Ketentuan Nama Makruh untuk Anak Menurut Islam

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 17 Agustus 2018 18:03
Ketentuan Nama Makruh untuk Anak Menurut Islam
Dalam Islam, nama bukan sekadar penanda.

Dream - Setiap nama adalah doa yang disematkan orangtua pada anak-anaknya. Para orangtua dianjurkan untuk memberikan nama yang baik.

Dalam Islam, sebuah nama memberikan pengaruh terhadap penyandangnya. Nama yang baik diyakini dapat menghadirkan kebaikan kepada si anak.

Rasulullah Muhammad SAW menyatakan dalam salah satu hadis, nama terbaik adalah Abdullah. Nama ini bermakna penghambaan secara murni hanya kepada Allah SWT.

Rasulullah juga memperingatkan akan umat Islam berhati-hati memberikan nama. Ada sejumlah nama yang dimakruhkan karena membawa dampak tidak baik.

Dikutip dari bincangsyariah, ketentuan pertama mengenai nama adalah tidak mengandung makna keberkahan ataupun menimbulkan optimisme. Ini agar tidak terjadi ganjalan apabila memanggil pemilik nama sementara orangnya tidak ada.

Ketentuan ini tertuang dalam hadis riwayat Muslim, dari Samurah bin Jundub.

" Telah bersabda Rasulullah SAWm 'Perkataan yang paling dicintai oleh Allah ada empat, Subhaanallaah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallaah, dan Allaahu Akbar. Tidak masalah yang mana di antara kalimat itu akan engkau mulai. Dan janganlah engkau namai anakmu dengan Yasaar, Rabaah, Najiih, dan Aflah. Sebab, engkau nanti akan bertanya, 'Apakah ia ada di tempat?' Jika ternyata tidak ada, maka akan dijawab, 'Tidak ada'."

Maksudnya, apabila seorang anak dinamai Rabah yang artinya 'beruntung' dan ada yang mencarinya, tentu akan ada pertanyaan, 'Apakah Rabah di rumah?' Jika si anak tidak ada, maka orang yang di rumah menjawab 'Rabah tidak ada.' Secara tidak langsung, orang yang menjawab pertanyaan yang mencari anak itu menyatakan 'keberuntungan tidak ada.'

Nama lainnya yaitu yang mengandung tazkiyah atau pujian terhadap diri sendiri. Hal ini tertuang dalam sabda Rasulullah SAW diriwayatkan Bukhari dari Abu Hurairah RA.

" Bahwasannya Zainab dulu bernama Barrah. Maka pernah dikatakan padanya, ''Ia telah men-tazkiyah-i (menganggap suci) dirinya sendiri'. Maka Rasulullah SAW merubah namanya menjadi Zainab."

Imam At Thabari dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan ada tiga ketentuan nama yang makruh dipakai. Ketiganya yaitu nama-nama yang mengandung makna tazkiyah pada diri sendiri, bermakna buruk, atau mengandung celaan.

Ketentuan lain, nama yang dimakruhkan adalah nama malaikat. Sebab, dikhawatirkan menimbulkan kesyirikan karena menganggap malaikat adalah anak-anak Allah.

Selengkapnya...

 

1 dari 2 halaman

Ibadah Sunah Atau Menuntut Ilmu, Mana Didahulukan?

Dream - Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan salah satu hal yang ditekankan. Bahkan ada jaminan ditinggikan derajat seseorang apabila dia menuntut ilmu.

Di sisi lain, ada juga anjuran untuk memperbanyak ibadah sunah. Amalan tersebut mengandung pahala yang bisa mengiringi pahala ibadah wajib.

Apabila dalam waktu yang serba terbatas, mana yang harus didahulukan antara menjalankan ibadah sunah atau menuntut ilmu?

Dikutip dari NU Online, Imam An Nawawi dalam kitab Al Majmu' Syarh Al Muhadzdzab mengkaji persoalan ini secara rinci. Dalam pandangan Imam An Nawawi, menuntut ilmu lebih baik dari ibadah sunah baik sholat maupun puasa.

Imam An Nawawi menukil riwayat Khatib Al Baghdadi mengenai keutamaan menuntut ilmu. Apalagi jika dibandingkan dengan ibadah yang hanya bermanfaat bagi orang yang mengajarkannya saja.

Salah satunya adalah riwayat Ibnu Majah.

" Satu orang faqih lebih ditakuti setan ketimbang seribu ahli ibadah."

Selain itu, ada banyak riwayat yang menunjukkan keutamaan orang berilmu. Contohnya, hadis yang berbunyi demikian.

" Majelis fikih lebih baik ketimbang ibadah enam puluh tahun."

Berangkat dari sejumlah riwayat tersebut, Imam An Nawawi mengambil kesimpulan berikut.

" Ulama salaf sepakat bahwa menuntut ilmu lebih utama ketimbang ibadah sunah, semisal puasa, sholat, tasbih, dan ibadah sunah lainnya. Di antara dalilnya adalah, selain yang disebutkan di atas, ilmu bermanfaat bagi banyak orang, baik pemiliknya maupun orang lain, sementara ibadah sunah yang disebutkan (manfaatnya) khusus bagi orang yang mengerjakan saja."

Selengkapnya...

2 dari 2 halaman

Keutamaan dan Amalan 10 Hari Pertama Zulhijjah

Dream - Sebagai satu dari empat bulan mulia, banyak amalan di bulan Dzulhijjah yang bisa dijalankan setiap muslim. Dzulhijjah memang memiliki banyak keutamaan. 

Selain dianjurkan menjalanan puasa Dzulhijah, bulan terakhir dalam kalender hijrian ini juga memiliki keutamaan pada 10 hari pertama. Sering disebut Bulan Haji,  tersebut.

Syeikh Wahbah Al Zuhayli dalam kitabnya Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu menukil sebuah hadis dari Jabir bin Abdullah. Dalam hadis tersebut, Rasulullah MuhammadSAW bersabda,

" Hari yang paling tuama di dunia adalah hari sepuluh Zulhijjah."

Ibnu Hajar Al Asqalani sebagaimana dikutip Syeikh Wahbah Al Zuhayli, memberikan penjelasan mengenai diutamakannya Dzulhijjah. Salah satunya adalah amalan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

" Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya 10 hari (pertama) Zulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk yaitu sholat, puasa, sedekah, dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain."

Keutamaan tersebut dapat diraih dengan menjalankan ibadah. Beberapa di antaranya yaitu haji.

Bulan ke-12 dalam sistem penanggalan Hijriah ini dinamai Zulhijjah karena syariat haji berlaku hanya di bulan ini. Hal tersebut ditegaskan dalam Surat Ali Imron ayat 97.

" Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam."

Berikutnya, memperbanyak amalan sholeh. Bisa dengan puasa Dzulhijah, sholat sunah, zikir, baca Alquran, ataupun bersedekah.

Dalam hadis riwayat Bukhari dalam Ibnu Abbas RA, Rasulullah Muhammad SAW bersabda,

" Tiada hari-hari yang amalan sholeh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.' Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?' Rasulullah SAW menjawab, 'Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikit pun'."

Kemudian, bagi yang berkurban tidak mencukup rambut maupun memotong kuku. Hal ini khusus bagi orang yang berkurban.

Dalam hadis riwayat Muslim dari Ummu Salamah RA, Rasulullah SAW bersabda,

" Jika telah masuk sepuluh hari pertama Zulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia mengambil rambut dan kulitnya sedikitpun."

Masih banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan di bulan ini. Untuk mengetahui apa saja, simak pada tautan ini.

Beri Komentar