Unpad Ciptakan Alat Rapid Test Covid-19, Akurasi 80%

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 15 Mei 2020 18:00
Unpad Ciptakan Alat Rapid Test Covid-19, Akurasi 80%
Test kit ini mulai diproduksi massal pada Juni 2020.

Dream - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengumumkan kabar menggembirakan di tengah pandemi virus corona. Tim riset gabungan Universitas Padjadjaran dengan Industri Bioteknologi Jawa Barat telah mengembangkan rapid test kit dengan tingkat akurasi mencapai 80 persen.

" Universitas Padjadjaran bersama Industri Bioteknologi Jawa Barat berhasil menciptakan rapid test kit berbasis antigen bukan antibodi yang bisa melacak virus Covid dengan akurasi sampai 80 persen," tulis Ridwan di Instagram, @ridwankamil.

Ridwan mengatakan kecepatan melawan Covid ditentukan oleh masifnya alat tes virus corona ke publik. Rapid test yang beredar selama ini masih kurang banyak, harus impor dan kurang akurat (di bawah 50 persen) karena hanya mengecek hadirnya antibodi yang melawan benda asing di tubuh yang belum tentu benda asing itu adalah virus covid.

" Juni 2020 sudah produksi, sehingga tidak perlu lagi berlama-lama menunggu impor. Dan harga dari rapid test made in Bandung ini hanya 1/3 harga rapid test yang diimpor dari Tiongkok," jelas Kang Emil.

1 dari 4 halaman

Sejumlah Inovasi

Ridwan juga menyebutkan Unpad dan ITB berhasil menciptakan alat deteksi Covid lainnya dalam bentuk mesin seperti PCR yang disebut SPR (Suspected Plasmonic Resonance). Lebih murah dan tidak perlu laboratorium khusus.

Masker bedah, ventilator, reagen PCR, Rapid Test Antigen dan Mesin SPR, semua alat perang melawan covid ini ternyata bisa dibuat di Jawa Barat oleh anak bangsa sendiri.

" Inilah bela negara para ilmuwan di Jawa Barat. Membantu berperang melawan Covid dengan ilmu pengetahuannya." pungkasnya.

      Lihat postingan ini di Instagram

BERITA BAIK: RAPID TEST ANTIGEN COVID AKURASI 80% kini bisa diproduksi oleh Industri Bioteknologi Jawa Barat. Bisa tidak impor lagi. . Universitas Padjajaran bersama industri bioteknologi Jawa Barat berhasil menciptakan rapid tes kit berbasis antigen bukan antibodi yang bisa melacak virus covid dgn akurasi sampai 80 persen. Kecepatan melawan covid ditentukan oleh masifnya tes covid kepada publik. Rapid test selama ini masih kurang banyak, harus impor dan kurang akurat (dibawah 50 persen) karena hanya mengecek hadirnya antibodi yang melawan benda asing di tubuh yang belum tentu benda asing itu adalah virus covid Juni 2020 sudah produksi, sehingga tidak perlu lagi berlama-lama menunggu impor. Dan harga dari rapid test Made in Bandung ini hanya 1/3 harga rapid test yang diimpor dari Tiongkok. Juga Unpad dan ITB berhasil menciptakan alat deteksi covid lainnya dalam bentuk mesin seperti PCR yang disebut SPR (suspected plasmonic resonance). Lebih murah dan tidak perlu lab khusus. Masker bedah, ventilator, reagen PCR, Rapid Test Antigen dan Mesin SPR, semua alat perang melawan covid ini ternyata bisa dibuat di Jawa Barat oleh anak bangsa sendiri. Inilah bela negara para ilmuwan di Jawa Barat. Membantu berperang melawan covid dengan ilmu pengetahuannya.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ridwan Kamil (@ridwankamil) pada

2 dari 4 halaman

Ridwan Kamil: Bogor Siap Produksi Masker 1 Juta per Hari

Dream - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mendorong industri di Jawa Barat untuk memproduksi masker bedah sendiri. Upaya itu untuk menekan  melawan penimbun masker.

" Saya dan Bupati Bogor meminta produksi dinaikkan minimal 1 juta masker per hari di akhir bulan ini. Agar berlimpah melawan penimbun dan agar harga jadi murah. No mahal-mahal club," kata Emil, sapaannya, di Twitter, Kamis, 16 April 2020.

Emil menyebut, salah satu industri masker bedah di Bogor, PT Multi One Plus, juga menyanggupi membeli mesin baru untuk meningkatkan produksi.

" Alhamdulillah, Jawa Barat sebagai tuan rumah dari 60 % industri se-Indonesia, bisa dan mampu memproduksi masker bedah sendiri secara masif. Ini industri masker bedah kualitas ekspor standar WHO berlokasi di Kabupaten Bogor," tulis dia.


Rencananya, kata dia, jika kebutuhan masker di Bogor dan Jawa Barat mencukupi, produk akan dikirim ke provinsi-provinsi lain. " Baru setelah itu baru boleh ekspor menolong negara lain," ucap dia.

Dilaporkan Merdeka.com,  terdapat sembilan pabrik yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD), masker medis maupun baju hazmat.

Pabrik yang dikunjunginya ini, kata Emil, mampu memproduksi 250 ribu masker medis setiap hari, meski telah habis dipesan oleh instansi pemerintahan.

" Janjinya, akhir April mereka mau menambah kapasitas produksi hingga 1 juta buah per hari. Mungkin 2 juta. Jadi jangan khawatir, kebutuhan masker kita akan terpenuhi," kata dia.

Emil menegaskan, dalam dua hingga empat bulan ke depan, kebutuhan APD maupun masker di Jawa Barat dan Indonesia akan tercukupi. Para produsen pun dilarang untuk melakukan ekspor lebih dahulu.

3 dari 4 halaman

Izin Dipermudah, Jokowi: APD Produksi Dalam Negeri Jangan Diekspor

Dream - Presiden Joko Widodo meminta produksi Alat Pelindung Diri atau APD diatur dengan baik. Kebutuhan dalam negeri tetap harus menjadi prioritas.

" Jangan sampai semuanya diekspor, kita malah enggak dapat," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan produksi APD harus benar-benar diatur. Baik untuk APD lengkap hingga masker. " Kita bisa produksi banyak, agar ini diatur," kata Jokowi.

Dalam rapat terbatas hari ini, Jokowi mengatakan sudah ada 213 negara yang terkena imbas virus corona dan berebut alat-alat medis.

Dia mendorong kemampuan produksi alat kesehatan di dalam negeri, terutama di tengah pandemi Covid-19.

" Baik itu yang berkaitan dengan industri bahan baku, obat, farmasi, yang berkaitan dengan APD, yang berkaitan dengan industri masker atau yang berkaitan dengn industri ventilator," kata dia.

 

4 dari 4 halaman

Permudah Perizinan

Selanjutnya, Jokowi meminta semua kementerian dan lembaga mempermudah proses perizinan produksi dan distribusi alat kesehatan di dalam negeri. Utamanya berkaitan dengan pengadaan bahan baku.

" Ketersediaan bahan baku, tadi saya senang beberapa bahan baku tadi bisa dipenuhi di dalam negeri, ini bagus. Tetapi untuk yang masih berkaitan dengan impor bahan baku betul-betul, terutama ini di bea cukai," kata dia.

Jokowi pun meminta Kementerian Perdagangan untuk memberikan relaksasi pengadaan bahan baku alat kesehatan dari luar negeri.

" Sehingga proses perizinan yang cepat dan terintegrasi betul-betul ada dan membantu mereka," ucap Jokowi.

Sumber: Liputan6.com/Lizsa Egeham

Beri Komentar