakan kursi rodanya dia berjalan sejauh empat kilometer dari rumahnya ke stasiun LRT Bandar Kinrara.

Dia normalnya bekerja sekitar pukul 07.30 dan berakhir pukul 18.00. Dia akan menjalani hari yang berat dari pada umumnya pekerja normal.

Ketika kelelahan sudah melanda dia diizinkan beristirahat di warung di seberang toilet umum.

 

1 dari 5 halaman

Dirampok dan Dianiaya

 Muhammad Hilmi Firdaus bekerja sebagai petugas kebersihan toilet (Foto: Youtube)

Perjuangan Hilmi jadi tulang punggung keluarga (foto: Youtube)

Tantangan yang dihadapi Helmi bukan berasal dari pekerjaannya. Melainkan, kerapnya muncul orang tak bertanggung jawab yang merampok dan memalaknya.

“ Saya biasa meninggalkan rumah saya pada jam 4 pagi, tetapi setelah saya dirampok dan dipukuli, saya tidak lagi berani keluar secepat itu. Karena kejadian itu, kursi roda saya rusak dan saya harus menggunakan tabungan saya untuk membeli yang baru,” ucap Helmi.

Dia menghasilkan sekitar 600 ringgit, setara Rp2 juta, hingga 850 ringgit, setara Rp2,8 juta sebulan.

 

2 dari 5 halaman

Kondisi Keluarga

Dia menyerahkan semua uang itu kepada ibunya dan membiayai kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“ Meskipun kami juga menerima 400 ringgit (Rp1,3 juta) sebulan dari Departemen Kesejahteraan Sosial, itu tidak cukup. Terkadang, saya makan satu kali sehari. Ketika tak punya uang, aku hanya akan minum air," kata dia.

 Perjuangan Hilmi jadi tulang punggung keluarga (foto: Youtube)

Perjuangan Hilmi jadi tulang punggung keluarga (foto: Youtube)

Ibunya, Hasazila, kata Helmi, dulu membantu biaya hidup keluarga dengan berjualan kue. Tapi, sang ibu berhenti jualan setelah kondisi jantung dan ginjalnya yang mengalami komplikasi dia terpaksa berhenti. 

Saudara laki-laki Helmi di sisi lain memiliki autisme dan tidak dapat bekerja.

“ Karena ibu saya didiagnosis menderita penyakit jantung dan ginjal awal tahun ini. Ibu memerlukan perawatan bulanan di rumah sakit, saya harus bekerja lebih keras,” ujar dia. (ism)

3 dari 5 halaman

Bikin Fasilitas Kaum Difabel Kok Gini Amat, Bikin Geregetan!

Dream - Semua bangunan umum serta ruang publik dimanapun berhak dimasuki setiap warga negara, termasuk kaum difabel.

Selain memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara, kalangan difabel juga bisa mandiri jika mereka mendapat fasilitas yang memadai dan sesuai.

Namun pengetahuan yang minim tentang kebutuhan kaum difabel ini membuat segelintir orang membangun fasilitas seadanya tanpa perhitungan.

Di beberapa kota besar, kamu pasti sering melihat garis berwarna kuning di sejumlah trotoar jalan. Garis kuning yang dikenal sebagai guiding block itu berfungsi sebagai alat bantu penunjuk arah bagi para kaum difabel.

Sayangnya masih banyak guiding block  di banyak trotoar itu terhalang pohon, tiang lampu, atau bahkan mengarah pada selokan.

Belum lagi beberapa fasilitas lain untuk para difabel dibawah ini. Hih, dijamin bikin gemas!

4 dari 5 halaman

Berbahaya

1. Meluncur tanpa batas

 Difabel

2. Jalur extreme untuk pengguna kursi roda

 Difabel

3. Sudah sulit, jika berhasil auto nabrak pot

 Difabel

4. Jadi harus standing gitu?

 Difabel

5. Yak kamar mandi untuk disabilitas dengan tangga. Sungguh ironi

 Difabel

5 dari 5 halaman

Kok Enggak Dipikir

6. Maksudnya gimana ini?

 Difabel

7. Jadi ini gimana cara bekerjanya?

 Difabel

8. Bukan untuk extreme sport!

 Difabel

9. Kenapa malah dibuat ribet!

 Difabel

10. Astaga seadanya banget!

 difabel

Beri Komentar
Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie