Ilustrasi
Dream - Amalia Rehman sebelumnya adalah seorang Yahudi. Dia kemudian menjadi mualaf setelah kuliah psikologi di University of Chicago, Amerika Serikat 20 tahun yang lalu.
Meski keluarganya religius, tapi Amalia dan saudara laki-lakinya dibesarkan sebagai Yahudi tradisional yang tidak ortodoks. Saat usia 13 tahun, Amalia ingin menjadi orang yang lebih religius. Dia pun mempelajari banyak hal tentang agamanya. Namun dia tidak menemukan jawaban dari semua pertanyaannya. Saat kuliah, Amalia masuk kelas Talmud berharap bisa menemukan jawaban dari isi hatinya. Lagi-lagi, Amalia tidak menemukannya.
Hingga kini, teman-teman dan keluarganya masih beranggapan bahwa Amalia memeluk Islam karena bujukan. Namun, perjalanan Amalia menemukan Islam justru dimulai jauh sebelum itu, tepatnya setelah dia dan keluarganya pindah ke California. Dia menjalin pertemanan dengan sejumlah pria Arab yang biasa mengunjungi stan buah kering dan kacang-kacangan milik ayahnya di pasar rakyat San Jose. " Dahulu, saya memandang rendah orang Arab," kata Amalia. " Jika anda tumbuh di lingkungan Yahudi, anda akan berpikiran seperti itu. Hal itu sudah ditanamkan sejak masih anak-anak."
Meskipun perasaan itu mendarah daging, Amalia justru tertarik dengan kehidupan agama mereka. " Meski saya punya prasangka buruk terhadap mereka, tapi mereka tetap bersikap baik dan santun terhadap satu sama yang lain, termasuk saya." Melihat itu, Amalia ingin menjadi bagian dari mereka, ingin menjadi bagian saling memiliki atas sesuatu yang agung.
Suatu sore, Amalia dan teman-temannya menonton sebuah acara televisi yang memperlihatkan seekor bagal betina (hewan setengah kuda setengah keledai) melahirkan bayi bagal. Sang reporter mengatakan, itulah tanda-tanda hari kiamat. Pernyataan ini membuka pikiran Amalia terhadap sebuah aspek dalam Islam yang belum pernah dia ketahui sebelumnya –perjalanan untuk membuktikan kebenaran kitab Alquran. Bara api untuk menemukan jawaban atas keraguan dalam dirinya kembali menyala dan bergolak.
" Pendekatan Allah kepada setiap manusia benar-benar sangat sesuai. Saya menemukan jalan Allah dengan jalan keingintahuan, rasa haus akan ilmu pengetahuan, rasa haus akan rahasia kehidupan dan kematian, serta makna hidup."
Hingga suatu hari, dia mengutarakan niatnya untuk menjadi muslim. Keputusan itu membuat teman muslim Amalia sangat terkejut namun senang. Keluarganya, bagaimanapun juga, tidak senang dengan keputusannya itu. Meski keluarganya tidak mengetahui bahwa Amalia sudah mengucapkan syahadat, namun mereka melihat Amalia berteman dengan seorang spesial keturunan Arab.
Amalia dan laki-laki yang dikenal oleh keluarganya hanya sebagai 'si Arab' kemudian menikah selama enam tahun dan memiliki anak bernama Ilana. Kehidupan rumah tangga Amalia mendapat tantangan keras dari ibunya. Amalia mengatakan, semua orang yang mengenalnya menyebut dirinya orang gila. Ibunya tidak pernah berbicara lagi kepadanya dan meninggal beberapa tahun kemudian tanpa sempat berbaikan. " Ibunya Amalia membenci suami Amalia," kata ayahnya. " Ibunya adalah orang yang sangat Zionis dan anti Islam."
Memastikan apa yang terjadi dalam fase kehidupan tersebut sangat sulit bagi Amalia. Amalia tidak membahas masalah ayah Ilana atau apa yang terjadi di tahun-tahun tersebut dengan ayahnya.
Bertahun-tahun kemudian Amalia bertemu Habib, seorang muslim kelahiran Pakistan. Seiring berjalannya waktu dengan mengarungi mahligai pernikahan barunya, keyakinan Amalia kian berkembang.
Hubungan keluarga sedikit membaik tapi tetap kaku. Hubungan dengan saudara laki-lakinya dibatasi. " Dalam pikiran mereka hanya ada kata penghianatan. Mereka tidak melihatnya sebagai penemuan jati diri." kata Amalia.
Kisah Amalia, walaupun tidak umum, bukan merupakan hal yang aneh. Mohammed Ghounem, seorang Muslim kelahiran Mesir yang kini menetap di AS, mendirikan sebuah situs internet bernama " Jews for Allah" . Dia mengungkapkan bahwa anggotanya mencapai 400 orang, kebanyakan warga AS yang mengikuti jalan hidup mirip dengan Amalia.
" Keluarga dan teman-teman menghadapi masa yang sulit ketika ada kerabatnya yang berganti keyakinan dari Yahudi dan memeluk Islam." Kata Ghounem. " Banyak yang akhirnya kehilangan hubungan keluarga dan dukungan keuangan."
Dalam komunitas Yahudi, peristiwa perpindahan keyakinan menimbulkan beragam respons dari masyarakat. Rabbi Yosef Levertov dari Chabad House-Lubavich, sebuah jemaat ortodoks di universitas Texas di Austin, menyatakan hukum-hukum Yahudi sangat ketat mengenai pergantian keyakinan di mata Tuhan. " Hal tersebut tidak menggugurkan kewajiban mereka sebagai Yahudi. Mereka masih harus menjawab pertanyaan Tuhan."
Sementara Rabbi Samual Barth, yang mengepalai jemaat Agudas Achim di Austin, mengatakan bahwa Yahudi yang berpindah keyakinan dipandang sebagai orang yang hidup dalam kesalahan, namun mereka masih bisa dikuburkan di pemakaman Yahudi. Namun ada beberapa kasus yang dulunya merupakan kebiasaan yang ketat, kini sudah tidak dilakukan lagi. " Dahulu, orang-orang biasanya duduk dan melakukan shiva (perkabungan untuk orang yang meninggal) untuk Yahudi yang berpindah keyakinan, namun sekarang sudah tidak dilakukan lagi."
Secara keagamaan, berpindah keyakinan ke Islam dipandang oleh para pemuka Yahudi sebagai hal yang tidak terlalu serius, karena Islam sendiri adalah agama yang berTuhan satu. Jika seorang Yahudi berpindah ke agama yang berTuhan banyak, maka reaksi yang timbul akan jauh lebih keras.
Namun bisa juga sebaliknya. " Kaum Yahudi menaruh curiga terhadap Islam. Islam dipandang anti-Semit dan memerangi Israel," kata Barth. Levertov mengamini, dia menambahkan bahwa dirinya percaya dengan iklim perpolitikan sekarang, reaksi terhadap perpindahan keyakinan ke Islam akan lebih keras.
Namun Amalia melihat perpindahan agama bukan sesuatu yang menggabungkan dua hal yang berbeda. Dia melihatnya sebagai masalah keyakinan semata. " Itu seperti memisahkan masalah politik dengan keagamaan, seperti halnya memisahkan gereja dan negara. Kericuhan di Timur Tengah tidak ada hubungannya dengan memilih Islam sebagai keyakinan," katanya.
Mengenai masalah Timur Tengah, Yerusalem khususnya, menjadi masalah bagi Amalia. " Sebagai seorang Muslim, saya adalah pewaris Yerusalem, bukannya sebagai seorang Yahudi," kata Amalia. " Saya rasa Yahudi tetap harus mendapatkan tempat, namun Yerusalem harus berada di tangan kaum Muslim. Seperti halnya Mekkah."
Meskipun banyak hal yang rumit dalam hidupnya, Amalia menemukan kedamaian dalam dirinya. Dia telah menemukan agama yang tepat. " Lucunya, saya dulu berdoa saat usia 7 tahun, kini saya berusia 40 tahun. Sungguh jalan yang panjang untuk mendapatkan mimpi yang diinginkan semasa kecil." (Ism, Sumber: Way to Allah)