© Pexels.com/Salah Ozil
DREAM.CO.ID - Semangkuk corn flakes mungkin terlihat seperti sarapan sederhana: serpihan jagung renyah yang disiram susu, lalu disantap sebelum memulai aktivitas. Namun, di balik makanan yang kini identik dengan sarapan praktis tersebut terdapat sejarah yang jauh lebih aneh. Corn flakes lahir dari gagasan tentang kesehatan, agama, pengendalian diri, bahkan upaya mengurangi apa yang pada masa itu dianggap sebagai dorongan seksual yang tidak diinginkan.
Nama John Harvey Kellogg menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Ia merupakan seorang penganut Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan dikenal sebagai pengelola Battle Creek Sanitarium di Michigan, Amerika Serikat. Tempat tersebut merupakan pusat kesehatan yang berkembang berdasarkan prinsip-prinsip kesehatan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
Kellogg dikenal memiliki pandangan yang sangat khas mengenai makanan dan kesehatan. Ia menjalani pola makan vegetarian dan menghindari kopi, teh, daging, rempah-rempah, serta makanan lain yang menurutnya terlalu merangsang tubuh. Ia meyakini makanan sederhana lebih sesuai dengan tubuh dan dapat membantu seseorang menjalani kehidupan yang lebih sehat dan terkendali. Dari sinilah cerita mengenai hubungan corn flakes dan masturbasi bermula.
Pada pertengahan abad ke-19, pola makan masyarakat kelas atas di Inggris dan Amerika Serikat bisa sangat berlebihan. Sarapan dapat terdiri atas daging panggang, pastry, roti, daging olahan, bahkan steak. Saat itu, pilihan sereal sarapan juga belum seperti sekarang. Oat panas merupakan salah satu makanan yang tersedia, tetapi belum ada industri sereal sarapan modern seperti yang dikenal saat ini.
Bagi Kellogg, kebiasaan makan semacam itu bukan sekadar persoalan nutrisi. Ia menganggap makanan yang terlalu mewah atau merangsang dapat mendorong perilaku yang menurut pandangan moral dan agamanya tidak baik.
Masturbasi menjadi salah satu hal yang secara terbuka ia anggap sebagai kebiasaan buruk. Pandangan tersebut berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Karena itu, ia mendorong pola makan yang hambar dan tidak merangsang sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang diyakininya.
Corn flakes kemudian muncul dalam konteks gagasan tersebut. Makanan sederhana berbahan jagung dianggap sesuai dengan prinsip diet yang dianut Kellogg. Dengan mengubah kebiasaan sarapan, ia berharap masyarakat juga menjalani gaya hidup yang lebih terkendali. Namun, di sinilah muncul salah satu mitos paling terkenal mengenai sejarah corn flakes.
Klaim yang sering beredar di internet menyebut Kellogg sengaja menciptakan corn flakes sebagai “ sarapan antikemasturbasian”. Bahkan, ada anggapan bahwa sereal tersebut sejak awal dipasarkan secara khusus untuk mencegah masturbasi.
Menurut Snopes, klaim itu bisa disebut benar sekaligus salah. Benarnya, pandangan Kellogg mengenai masturbasi memang nyata dan gagasannya mengenai makanan hambar berkaitan dengan upaya mengendalikan dorongan seksual. Ia memang percaya bahwa makanan tertentu dapat merangsang tubuh dan sebaiknya dihindari.
Namun, tidak tepat jika dikatakan bahwa Kellogg secara resmi memasarkan corn flakes dengan label atau slogan “ anti-masturbatory morning meal”. Frasa tersebut tidak pernah digunakan Kellogg untuk memasarkan produknya.
Dengan kata lain, hubungan antara corn flakes dan upaya mencegah masturbasi lebih tepat dipahami sebagai bagian dari filosofi kesehatan dan moral Kellogg, bukan sebagai slogan pemasaran resmi produk tersebut.
Kisah corn flakes menunjukkan bagaimana makanan dapat lahir dari gagasan yang jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan perut. Bagi Kellogg, perubahan menu sarapan merupakan bagian dari proyek untuk mengubah gaya hidup masyarakat.
Ia memandang makanan sederhana sebagai cara untuk menjaga kesehatan sekaligus mengendalikan tubuh dan perilaku. Gagasan tersebut mungkin terdengar asing bagi masyarakat modern, tetapi pada masanya berkaitan erat dengan keyakinan agama dan pandangan kesehatan yang dianutnya.
Ironisnya, makanan yang awalnya terkait dengan gagasan pengendalian diri itu kemudian berkembang menjadi salah satu jenis sereal sarapan yang dikenal luas. Corn flakes akhirnya tidak lagi dipahami sebagai bagian dari kampanye moral tentang kesederhanaan makanan, melainkan sebagai makanan praktis yang menghiasi meja sarapan di berbagai tempat.
Sejarahnya pun menjadi salah satu cerita paling tidak biasa dalam dunia makanan: sebuah sereal yang kemudian dikenal luas ternyata memiliki akar pada pertemuan antara agama, kesehatan, moralitas, dan gagasan tentang bagaimana makanan dapat memengaruhi perilaku manusia.
Advertisement
Seluruh Sektor Kompak Menguat, IHSG Tancap Gas di Penutupan Sesi I

Refuse Derived Fuel (RDF), Saat Sampah Jadi Bahan Bakar Alternatif

Perusahaan Milik Orang Terkaya Indonesia Bakal Rekrut 1.000 Pegawai Baru

Sempat Terpeleset 20 Menit, IHSG Bergerak Menguat di Paruh Pertama Perdagangan

Sosok 2 Orang Terkaya Indonesia yang Masuk Wantimpres Presiden Prabowo


5 Cara Membantu Tubuh Mengeluarkan Mikroplastik, Bisa Dimulai dari Konsumsi Makanan Bergizi

Alkimia: Ilmu Kuno yang Dipelajari Berabad-Abad, Adakah Hubungannya dengan Kimia Modern?

Teh Panas atau Es, Mana yang Lebih Banyak Mengandung Antioksidan?

Benarkah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan? Studi Ungkap Jawabannya Tak Sesederhana Itu


Seluruh Sektor Kompak Menguat, IHSG Tancap Gas di Penutupan Sesi I

Tuban dan Canggu Ada di Jawa dan Bali, Mengapa Nama Tempatnya Bisa Sama?