Pemandangan Memilukan Antrean Truk Angkut Jenazah Korban Corona di Italia

Reporter : Sugiono
Jumat, 20 Maret 2020 15:01
Pemandangan Memilukan Antrean Truk Angkut Jenazah Korban Corona di Italia
Belasan truk militer berjejer untuk mendapat giliran mengangkut mayat-mayat pasien Covid-19 di Bergamo, Lombardy.

Dream - Sebuah pemandangan yang memilukan sekaligus mencekam datang dari Italia yang menjadi negara Eropa dengan korban tewas akibat Covid-19 terbanyak setelah China.

Dilaporkan beberapa media Barat bahwa militer Italia ditugaskan untuk mengangkut mayat-mayat pasien Covid-19 yang jumlahnya terus meningkat.

Belasan truk militer berjejer untuk mendapat giliran mengangkut jasad pasien Covid-19 di Bergamo, Lombardy. Wilayah ini mencatatkan jumlah pasien Covid-19 tertinggi di Italia.

Truk militer dikerahkan setelah rumah sakit dan krematorium lokal di Lombardy kewalahan mengatasi meningkatnya jumlah kematian akibat Covid-19.

Peti mati korban tewas Covid-19 menumpuk di krematorium dan kamar mayat.© World of Buzz

" Krematorium di Bergamo bekerja dengan kapasitas penuh, selama 24 jam. Krematorium hanya bisa mengkremasi 25 orang dalam sehari," kata juru bicara krematorium.

1 dari 6 halaman

Pemandangan Mengerikan

Sementara itu, juru bicara militer Italia mengungkapkan bahwa 15 truk dan lebih dari 50 personil militer dikirim ke kota Bergamo yang 'dikepung' Covid-19 untuk membantu mengangkut jenazah para korban.

Belasan truk militer untuk mengangkut jenazah korban tewas Covid-19 di Italia.© World of Buzz

The Guardian melaporkan bahwa lebih dari 65 peti mati diangkut keluar dari Bergamo. Warga lokal yang melihat iring-iringan peti mati itu menggambarkannya sebagai 'salah satu foto paling menyedihkan dalam sejarah negara kita'.

Laporan lainnya menyebutkan, dalam satu hari saja, 93 warga Italia meninggal akibat Covid-19 dan 4.305 orang terinfeksi pada hari Rabu, 18 Maret 2020.

Dilansir Worldometer.info, kasus Covid-19 di seluruh Italia jumlahnya mencapai 41.035 kasus, dengan korban yang meninggal sebanyak 3.405 jiwa hingga Jumat, 20 Maret 2020.

(Sah, Sumber: World of Buzz)

 

 

2 dari 6 halaman

Hadiri Pernikahan, 31 Tamu Terinfeksi Virus Corona

Dream - Pernikahan Scott Maggs dan Emma Metcalf menjadi ajang penularan virus corona baru, Covid-19. Sebanyak 31 tamu dilaporkan positif terjangkit virus corona, termasuk wanita hamil dan anggota parlemen.

Scott Maggs dan Emma Metcalf mengundang 140 tamu ke pernikahan mereka di Tumbling Waters Retreat, Sydney, Australia, pada 6 Maret 2020. Selama 14 hari sejak hari istimewa itu, muncul 31 kasus corona yang dikaitkan dengan pesta pernikahan itu.

Pasangan itu mengetahui bahwa dua tamu mereka dinyatakan positif Covid-19 ketika mereka sedang berbulan madu di Maladewa.

Di antara orang yang positif terinfeksi virus corona adalah Andre Bragg, senator liberal untuk New South Wales. Ada pula Sally Hawach, putri pemilik perusahaan iklan John Singleton.

Sally saat ini sedang mengandung anak ke tiga. Dia khawatir menularkan penyakit ini kepada anak-anaknya, usia 2 dan 1.

" Anak saya yang berumur satu tahun juga menunjukkan tanda-tanda COVID dan sangat sakit," ucap Hawach dilaporkan The Daily Star.

 

3 dari 6 halaman

Isolasi Mandiri

Virus Corona by Shutterstock© (Foto: Shutterstock)

" Bayi perempuan saya menderita demam tinggi dan saya sangat lelah dengan sesak napas dan detak jantung yang cepat," ucap dia.

" Saya sangat sedih memikirkan kemungkinan telah menginfeksi siapa pun. Saya telah menghubungi semua orang yang telah berhubungan. Tapi tolong jika kamu telah berinteraksi dengan saya sejak 6 Maret atau kamu menunjukkan tanda-tanda sakit. Tolong mengisolasi diri," ucap dia.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengenalkan kebijakan menjaga jarak sosial.

Protokol baru menyerukan agar semua pertemuan antar orang per oranganan dibatasi. Scott juga telah menutup perbatasan untuk semua non-penduduk Australia.

 

4 dari 6 halaman

Tak Ada Hazmat, Dokter Indonesia Pakai Plastik Sampah Saat Tangani Pasien Corona

Tak Ada Hazmat, Dokter Indonesia Pakai Plastik Sampah Saat Tangani Pasien Corona© MEN

Dream - Dokter-dokter di rumah sakit rujukan untuk penanganan pasien Covid-19 di Indonesia, sedang sangat membutuhkan alat pelindung diri (APD). Salah satu perlengkapan yang sangat dibutuhkan adalah hazmat suit atau hazardous material suit.

Pakaian pelindung ini digunakan oleh dokter-dokter yang menangani pasien dengan level biohazard tinggi, seperti pasien Covid-19. Pada banyak rumah sakit, perlengkapan hazmat ini sangat terbatas, bahkan habis.

Sebuah fakta memilukan, diunggah oleh Mesty Ariotedjo, seorang model yang kini menjadi dokter spesialis anak di akun Instagramnya. Ia mengunggah foto rekan sejawatnya yang menangani pasien Covid-19 menggunakan plastik sampah untuk melindungi diri.

 

 

 

5 dari 6 halaman

Pertaruhkan Nyawa

Hal ini lantaran pasokan APD sangat sulit. Mesty pun mengungkap kalau para dokter sebenarnya mempertaruhkannya nyawa mereka sendiri saat menangani pasien tanpa perlindungan yang memadai.

Dokter gunakan plastik sampah untuk APD© Instagram Mesty Ariotedjo

(Foto: Instagram Mesty)

" Prihatin sekali melihat keadaan nyata di lapangan, rekan sejawat memakai alat tempur yang sangat tidak layak, kantong plastik sampah. Semua sejawat bekerja keras semampunya, bahkan membahayakan diri mereka sendiri. Sampai saat ini telah terdata di hotline @wecare.id laporan dari 54 rumah sakit dan puskesmas yang kekurangan alat pelindung diri. Sudah banyak dari pihak masyarakat yang bergerak sendiri melalui rekening pribadi, @kitabisacom, @wecare.id, dan lainnya," tulis Mesty.

 

 

 

6 dari 6 halaman

Desak Pemerintah

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu juga mendesak pemerintah untuk menjamin kelengkapan keamanan bagi tenaga medis yang berada di garda depan penanganan Covid-19.

Mesty Ariotedjo© dream.co.id

" Terus terang kami juga harus bekerja lebih keras untuk menemukan distributor yang menyediakan APD yang sesuai dan lengkap. Semoga @jokowi dan pemerintahannya juga dapat bergerak cepat untuk merealisasikan janji-janjinya. Jika ingin melibatkan relawan bahkan hingga mahasiswa kedokteran ke medan perang, jangan bahayakan mereka, pastikan kelengkapan alat pelindung diri dan keselamatan mereka. Karena jika tentaranya runtuh di medan, siapa yang akan menolong para pasien? Kami butuh APD segera dan cepat. Keselamatan kami tidak dalam hitungan hari atau minggu, tapi menit bahkan detik," ungkapnya.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More