Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
© Gunawan Kartapranata, CC BY-SA 3.0 Via Wikimedia Commons
DREAM.CO.ID - Bayangkan suasana Jawa Tengah sekitar 1.200 tahun lalu. Di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Magelang, ribuan pekerja, pemahat batu, dan ahli bangunan mengerjakan sebuah proyek keagamaan dalam skala luar biasa besar. Batu demi batu disusun, relief dipahat, dan puluhan ribu meter persegi permukaan bangunan dihiasi dengan kisah-kisah Buddhis. Hasilnya adalah Borobudur, salah satu monumen keagamaan terbesar yang pernah dibangun manusia.
UNESCO mencatat Borobudur dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi, pada masa Dinasti Syailendra. Bangunan ini memiliki struktur bertingkat dengan lima teras persegi, tiga platform melingkar, 72 stupa berlubang, serta ribuan panel relief. Tata ruangnya juga merepresentasikan kosmologi Buddhis melalui tiga tingkatan dunia: kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu.
Pertanyaannya, seperti apa dunia ketika masyarakat Jawa membangun Borobudur? Jawabannya menarik karena pembangunan Borobudur berlangsung ketika sejumlah peradaban besar di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika juga sedang mengalami perkembangan penting.
China sedang Berada dalam Masa Kejayaan Dinasti Tang
Pada abad ke-8 hingga awal abad ke-9, China berada di bawah Dinasti Tang. Ibu kotanya, Chang'an, berkembang menjadi salah satu kota kosmopolitan terbesar pada zamannya. Pedagang, utusan, dan pemuka agama dari India, Persia, Arabia, Suriah, Korea, dan Jepang datang ke kota tersebut.
Museum Metropolitan menunjukkan bahwa China pada periode ini mengalami pertumbuhan ekonomi, hubungan diplomatik yang luas, serta perkembangan budaya yang sangat kosmopolitan. Berbagai barang dan pengaruh dari luar wilayah China hadir dalam kehidupan masyarakat Tang.
Artinya, ketika para pemahat di Jawa mengerjakan relief Borobudur, di tempat lain di Asia sudah berkembang jaringan perdagangan dan pertukaran budaya lintas wilayah yang sangat luas.
Pada abad ke-8 dan ke-9, dunia Islam juga mengalami perkembangan besar di bawah Kekhalifahan Abbasiyah. Baghdad berkembang sebagai pusat politik, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Tradisi yang kemudian dikenal melalui Bayt al-Hikmah atau House of Wisdom berkembang dalam lingkungan intelektual Abbasiyah. Pada masa Harun al-Rasyid dan terutama al-Ma'mun, Baghdad menjadi tempat berkembangnya kegiatan penerjemahan dan kajian berbagai pengetahuan dari tradisi Yunani, Persia, dan India.
Dengan kata lain, pada saat Borobudur berdiri di Jawa, para ilmuwan di kawasan Timur Tengah sedang mengembangkan tradisi intelektual yang kelak memberikan pengaruh besar terhadap matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat.
Di Eropa Barat, periode yang sama ditandai oleh munculnya Charlemagne. Pada tahun 800, ia dimahkotai sebagai kaisar oleh Paus di Roma. Kekuasaan Charlemagne mencakup wilayah yang luas di Eropa Barat dan menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Eropa abad pertengahan.
Namun, gambaran Eropa pada masa itu sangat berbeda dari Jawa. Kekuasaan politik masih terfragmentasi dan masyarakat hidup dalam struktur kerajaan serta komunitas lokal. Pusat-pusat keagamaan menjadi tempat penting untuk pendidikan dan pelestarian pengetahuan.
Menariknya, tahun 800—ketika Charlemagne dinobatkan sebagai kaisar—berada tepat di sekitar periode pembangunan Borobudur.
Pada 793, ketika pembangunan Borobudur masih berlangsung, sebuah peristiwa mengguncang Eropa Barat. Para perompak Viking menyerang biara Lindisfarne di Inggris.
English Heritage menyebut serangan tersebut sebagai salah satu serangan Viking paling terkenal dan sering digunakan sebagai penanda awal Era Viking. Serangan berikutnya kemudian semakin sering terjadi di wilayah Inggris, Irlandia, dan Francia.
Kontrasnya cukup menarik. Di Jawa, salah satu proyek monumental keagamaan sedang berkembang; di Eropa Utara, masyarakat Skandinavia mulai memasuki periode ekspansi maritim yang kelak membawa mereka hingga berbagai wilayah Eropa dan Atlantik.
Jauh di Amerika Tengah, masyarakat Maya pada periode Klasik telah menghasilkan pusat-pusat perkotaan dan bangunan monumental. Palenque, misalnya, mencapai masa kejayaan sekitar abad ke-6 hingga ke-8. UNESCO mencatat kualitas arsitektur, pahatan relief, dan kemampuan adaptasi masyarakatnya terhadap lingkungan sebagai bukti pencapaian peradaban Maya.
Jadi, pembangunan monumental bukan fenomena yang hanya terjadi di Asia. Pada periode yang kurang lebih sama, berbagai masyarakat di belahan dunia berbeda mengembangkan arsitektur, sistem keagamaan, pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan mereka sendiri.
Borobudur menunjukkan bahwa Jawa pada abad ke-8 dan ke-9 bukanlah wilayah yang terisolasi dari perkembangan dunia. Letaknya berada dalam jaringan Asia yang mempertemukan perdagangan, agama, teknologi, dan kebudayaan. Pengaruh Buddhisme sendiri telah berkembang melalui jaringan hubungan yang menghubungkan India, Asia Tenggara, dan Asia Timur.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
