Estradivari, Hijaber `Ratu Ekspedisi Bawah Laut`

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 12 Maret 2016 07:03
Estradivari, Hijaber `Ratu Ekspedisi Bawah Laut`
Sadar tinggal di Jakarta yang tentu lingkungannya tidak sehat, Estra memutuskan terjun ke dunia konservasi. Dia memilih fokus pada pemulihan lingkungan laut.

Dream - Konservasi bawah laut selama ini mungkin menjadi bidang yang menakutkan bagi sebagian besar orang. Terlebih kaum hawa, sehingga tidak banyak yang mau menggeluti bidang ini.

Alasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari takut menyelam di kedalaman, tidak berani terkena air, dan lain-lain. Padahal, kondisi lingkungan terutama laut tengah mengalami kerusakan.

Alhasil, hampir sulit ditemukan sosok wanita yang mau berkecimpung di dunia konservasi. Hal ini membawa akibat banyaknya kaum adam yang menjalankan tugas konservasi bawah laut.

Tetapi, jawaban berbeda justru diucapkan oleh Estradivari. Wanita kelahiran Jakarta, 17 Juni 1981 ini malah memilih menekuni bidang ini. Uniknya, dia juga seorang hijaber.

" Saya tergerak untuk menerapkan ilmu pengetahuan untuk konservasi," ujar Estra saat berbincang dengan Dream melalui sambungan telepon, Jumat, 11 Maret 2016.

Ketertarikan Estra pada Marine Conservations Science muncul sekitar 17 tahun lalu. Dia menjadi mahasiswa jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan di Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 1999. 

Ada beberapa alasan yang mendasari keputusan Estra mengambil jurusan tersebut. Pertama, dia punya hobi berenang sehingga air bukan menjadi hal yang baru bagi Estra.

" Alasan lain, karena tinggal di Jakarta yang tentu lingkungannya tidak sehat. Udara yang saya hirup terkena polusi, dan lain sebagainya membuat saya merasa perlu berbuat sesuatu kepada alam," ucap dia.

Sayangnya, jurusan ini juga tidak banyak peminat. Namun begitu, Estra membulatkan niat untuk berkuliah dan mendalami ilmu konservasi bawah laut tersebut.

" Pada tahun yang sama, Pemerintah membentuk Kementerian Kelautan. Itu menjadi salah satu bahan pertimbangan saya," ucap dia.

Saat berkuliah, Estra mengaku sering terlibat proyek penelitian para pengajarnya. Karena menggeluti dunia bawah laut, maka menyelam menjadi kemampuan utama yang harus dikuasai.

" Saya sudah menyelam ke banyak tempat di Indonesia," kata dia.

Lantaran banyak digeluti pria, Estra semakin tertantang untuk mendalami bidang ini. Bagi dia, keterlibatan dalam upaya konservasi bawah laut tidak sekadar mencari kepuasan, tetapi menjadi ajang penyadaran bagi para wanita.

" Secara keseharian, wanita itu menjaga rumah. Dia berurusan dengan segala hal yang berkaitan dengan lingkungan, seperti air, sampah, dan lain-lain. Sementara pria lebih banyak menghabiskan perhatian pada pekerjaan. Jadi kerusakan lingkungan itu, wanita yang dapat merasakan secara langsung," ucap dia.

Selain itu, kata Estra, faktor kebijakan juga menjadi penghalang kaum wanita untuk melibatkan diri. " Selama ini, banyak kebijakan pemerintah yang kurang melihat dari sisi wanita," kata Estra.

Pengalaman Estra di bidang konservasi bawah laut tidak bisa dibilang sedikit. Dia pernah aktif di sejumlah lembaga baik nasional maupun dunia yang memusatkan perhatian pada isu seputar lingkungan.

Dia sempat bergabung dengan UNESCO dan bekerja di lembaga tersebut selama tiga tahun. Tetapi, Estra merasa tidak cocok lantaran lebih banyak menghabiskan waktu bekerja di dalam ruangan.

" Saya butuh pengalaman lapangan. Akhirnya, pada 2013 saya memutuskan bergabung dengan WWF (World Wide Fund)," kata dia.

Keputusan Berhijab

Sebagai seorang peneliti, Estra lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan. Dia pun menyadari lingkungan bekerjanya lebih banyak didominasi kaum pria.

Tetapi, terbersit keinginan dalam benaknya untuk berhijab sekitar 1,5 tahun lalu. Keinginan itu muncul lantaran kesadaran untuk menjalankan perintah agama.

" Saya ingin menjadi lebih baik," kata dia.

Estra mengaku sempat merasa risih bekerja di lapangan, apalagi di sekelilingnya adalah para pria. Dia harus berhadapan dengan medan yang sulit dan terkadang tidak ada fasilitas untuk buang hajat.

Selain itu, Estra mengaku memang kerap menghadapi sejumlah kendala di lapangan, seperti pakaian selam yang dibuat sesuai dengan postur tubuh dan lain sebagainya. Meski begitu, Estra lebih menganggap kendala itu muncul dari dalam dirinya, bukan dari lingkungan kerjanya.

" Saya anggap saja itu sebagai tantangan," ucap Estra.

Lebih lanjut, Estra mengatakan sudah saatnya wanita melibatkan diri dalam upaya konservasi alam. Bagi dia, hijab bukan penghalang wanita untuk beraktivitas.

" Semua butuh penyesuaian," tutup dia.

Beri Komentar