Demam Tinggi Saat Hamil, Seberapa Bahaya?

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 8 Agustus 2022 08:12
Demam Tinggi Saat Hamil, Seberapa Bahaya?
Ada banyak pemicu demam saat hamil, mulai yang ringan hingga serius. Penting bagi ibu hamil untuk mengetahui apa yang harus dilakukan.

Dream - Demam bisa terjadi ketika tubuh terpapar virus, bakteri atau saat mengalami infeksi. Rasanya sangat menyiksa, menggigil, sakit kepala, hingga ngilu di seluruh tubuh.

Mengalami demam saat hamil, tentunya bukan hanya menyiksa tapi juga menimbulkan kecemasan. Bukan hanya kondisi tubuh ibu yang dikhawatirkan tapi juga kesehatan janin dalam kandungan.

Ada banyak pemicu demam saat hamil, mulai yang ringan hingga serius. Penting bagi ibu hamil untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan penyebab demam ketika hamil.

Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Sebanyak 10 persen ibu hamil mengalami infeksi saluran kemih (ISK). Penyakit ini terjadi ketika ada bakteri masuk ke sistem saluran kemih dan berkembang biak. Sebagian besar ISK tidak serius jika segera diobati dengan antibiotik. Gejala ISK ini adalah demam dan sakit saat buang air kecil.

" Jika tidak diobati, infeksi kandung kemih dapat menyebar ke ginjal dan menyebabkan berbagai komplikasi. Seperti persalinan prematur, bayi berat lahir rendah, dan sepsis," kata Alyssa Dweck, M.D., seorang spesialis kandungan, dikutip dari Parents.

 

1 dari 5 halaman

Influenza

hamil© Shutterstock

Demam menggigil, nyeri, batuk, mual, dan muntah bisa juga menandakan influenza. Ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi terkena flu dan menjadi sakit parah karenanya, karena sistem kekebalannya lebih rendah.

" Bagaimana cara mengetahui apakah itu flu atau hanya pilek? Flu datang dengan cepat dan gejalanya lebih parah daripada pilek. Jika menduga terkena flu, segera temui dokter," ujar Alyssa.

2 dari 5 halaman

Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)

Kita semua pernah menderita infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas, yang meliputi sinus, saluran hidung, faring, dan laring. Gejalanya sangat mirip dengan flu, serta pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan kesulitan bernapas.

Ibu hamil© Shutterstock

Dokter Dweck menekankan bahwa infeksi saluran pernapasan atas tidak seserius flu dan biasanya sembuh secara spontan. Gejala biasanya berlangsung dari 3 hingga 14 hari, dan dapat mengobatinya di rumah. Jika masih sakit mungkin mengalami infeksi yang lebih serius (sinusitis, bronkitis, radang tenggorokan, atau pneumonia), jadi penting untuk menghubungi dokter.

 

3 dari 5 halaman

Korioamnionitis

Selain demam tinggi dan menggigil, infeksi bakteri pada selaput yang mengelilingi janin (korion dan amnion) dan cairan ketuban ini dapat menyebabkan keringat dingin, detak jantung yang cepat, rahim yang lembut, dan keputihan yang tidak biasa.

ibu hamil© Shutterstock

" Jika ibu hamil memiliki infeksi ini, biasanya diberi antibiotik dan dokter bisa segera mengeluarkan bayi. Bayi akan diperiksa untuk infeksi dan diobati dengan antibiotik juga," kata Alyssa.

Sumber: Parents

4 dari 5 halaman

Fakta Soal Pengapuran Plasenta yang Penting Diketahui Ibu Hamil

Dream - Hidup janin dalam rahim sangat bergantung pada plasenta. Organ ini tumbuh seiiring tumbuhnya janin dan berfungsi memasok oksigen serta nutrisi janin dalam kandungan.

Letak plasenta berada di dinding rahim dan dalam beberapa kondisi bisa bermasalah. Salah satu masalah yang kerap tak disadari adalah pengapuran plasenta. Masalah pengapuran plasenta bisa terjadi karena adanya penumpukan kalsium di dalam plasenta.

“ Jaringan plasenta berubah menjadi lebih keras secara bertahap. Kondisi ini biasanya terjadi saat trimester akhir atau ketika lewat dari perkiraan lahir,” kata dr. Devia, dikutip dari KlikDokter.com.

Pengapuran plasenta merupakan kondisi yang normal. Kondisi ini menjadi bagian dari proses penuaan alami yang terjadi ketika usia plasenta mendekati hari kelahiran.

 

5 dari 5 halaman

Ketahui Faktor Risikonya

Menurut dr. Devia Irine, efek pengapuran plasenta bisa mengganggu perkembangan janin. Sebab, penumpukan kalsium dapat menyumbat pembuluh darah di plasenta.
Pengapuran plasenta berisiko menyebabkan berat badan janin tak bertambah (stagnan) akibat pasokan nutrisi dan oksigen yang terhambat.

Bayi juga bisa lahir dengan berat badan yang rendah atau kecil. Meski kondisi ini umum dialami oleh ibu hamil, ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya pengapuran plasenta, seperti:
- Kebiasaan merokok
- Mengalami hipertensi selama kehamilan
- Mengalami stres saat kehamilan
- Ada infeksi bakteri pada plasenta
- Solusio plasenta (kondisi plasenta terlepas dari dinding rahim)
- Terpapar radiasi
- Mengonsumsi obat-obatan tertentu selama kehamilan

Penting untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Terutama jetika sudah memasuki trimester ketiga. Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Beri Komentar