Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mursidah Rambe, Pendiri BMT Beringharjo (bmtberingharjo.com)
Dream - Nama Mursidah Rambe mungkin tidak asing di kalangan pelaku dan pemerhati ekonomi syariah. Dia adalah pendiri Baitul Maal wa Tamwil (BMT) Beringharjo, yang menjadikan lembaga itu sebagai alat efektif memberangus praktik rentenir yang tentu bersistem riba.
Semua bermula di pelataran Masjid Muttaqien yang terletak tidak jauh dari area parkir motor Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Banyak pedagang berkeluh kesah lantaran sistem riba yang menjerat mereka akibat ulah rentenir.
Curahan hati para pedagang itu membuat Mursidah ingat betul bagaimana seorang kawan dan keluarganya sangat menderita lantaran rumah mereka disita oleh rentenir. Padahal, orang tua kawannya itu hanya pedagang kecil di sebuah pasar di Sumatera Utara yang penghasilannya tidak cukup untuk melunasi utang.
Kenangan itu menumbuhkan tekad dalam diri Mursidah untuk melawan praktik riba dan menghapus rentenir. Dengan semangat yang begitu besar, Mursidah mengajukan pinjaman modal ke Lembaga Amil Zakar Dompet Dhuafa dan mendapatkan Rp1 juta.
Uang itu dia gunakan untuk mendirikan kantor pertama BMT Beringharjo dengan meminjam salah satu ruangan Masjid Muttaqien. Sejumlah peralatan kantor bahkan sampai meminjam ke sana sini.
Mursidah cukup sadar modal yang dia dapat tidak bisa menyasar pedagang besar. Alhasil, dia mendekati pedagang kecil yang kerap sholat dzuhur di masjid tersebut.
Dia menawarkan pinjaman kepada para pedagang dengan sistem syariah. Lambat laun, BMT Beringharjo menjadi perbincangan dan membuat para pedagang tertarik.
Mursidah pun menerapkan pengawasan dan pendampingan terhadap para pedagang. Tujuannya agar pinjaman yang telah diberikan tidak digunakan untuk kebutuhan konsumtif melainkan produktif yaitu mengembangkan usaha.
" Sungguh, ini adalah perjuangan panjang untuk mengedukasi masyarakat merdeka dari riba dan jerat paus rentenir," kata Mursidah, dikutip dari dompetdhuafa.org, Jumat, 29 April 2016.
Lambat laun, BMT yang dirintis Mursidah sejak 22 tahun lalu kini telah berkembang. BMT ini telah memiliki 16 cabang di Pulau Jawa dengan total aset Rp111 miliar.
Sumber: dompetdhuafa.org
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya