Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi
Dream - Muhtar Mochamad Solihin (25) dan Khaidir Ali (22) menjadi wisudawan S1 terbaik pada wisuda sarjana ke-94 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Masing-masing mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.93 dan 3.86. Keduanya merupakan mahasiswa dari Program Bidik Misi (Bantuan Biaya Pendidikan untuk calon mahasiswa tidak mampu atau miskin).
Keduanya membuktikan keterbatasan biaya tidak jadi halangan untuk mencetak prestasi. " Ayahku sudah lama sakit, sehingga tidak bisa bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga, ibuku yang bekerja," ujar Muhtar alumni terbaik Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi (Fidkom).
Lantaran kuat untuk mengubah nasib keluarga, anak keenam dari enam bersaudara ini bertekad melanjutkan pendidikan tinggi usai lulus SMA. Dengan modal beragam prestasi di sekolahnya, ia mencoba peruntungan kuliah di UIN Jakarta melalui program Bidik Misi.
" Kita tidak salah dilahirkan menjadi orang miskin, yang salah adalah ketika kita diwafatkan dalam keadaan miskin. Bagi saya miskin itu nasib dan bisa diubah sebagaimana Allah mengatakan hal itu dalam al-Ra`d ayat13," ucapnya.
Untuk menutupi kekurangan keuangan saat kuliah, tak jarang ia pinjam sana-sini dari beberapa temannya. Ia juga ikut kerja part time di berbagai tempat.
" Saya suka mencari informasi lokasi syuting film/sinetron/iklan untuk sekedar bisa mendapatkan makan dan uang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Biasanya, sehari-semalam hanya mendapatkan Rp 35.000-75.000," kata dia.
Kini setelah lulus, Solihin ingin melajutkan jenjang magister dan membantu ekonomi keluarga. Ia tak berharap pekerjaan ayahnya sebagai penjual es keliling dan ibunya penjual bubur kacang ijo dialami oleh saudara-saudaranya.
" Setelah ini, saya ingin jadi dosen dan wirausaha, sehingga bisa membantu keluarga dan masyarakat."
Tak beda dengan Muhtar, Khaidir juga berasal dari keluarga ekonomi lemah. Ayahnya, Murais, kerja serabutan. Sedangkan ibunya, Wanih, adalah penjual kue ketan.
Ia mengaku bersyukur bisa kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), karena bertemu dengan para calon ulama dunia.
" Semua mahasiswa wajib bisa ngomomg bahasa Arab kayak orang Arab asli. Ketika saya kumpul dengan mereka seolah saya lagi bersama dengan para (calon) ulama," ujar pemuda kelahiran Bekasi, 8 Agustus 1992.
(Ism, Sumber: uinjkt.ac.id)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang