Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi (Kemenag)
Dream - Wakil Menteri Agama (Wamenag(, Zainut Tauhid Sa'adi, mengingatkan penceramah harus siap dengan perubahan yang datang tanpa diprediksi. Wamenag juga berpesan para penceramah harus responsif terhadap situasi dunia yang cepat berubah.
" Kita harus responsif terhadap apa yang terjadi di dunia agar bangsa ini dapat merumuskan respon terbaik agar menjadi harmoni dalam keberagaman," kata Zainut, dikutip dari Liputan6.com.
Zainut mendorong para penceramah dapat berpikir global namun bertindak lokal. Keberadaan para penceramah dapat dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitarnya.
" Lima tahun ke depan dan mungkin seterusnya kita akan dihadapkan perubahan global yang semakin rumit dan cepat," kata dia.
Zainut memberikan contoh pandemi Covid-19. Menurut dia, pandemi ini muncul tanpa pernah diduga sebelumnya dan menimbulkan banyak perubahan dalam kehidupan.
" Ada banyak sekali perubahan yang mengubah tatanan kehidupan di semua bangsa. Ada banyak kegiatan keagamaan yang harus tertunda dan harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan," ucap dia.
Dampak yang timbul akibat pandemi dirasakan betul oleh umat. Baik dari segi ekonomi maupun sosial.
" Apa yang kita hadapai hari ini adalah realitas yang tak bisa kita pisahkan dari kegiatan keberagaman kita. Kita sadari bahwa kondisi cukup berat namun semua harus berada pada suatu barisan yang kokoh," terang Zainut.
Sumber: Liputan6.com/Yopi Makdori
Dream - Kementerian Agama menggelar program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama untuk meningkatkan kapabilitas para penceramah di bidang keagamaan. Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi menegaskan program ini bukanlah sertifikasi penceramah yang selama ini diperdebatkan masyarakat.
" Dengan niat baik memberikan penguatan dan pembinaan, kami launching Program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama," ujar Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa'adi, di Jakarta, Jumat 18 September 2020.
Menurut Zainut program pelatihan ini bertujuan untuk memberikan bimbingan teknis untuk menguatkan kompetensi penceramah.
Selain para dai, yang diberi bimbingan oleh Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam, Kemenag juga menerapkan bimbangan serupa untuk tokoh agama dari Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Pusat Pembinaan Konghucu.
" Ini bukan sertifikasi. Tidak ada paksaan untuk mengikuti program ini. Sifatnya sukarela. Karenanya, yang tidak ikut Bimtek juga tidak terhalang haknya untuk terus berdakwah," kata Zainut.
Kemenag, kata Zainut, sangat concern mendorong peran lebih luas dari penceramah dalam pembangunan bidang agama. Ini mengingat tantangan keberagamaan semakin beragam seiring dengan cepatnya perubahan zaman.
" Karena itu, Kemenag terus membuka diri dan juga proaktif menjalin kerjasama dan kemitraan dengan seluruh ormas keagamaan dalam optimalisasi peran para penceramah," ucap dia.
Zainut menilai saat ini banyak penceramah yang eksis mengedukasi masyarakat dengan bahasa ringan. Sehingga masyarakat mudah memahami pesan yang disampaikan.
" Ini adalah bukti betapa kita sangat kaya dengan sosok-sosok berwawasan moderat," terang Zainut.
Lebih lanjut, Zainut mengatakan tidak semua langkah pembinaan dapat dilakukan seorang diri. Kemenag terus akan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun bidang keagamaan, termasuk dengan ormas keagamaan.
" Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kompetensi para penceramah agama sehingga dapat memenuhi tuntutan zaman dan sekaligus meneguhkan perannya di tengah modernitas. Tak bisa dipungkiri bahwa ada banyak perubahan zaman yang harus kita jawab dengan perspektif yang moderat," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya