Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Dream - DKI Jakarta mengalami banjir di sejumlah lokasi akibat hujan yang terjadi sejak Senin malam 24 Februari 2020 hingga Selasa pagi, 25 Februari 2020.
Banjir terjadi hampir merata di lima wilayah Jakarta. Ketinggian air juga bervariasi. Dari mulai 10 cm sampai dengan di atas 1,5 meter.
Namun, selain masalah banjir, DKI Jakarta juga dianggap sebagai salah satu ibukota paling tercemar di dunia, menurut 2019 World Air Quality Report yang diterbitkan pada Selasa, 25 Februari 2020.

Laporan dibuat oleh jaringan pemantau kualitas udara terbesar di dunia bernama IQAir AirVisual. Dalam laporannya, IQAir AirVisual menggunakan data dari pemerintah, perusahaan, kelompok masyarakat sipil dan perangkat pengukur yang dimiliki warga.
Jakarta bahkan menggantikan Beijing, yang dalam beberapa tahun sebelumnya dikenal sebagai ibukota negara paling tercemar di dunia.
Udara di Jakarta sekarang 20 persen lebih tercemar dibandingkan dengan kualitas udara di ibukota China tersebut.
Menurut pengukuran partikel menggunakan PM2.5, Jakarta berada di peringkat ke-5 dalam daftar 10 ibukota negara paling tercemar di dunia. PM2.5 adalah partikel yang sangat kecil hingga bisa menembus jauh ke dalam paru-paru.
Disebutkan bahwa sejak 2017, tingkat polusi di Jakarta meningkat sebesar 66%, menjadikannya yang terburuk di Asia Tenggara.
Polusi partikel ini bisa menyebabkan masalah kesehatan. Termasuk asma, kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, dan bahkan diabetes.
Jenis polusi ini juga bisa membunuh lebih banyak orang sebanyak 7 juta per tahun daripada masalah lingkungan lainnya.
Delhi, ibukota India, merupakan kota yang paling tercemar di dunia. Tingkat polusi udaranya melebihi skala indeks kualitas udara (AQI) Amerika Serikat pada tahun 2019.
Sementara ibukota Bangladesh, Dhaka, menjadi kota paling tercemar kedua setelah Delhi. Disusul oleh ibukota Mongolia, Ulaanbaatar dan Kabul di Afghanistan di peringkat tiga dan empat.
Ibukota Nepal, Kathmandu dan Hanoi di Vietnam menjadi kota paling tercemar ke 6 dan ke 7 dalam daftar 2019 World Air Quality Report.
Tiga ibukota paling tercemar berikutnya adalah Hanama di Bahrain, Beijing di China, dan Tashkent di Uzbekistan. Masing-masing menempati posisi delapan, sembilan, dan sepuluh.
Sumber: Eco-Business
Dream - Polusi udara sudah jadi bagian dari masyarakat perkotaan dan mereka yang tinggal di kawasan industri. Asap kendaraan dan asap pabrik jadi 'makanan' sehari-hari.
Kondisi tersebut sebenarnya bisa berujung fatal, terutama untuk anak. Sebuah penelitian dari Cincinnati Children's Hospital, Ohio, Amerika Serikat menunjukkan kalau anak-anak yang lebih sering terpapar polusi udara lebih rentan mengalami kecemasan, stres hingga melakukan bunuh diri.
Hasil penelitian itu kemudian diterbitkan oleh Environmental Health Perspectives yang menunjukkan bahwa anak-anak yang hidup di lingkungan kurang beruntung akan lebih rentan terpapar berbagai penyakit.
" Studi ini adalah yang pertama menunjukkan hubungan antara tingkat polusi udara luar ruangan harian dan peningkatan gejala gangguan kejiwaan, seperti kecemasan dan bunuh diri, pada anak-anak," ujar penulis Dr. Cole Brokamp, salah satu peneliti.
Meski demikian, ia mengakui kalau penelitian tersebut masih perlu pendalaman lebih lanjut mengenai polusi udara dapat mempengaruhi gejala anak melakukan bunuh diri.
" Fakta bahwa anak-anak yang tinggal di lingkungan yang miskin mengalami efek kesehatan yang lebih besar dari polusi udara dapat berarti bahwa pencemar dan stresor lingkungan dapat memiliki efek sinergis pada keparahan dan frekuensi gejala kejiwaan," ucap dia.
Ada dua analisa yang dilakukan Environmental Health Perspectives, pertama yang dapat membuat anak menjadi cemas yakni paparan dari lalu lintas kendaraan bermotor yang berlalu lalang setiap hari, terlebih ketika rumah anak tersebut berada di pinggi jalan dengan tingkat lalu lintas yang padat.

" Itu adalah studi pertama yang menggunakan neuroimaging untuk menghubungkan polusi lalu lintas dengan gangguan metabolisme pada materi abu-abu dan gejala kecemasan umum pada anak-anak yang sehat," kata dia.
Studi kedua, paparan polusi dengan aktivitas lalu lintas yang tinggi terbukti meningkatkan gejala kecemasan dan depresi pada anak usia 12 tahun.
" Secara kolektif, studi-studi ini berkontribusi pada semakin banyak bukti bahwa paparan polusi udara selama awal kehidupan dan masa kanak-kanak dapat berkontribusi pada depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya pada masa remaja," kata rekan penulis Dr Patrick Ryan.

Selain itu, polusi juga dapat meningkatkan penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan bentuk demensia lainnya, yang dikhawatirkan para ahli kesehatan. (mut)
(Sumber: Mirror.co.uk)
Dream - Kini kian banyak orang memakai masker pelindung mulut dan hidung agar terlindungi dari efek buruk polusi udara.
Tidak hanya itu, semakin buruknya kualitas udara membuat sebagian orang mulai mencari tahu jenis masker yang bisa melindungi dari efek buruk polusi.

Selain yang sering ditemui sehari-hari (simple mask), ternyata ada berbagai jenis masker lainnya yang bergantung pada kebutuhan.
Di antaranya adalah carbon mask, electrical air purifier mask, non electrical air purifier mask, full mask, half mask atau yang seperempat wajah, respiratory mask dan air supply mask.
Carbon mask mengandung filter karbon aktif untuk mengurangi paparan debu berukuran besar dan mengurangi bau tidak sedap.

Air purifier mask merupakan masker yang memiliki filter piece N95 dan mampu memfiltrasi partikel halus sampai 95 persen.
Respiratory mask berfungsi sama dengan air purifier mask yang mengandung KN95 dan memfiltrasi partikel halus sampai 95 persen.
Sedangkan, air supply mask dibuat khusus untuk memasok oksigen dan biasa dipakai di area pertambangan.
" Kalau kualitas udaranya baik sampai sedang, bisa pakai simple mask untuk menyaring partikel lebih besar dan menghindari distribusi infeksi. Tapi kalau kualitas udaranya buruk, disaranjan memakai respiratory atau air purifier mask," ujar Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Agus Dwi Susanto di Aston at Kuningan Suites, Jakarta Selatan, Senin, 5 Agustus 2019.
Namun, respiratory dan air purifier mask tidak dianjurkan untuk dipakai anak-anak di bawah 10 tahun, lansia di atas 50 atau 60 tahun maupun ibu hamil yang sensitif.
" Masker respiratory ini sangat ketat sehingga tidak nyaman untuk bernafas. Kalau terlalu lama dipakai bisa menyebablan keluhan nafas jadi terasa berat. Jadi, hanya bisa memakai simple mask," tutupnya.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Berapa Lama Harus Bisa Plank Sesuai Usia? Ini Patokan untuk Usia 18 hingga 60 Tahun ke Atas

7 Makanan yang Sering Dianggap Tidak Sehat, Padahal Kaya Nutrisi

Ingin Meningkatkan Rasa Mencitai Diri Sendiri? Coba Ubah Cara Mengingat Masa Lalu

Tuban dan Canggu Ada di Jawa dan Bali, Mengapa Nama Tempatnya Bisa Sama?


