Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
© Pexels.com/Ayush Singh Thakur
DREAM.CO.ID - Warganet Indonesia punya sebuah kebiasaan unik: menyebut India sebagai " Vrindavan" di kolom komentar media sosial, biasanya sambil bercanda soal kelakuan-kelakuan viral warga negara tersebut. Sementara di sisi lain dunia, orang India sendiri semakin sering menyebut negaranya " Bharat" , bahkan lewat undangan resmi kenegaraan. Dua sebutan yang sama sekali berbeda, untuk satu negara yang sama, dengan latar belakang yang jauh lebih dalam dari sekadar tren media sosial semata.
Vrindavan sebenarnya merujuk pada sebuah kota nyata di negara bagian Uttar Pradesh, India utara. Kota ini terletak di tepi barat Sungai Yamuna, tepat di utara Mathura, tempat suci Dewa Krishna dalam kepercayaan Hindu. Nama Vrindavan sendiri berasal dari kata " Vrinda" atau Brinda, merujuk pada tanaman Tulsi atau kemangi suci yang dipersembahkan dalam pemujaan, dan " Vana" , kata Sanskerta untuk hutan. Secara harfiah, Vrindavan berarti " Hutan Tulasi" .
Kota ini punya kedudukan sangat penting dalam mitologi Hindu, karena diyakini sebagai tempat Dewa Krishna menghabiskan sebagian besar masa muda dan dewasanya, menggembala sapi, memainkan seruling, dan melakukan tarian suci Rasa Lila bersama Radha dan para gopi.
Lalu, bagaimana nama kota suci ini bisa menjadi sebutan bercanda bagi seluruh India di kalangan warganet Indonesia? Fenomena ini bermula dari popularitas serial kartun " Little Krishna" yang tayang di televisi lokal Indonesia, dengan latar cerita berlokasi di Vrindavan. Dari sanalah, warganet mulai mengadopsi nama tersebut untuk menyebut orang India secara umum dalam konten humor di media sosial, terutama saat video atau foto viral dari India beredar luas.
Menariknya, meski dipakai untuk bercanda, istilah ini secara linguistik tidak bersifat SARA sebab hanya merujuk pada nama sebuah kota, bukan kelompok etnis atau agama tertentu. Namun penggunaannya tetap memicu perdebatan, karena sebagian pihak menganggap memakai nama kota suci sebagai bahan lelucon kurang menghormati nilai budaya dan keagamaan yang melekat padanya.
Berbeda dari Vrindavan yang lahir dari fenomena media sosial, " Bharat" adalah nama dengan akar sejarah yang jauh lebih tua, bahkan lebih tua dari nama " India" itu sendiri. Nama Bharat berasal dari bahasa Sanskerta, merujuk pada kaisar legendaris Bharata yang disebutkan dalam epos Hindu, Mahabharata. Perdana Menteri pertama India, Jawaharlal Nehru, bahkan pernah menulis pada 1927 bahwa " India adalah Bharata, tanah suci umat Hindu" .
Nama " India" sendiri sebenarnya merupakan hasil anglikanisasi Inggris dari kata Sanskerta untuk Sungai Indus, yakni " Sindhu" . Nama ini mulai populer digunakan sejak era Kesultanan Inggris di India pada 1858 hingga 1947. Ada pula nama ketiga, " Hindustan" , yang berarti " tanah Indus" dalam bahasa Persia, populer digunakan sejak era Kesultanan Mughal.
Ketika India merdeka dari Inggris pada 1947, para pendiri negara memutuskan mengakomodasi kedua nama sekaligus dalam konstitusi mereka. Pasal 1 Konstitusi India secara eksplisit menyatakan, " India, yaitu Bharat, akan menjadi Persatuan Negara-Negara" , sebuah langkah kompromi untuk mempertahankan sejarah dan budaya dari kedua nama tersebut secara bersamaan.
" Vrindavan" dan " Bharat" mewakili dua cara yang sangat kontras dalam memandang satu negara yang sama. Vrindavan lahir dari budaya pop dan kebiasaan bercanda warganet Indonesia di era media sosial, memanfaatkan nama sebuah kota suci untuk membangun humor internet yang viral. Sementara itu, Bharat adalah identitas resmi yang berakar pada mitologi kuno, dipertahankan dalam konstitusi sejak kemerdekaan India, dan kini menjadi bagian dari perdebatan politik serta identitas nasional yang jauh lebih serius di negeri asalnya sendiri.
Keduanya sama-sama menunjukkan betapa satu bangsa bisa disebut dengan berbagai nama berbeda, tergantung siapa yang menyebutnya, dari mana konteksnya berasal, dan tujuan apa yang melatarbelakangi penyebutan itu, baik sekadar untuk tertawa bersama di linimasa, maupun untuk menegaskan kembali identitas dan kedaulatan sebuah peradaban kuno di panggung dunia.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
