Harga Masker di Indonesia Tak Masuk Akal Disorot Media Asing

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 11 Februari 2020 14:00
Harga Masker di Indonesia Tak Masuk Akal Disorot Media Asing
Harga jual masker di Indonesia disebut jauh lebih mahal dari emas.

Dream - Wabah virus corona menimbulkan kekhawatiran di banyak negara. Demikian pula dengan Indonesia.

Masyarakat pun merespons wabah yang merebak di Wuhan, China, dan mulai menyebar ke sejumlah negara itu dengan melakukan upaya antisipasi, seperti mengenakan masker. Dampaknya, pasokan masker di pasaran, khususnya untuk jenis N95, semakin menipis karena banyaknya permintaan.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh sejumlah pedagang untuk meraup keuntungan tak wajar. Fakta tersebut bahkan menjadi sorotan media asing.

Straits Times menurunkan laporan mengenai ketidakwajaran harga jual masker di Indonesia dengan tajuk " Coronavirus: Price of a box of N95 masks cost more than a gram of gold in Indonesia" . Media berbasis di Singapura ini menyebut masker N95 dijual dengan harga yang tidak masuk akal.

" Harga satu kardus N95 berisi 20 masker di Pasar Pramuka, yang merupakan pasar jual beli bahan farmasi dan obat-obatan terbesar di Jakarta, telah meningkat tujuh kali lipat menjadi Rp1,5 juta," demikian laporan tersebut. 

Media tersebut menyatakan harga itu jauh lebih mahal dari emas ukuran 1 gram. Di Indonesia, rata-rata emas 1 gram dijual pada kisaran Rp750 ribu hingga Rp800 ribu.

1 dari 5 halaman

Lonjakan Harga Tak Wajar

Lonjakan harga terjadi di tengah kasus mewabahnya virus corona yang awalnya muncul di Wuhan, China. Padahal, belum ada satupun kasus pasien terjangkiti virus corona di Indonesia.

Permintaan akan masker meningkat tajam. Banyak toko obat dan apotek sampai kehabisan stok masker.

Lonjakan harga juga terjadi pada masker biasa. Saat ini, harga satu kotak berisi 50 masker mencapai Rp275 ribu sedangkan normalnya dijual Rp30 ribu.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritik keras pemerintah lantaran tidak melakukan apa-apa terkait masalah ini. YLKI juga meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggelar penyelidikan terkait kenaikan harga masker yang tidak wajar tersebut.

" Kami meminta KPPU dan polisi mengambil tindakan tegas untuk menghentikan pihak manapun yang bertindak tidak bertanggung jawab," kata Ketua YLKI, Sudaryatmo.

Dia mengatakan pemerintah seharusnya menetapkan harga jual tertinggi sebesar 30 persen dari harga normal. Selain itu, juga menjatuhkan sanksi jika terdapat penjualan dengan harga di atasnya.

2 dari 5 halaman

Riset Harvard Sebut Virus Corona Telah Masuk Indonesia, Ini Kata Kemenkes

Dream - Kepala Badan Litbang Kesehatan Kemenkes Siswanto, mengaku sudah membaca hasil penelitian ilmuwan Universitas Harvard yang menduha virus Corona telah masuk ke Indonesia, namun tidak terdeteksi.

" Saya sudah baca penelitiannya," kata siswanto, dikutip dari Merdeka.com, Senin 10 Februari 2020.

Menurut dia, penelitian tersebut menggunakan model matematik melalui volume penerbangan antara Wuhan dan 26 negara lainnya.

Model itu dipakai untuk memprediksi dinamika penyebaran virus novel Corona berdasarkan seberapa besar orang lalu lalang. Sehingga, kata Siswanto, kalkulasi tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.

Apabila mengikuti model penelitian Harvard itu, tambah Siswanto, seharusnya sudah ada enam hingga tujuh kasus virus corona di Indonesia.

Meski demikian, kabar itu belum terbukti kebenarannya. " Kami sudah teliti dengan benar. Itu prediksi saja," ucap Siswanto.

3 dari 5 halaman

Cuaca Berpengaruh

Harvard University menganalisis jumlah penumpang yang terbang dari Wuhan ke destinasi-destinasi di seluruh dunia. Studi tersebut menemukan bahwa jumlah kasus virus Corona yang teridentifikasi di Indonesia maupun di Kamboja angkanya di bawah perkiraan.

Kecepatan persebaran virus corona juga diduga memiliki keterkaitan dengan kondisi iklim suatu negara. Ada anggapan bahwa pola seasonal virus novel Corona bisa jadi serupa dengan infeksi influensa dan SARS. Kedua kasus tersebut turun drastis pada Mei ketika suhu cuaca di China menghangat.

Pada negara-negara dengan suhu serupa China dan AS, musim flu biasanya mulai Desember dan mencapai puncaknya pada Januari atau Februari dan menurun setelahnya. SARS berakhir pada 2003 ketika musim panas utara muncul.

Sumber: Merdeka.com

4 dari 5 halaman

Suhu Indonesia Tak Cocok untuk Perkembangan Virus Corona

Dream - Ketua Umum Pokja Infeksi Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Erlina Burhan, mengatakan, ada kemungkinan suhu di Indonesia memengaruhi perkembangan virus corona Wuhan (2019-nCoV).

" Virus ini berkembang biak pada suhu yang dingin dengan kelembapan yang rendah. Kalau Indonesia dingin atau enggak? Indonesia enggak, ya. Kelembapannya rendah atau tinggi, tinggi ya, 80 persenlah. Ini bukan tempat yang baik untuk virus berkembang biak," kata Erlina, dikutip dari Liputan6.com, Senin 10 Februari 2020.

Menurut Erlina, virus corona tidak dapat aktif seandainya terkena sinar ultraviolet dari matahari. Meski demikian, bukan berarti Indonesia benar-benar terlepas dari ancaman virus. Erlina berharap masyarakat tetap melakukan pencegahan penularan penyakit. Salah satunya rutin mencuci tangan dan menggunakan masker.

Ketua Umum PP PDPI, Agus Dwi Susanto, mengatakan, virus corona merupakan salah saju jenis virus yang menjadi penyebab SARS. " Kalau dari data SARS, virus corona SARS itu bisa bertahan sekitar dua hari. Tapi, kalai di pemanasan, biasanya cepat mati," ujar Agus.

Sumber: Liputa6.com/Giovani Dio Prasasti

5 dari 5 halaman

Beri Peringatan Virus Corona, Dokter Dituduh Sebar Hoax

Dream - Pada 30 Desember 2019, Li Wenliang membuat heboh grup alumni kampus kedokterannya di aplikasi perpesanan WeChat yang populer di China.

Dia menulis tujuh pasien dari pasar seafood lokal telah didiagnosis dengan penyakit mirip SARS dan dikarantina di rumah sakit tempatnya bekerja.

Li menjelaskan bahwa, menurut sebuah tes yang telah dilihatnya, penyakit itu disebabkan virus corona - virus yang masih satu keluarga dari sindrom pernafasan akut parah (SARS).

Kenangan buruk tentang SARS mungkin masih menghantui warga China sejak wabah itu membunuh ratusan orang pada 2013. Pada awalnya kasus wabah SARS ditutup-tutupi oleh pemerintah China.

Demikian juga dengan kasus virus corona baru yang juga disebut virus 2019-nCoV, yang sekarang dinyatakan sebagai darurat kesehatan global oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Beri Komentar