Haru, Cerita Bocah Penjual Keripik di Buah Batu

Reporter :
Minggu, 16 Juni 2019 09:50
Haru, Cerita Bocah Penjual Keripik di Buah Batu
Cakra penasaran dengan kisah hidup Bayu, yang masih kecil tapi sudah berjualan.

Dream - Bayu, bocah penjual keripik di Buah Batu, Bandung menggugah hati Cakra Jaka. Melalui akun Twitternya, Cakra bercerita kalau ia baru saja bertemu dengan Bayu saat berkunjung ke kawasan tersebut.

Cakra penasaran dengan kisah hidup Bayu, yang masih kecil tapi sudah berjualan. Cakra lalu mengajaknya makan di restoran siap saji. Tak disangka, Bayu lalu menangis.
Bocah itu bercerita mulai berjualan sejak ibunya meninggal.

1 dari 5 halaman

Ayahnya Sudah Tiada

Saat itu Bayu masih kelas 1 SD. Semenjak itu, Bayu diasuh neneknya dan membantu mencari uang. Ayahnya sudah tidak ada sejak Bayu masih balita.

Ia setiap hari berjualan kripik makaroni, sumpia, dan berbagai camilan di sekitar Buah Batu.

      View this post on Instagram

A post shared by MAKASSAR INFO (@makassar_iinfo) on

Sebenernya Bayu bercita-cita ingin menjadi pesepak bola. Ia saat ini masih bersekolah dan berjualan setelah pulang sekolah. Hal itu dilakukan Bayu untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sang nenek.

Cakra pun meminta mereka yang membaca ceritanya untuk membeli dagangan Bayu. Salut!

Sumber: Makassar Iinfo

2 dari 5 halaman

Larut dalam Kesedihan Ditinggal Anjing, Pria Ini Terlilit Utang Rp1 M

Dream – Pecinta hewan ini berhadapan dengan utang senilai Rp1 miliar karena menjaga ratusan ekor anjing liar. Namun, dia tidak menyerah untuk mengurus “ anak-anak bulunya” itu.

Dikutip dari Oddity Central, Sabtu 15 Juni 2019, namanya Zhang Kai. Pria berusia 41 tahun ini berasal dari Chengdu, Tiongkok, yang punya kehidupan damai dan nyaman. Zhang merupakan manajer perusahaan properti dan baru saja membuka usaha biro travel.

Kehidupan pria ini berubah sejak anjingnya meninggal dunia pada 2003. Kejadian menyedihkan itu membuat Zhang lebih memperhatikan anjing-anjing liar di kotanya.

Semula, ada dua ekor anjing yang dipelihara dan ditaruh di kantor biro travel. Lama-lama jumlahnya mencapai 8 ekor.

Sadar anjing-anjing yang dipeliharanya itu akan berdampak kepada bisnisnya, Zhang mencari lokasi yang tepat untuk menaruh peliharaanya. Semula, dia menjadikan rumah sewa untuk dijadikan “ kandang”. Setelah mendapatkan protes dari tetangga, Zhang pindah ke kandang tua untuk dijadikan kandang raksasa untuk ratusan anjing liar.

Dulu ada 300 ekor anjing yag dijaga. Kini, sisa 260 ekor. Untuk menopang kebutuhan ratusan ekor anjing, Zhang mengandalkan pinjaman bank dan donasi.

3 dari 5 halaman

Bangun Pusat Penyelamatan Hewan

Zhang mendirikan pusat penyelamatan hewan, Little Angle Animal Protection Center. Menjaga delapan ekor anjing mungkin sulit bagi orang-orang. Tapi, pria ini selalu membawa anjing-anjing liar setiap harinya.

Semula, biaya-biaya itu ditopang dari gajinya dan pendapatan bisnis. Seiring dengan semakin banyaknya anjing-anjing yang dipelihara, Zhang keteteran. Biayanya tidak lagi mencukupi.

Disebutkan biaya per bulannya sebesar 20 ribu yuan (Rp41,37 juta) untuk membeli 40 karung makanan anjing setiap hari dan merogoh kocek 6 ribu yuan (Rp12,14 juta) untuk menggaji dua pegawa pusat konservasi hewan setiap bulannya. Anggaran ini tidak termasuk biaya pengobatan.

Tak lagi mencukupi, akhirnya, Zhang mengambil pinjaman di bank.

4 dari 5 halaman

Utangnya Menumpuk dan Tak Sanggup Bayar

Dua tahun yang lalu, Zhang mengambil pinjaman pertamanya sebesar 20 ribu yuan (Rp41,37 juta). Dia berpikir bisa membayarnya tepat waktu. Tapi, pusat konservasinya bertambah dan utangnya juga bertambah.

Zhang juga diam-diam mengambil utang sebesar 20 ribu yuan dari kartu kredit sang ayah untuk menutup biaya bulanan. Ketika orang tua mempertanyakannya, dia menjawab dengan jujur tak ada pilihan karena dililit utang yang sangat banyak.

“ Kami tahu dia membesarkan anjing, tapi tak habis berpikir dengan jumlah anjing yang dipelihara sehingga utangnya bertambah,” kata ibu Zhang, Huang Mingshu.

 

5 dari 5 halaman

Orang Tua Kena Getahnya

Orang tua Zhang berusia 69 tahun dan 70 tahun sebenarnya bisa menikmati pensiunnya. Tapi, mereka terpaksa harus bekerja untuk menekan utang sang anak. Dikatakan bahwa Zhang masih punya utang 510 ribu yuan (Rp1,05 miliar) untuk dibayarkan kepada bank.

“ Kalau tidak membesarkan anjing, kami mungkin akan baik-baik saja. Tapi, sekarang keluarga ini terlilit utang,” kata Huang.

Kondisi ini tidak menyurutkan niat Zhang untuk berhenti merawat anjing-anjing. Dia pun memilih jalan adopsi untuk peliharaannya.

“ Kalau pernah merawat anjing, kmau tahu mereka itu semuanya hampir seperti manusia. Tak ada yang menginginkan seperti mereka. Ini kewajiban saya untuk menjaga sampai anjing-anjing ini tutup usia,” kata dia. 

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone