Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Leslie Binns (INdia Times)
Dream - Tindakan heroik dilakukan oleh seorang pendaki Gunung Everest. Dia rela kembali turun untuk menolong seorang perempuan yang tengah sekarat, padahal 500 meter lagi sudah sampai ke puncak.
Leslie Binns. Dialah pendaki itu. Dia nyaris saja menjejakkan kaki di puncak gunung dengan ketinggian 8.850 meter itu. Kala itu, dia segera menggapai mimpi seumur hidupnya, sampai ke puncak Everest.
Matanya bahkan dengan jelas melihat pucuk gunung. Tapi, saat perjalanan menuju puncak kurang 500 meter lagi, veteran perang Inggris ini mendengar teriakan seorang perempuan.
Dia memutuskan untuk kembali turun. Memenuhi tugas mulia. Mencari sumber suara, dan menyelamatkan perempuan tersebut. Dan benar saja, di bawah, dia menemukan perempuan asal India, Sunita Hazra, dengan kondisi sangat memprihatinkan.
“Aku membantu dia bangkit dan melihat regulator oksigennya. Ternyata kosong,” kata Binns, sebagaimana dikutip Dream dari laman India Times.
Saat perjalanan turun, mereka bertemu dengan pendaki lain yang terluka. Para pendaki itu kelelahan, namun karena kelelahan, mereka tak bisa membawa serta pendaki yang terluka tersebut.
Binns mengaku sangat bangga bisa menyelamatkan Sunita. “Aku sangat bangga bisa membantu Sunita. Aku berharap bisa melakukannya lagi.”
Tapi dia punya penyesalan yang amat dalam. Apakah karena tidak bisa mencapai puncak Gunung Everest?
© Dream
Dream - Ternyata bukan. Dia sangat menyesal karena tidak bisa membawa serta pendaki lain yang dia temui dalam kondisi menangis dan terluka.
“Aku sungguh menyesal tidak bisa melakukan apapun untuk pendaki itu. Tapi aku tidak punya apa-apa yang tersisa malam itu dan aku mencoba sebisaku untuk menyelamatkannya tapi dia tidak bisa dipindahkan,” kata Binns.
Selama berkarier di militer, Binns bertugas di sejumlah wilayah, mulai Bosnia, Irak, dan Afghanistan. Dia telah menerima dua medali, termasuk dari Ratu Inggris.
Binns berangkat dari Nepal pada 4 April. Dia dijadwalkan sampai ke puncak Everest pada 22 Mei 2016. Namun, karena keputusan mulia itu, Binns tak bisa sampai ke puncak, seperti impian yang sudah lama dia simpan.
“Tentu aku sedih karena aku tidak bisa mendaki puncak. Tapi aku bahagia karena telah menyelamatkan jiwa. Aku telah menerima pesan dari banyak orang. Ini terasa indah,” kata Binns.
© Dream
Dream - Dan rupanya, perempuan yang diselamatkan Binns itu bukan wanita sembarangan. Dialah perempuan pertama dari suku Bengali pertama yang sampai ke puncak Everest.
“Aku berutang nyawa padanya. Aku bisa kembali ke rumah untuk bertemu dengan anak saya. Apa lagi yang bisa saya katakan?” tutur Sunita. (Ism0
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Sambut Tren Warna 2027, JOTUN Hadirkan 24 Warna dalam Koleksi JOURNEYS

Sering Mengalami Suduken Saat Olahraga? Ini Penyebab dan Cara Cepat Meredakannya

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'