Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Sebagian besar dokumentasi klinis menyatakan penularan Covid-19 terbesar terjadi di dalam ruangan. Tetapi, para ahli tetap menyatakan memakai masker di luar ruangan sangatlah penting.
Peluang meningkatnya penularan muncul pada kondisi di mana orang-orang berdiri berdekatan satu sama lain dan berbicara dalam waktu relatif lama. Seperti ketika pesta maupun kegiatan olahraga.
Banyak penelitian mencatat sejak awal pandemi Covid-19 terjadi, infeksi terjadi di dalam ruangan. Seperti dalam restoran, rumah, pabrik, kantor, dalam kereta api maupun pesawat.
Tetapi, terdapat satu studi yang terbit pada April mengidentifikasi kasus penularan Covid-19 di luar ruangan yang terjadi antara dua warga desa China. Dari analisis terhadap 25 ribu kasus yang belum semuanya dikaji secara independen, enam persen kasus dihubungkan dengan kondisi luar ruangan seperti event olahraga atau konser musik.
" Hampir tidak ada kasus yang dapat kami identifikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di luar ruangan," ujar Mike Weed, profesor dan peneliti pada Canterbury Christ Church University in the United Kingdom, selaku penulis artikel tersebut.
Data yang muncul mengindikasikan berada di luar ruangan lebih aman dibandingkan di dalam ruangan untuk aktivitas dan jarak yang sama. Para ahli yang terlibat dalam penelitian tersebut juga menyatakan risiko penularan jauh lebih rendah di luar daripada di dalam ruangan karena virus yang dilepaskan ke udara dapat dengan cepat menjadi encer melalui atmosfer.
Sebagai gambaran, para ahli membandingkan aerosol dengan asap rokok. Di mana asap rokok dapat segera lenyap ketika berada di udara.
Sejak Februari berbagai penelitian telah menunjukkan indikasi penularan melalui udara lewat tetesan mikroskopis (aerosol) tidak terlihat. Tetesan ini keluar dari tubuh manusia ketika berbicara, menyanyi, maupun bersin.
Tetesan terkecil mengapung di udara selama beberapa menit atau jam, tergantung pada ventilasi suatu ruangan. Di ruangan yang berventilasi buruk tetapi juga di luar antara dua bangunan tanpa sirkulasi udara, tetesan dapat menumpuk dan terhirup oleh orang yang lewat.
Dosis partikel virus yang diperlukan untuk menyebabkan infeksi tidak diketahui. Tetapi semakin besar dosisnya, " semakin besar kemungkinan terinfeksi," kata Steve Elledge, ahli genetika dan ahli virus dari Universitas Harvard di Negara Bagian Massachusetts, AS.
Linsey Marr, ahli penularan virus melalui udara dari Virginia Polytechnic Institute dan State University di Blacksburg, Virginia, AS, merekomendasikan untuk memakai masker di luar jika area tersebut ramai. " Atau Anda akan sering melewati orang, katakanlah, lebih dari satu per menit sebagai pedoman tetapi bukan aturan mutlak," kata Marr.
" Saat kami berjalan melewati orang-orang di luar, kami mungkin mencium bau asap yang mereka embuskan, setiap paparan singkat tunggal berisiko rendah, tetapi eksposur semacam itu mungkin bertambah seiring waktu," jelasnya.
“ Saran saya mengikuti prinsip kehati-hatian dan fakta bahwa memakai masker tidak membahayakan,” tambah Marr.
Di teras restoran, sekelompok ilmuwan merekomendasikan untuk menjaga jarak aman antara meja dan mengenakan masker saat tidak makan. Ada terlalu banyak variabel untuk menghitung risiko yang tepat di trotoar atau di taman, tergantung pada angin dan jumlah orang, juga matahari.
Sinar ultraviolet membuat virus mati, tetapi kecepatan penularan virus bisa terjadi mulai dari beberapa menit hingga satu jam bergantung pada intensitas matahari.
Oleh karena itu dalam hal kesehatan masyarakat, para ahli percaya pada akhirnya lebih efisien untuk memiliki pedoman yang sederhana dan jelas.
" Memiliki kesepakatan universal untuk terus menggunakan masker adalah strategi yang paling aman," jelas Kristal Pollitt, profesor epidemiologi dan teknik lingkungan di Universitas Yale, di Negara Bagian Connecticut, AS, dikutip dari South China Morning Post.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream- Virus covid-19 memengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda. Beberapa pasien menunjukan gejala parah, tetapi ada yang sama sekali tidak bergejala atau OTG.
Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengatakan gejala virus corona Covid-19 mulai muncul setelah masa inkubasi 14 hari, yakni berupa batuk kering, hilangnya indera penciuman, demam dan sesak napas.
Tapi seorang pria asal inggris menemukan gejala yang beda dengan yang lainnya. Pria 45 tahun itu justru mengalami gangguan pendengaran yang tidak disebutkan sebagai gejala infeksi virus corona Covid-19.
Dilansir dari laman Daily Star, pria tersebut sebelumnya sangat sehat dan tidak memiliki masalah pendengaran sebelum tertular Covid-19. Namun setelah terinfeksi virus covid-19 ia mengalami gangguan pendengaran pada salah satu telinganya.
Menurut laporan berita setempat, pria itu dirawat di rumah sakit dengan gejala Covid-19 yang sudah berlangsung selama 10 hari. Bahkan pria itu menggunakan ventilator karena kesulitan bernapas, mengalami beberapa komplikasi, dan diberi transfusi darah.

Seminggu setelah selang dilepas, pria itu mengeluh gangguan pendengaran pada telinga kirinya. Hasil pemeriksaan telinganya menunjukkan bahwa dia tidak mengalami penyumbatan atau pembengkakan. Ia diberi obat steroid dan suntikan setelah itu pendengarannya pulih sebagian.
Dr Foteini-Stefania Koumpa, dari University College London dan Royal National Throat Nose and Ear Hospital, mengatakan bahwa gangguan pendengaran pria itu akibat dari infeksi Covid-19.
" Terlepas dari literatur yang cukup banyak tentang Covid-19 dan berbagai gejala yang terkait dengan virus tersebut, ada kurangnya diskusi tentang hubungan antara Covid-19 dan pendengaran,” ujar Koumpa.
" Kehilangan pendengaran dan tinnitus adalah gejala yang terlihat pada pasien dengan virus Covid-19 dan influenza, tetapi belum disorot," imbuhnya.
Atas kasus ini, para tenaga medis menghimbau jika pasien Covid-19 menderita kerusakan pendengaran, segera diberikan steroid yang diklaim dapat membantu membalikkan kondisi tersebut.
Gangguan pendengaran tiba-tiba terjadi pada sekitar lima hingga 160 per 100.000 orang setiap tahun, dan kondisi tersebut dapat terjadi setelah infeksi virus seperti flu. Sementara itu, kasus gangguan pendengaran akibat covid-19 dilaporkan pertama kali pada bulan April lalu.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Virus SARS-CoV-2 diduga mengunci jenis sel tertentu yang melapisi paru-paru. Dan penemuan terbaru menyebutkan jika virus juga ditemukan di sel-sel yang melapisi telinga tengah. Virus menghasilkan respons peradangan dan peningkatan bahan kimia yang dikaitkan dengan gangguan pendengaran.
" Ini adalah kasus gangguan pendengaran sensorineural pertama yang dilaporkan setelah infeksi Covid-19 di Inggris,” ujar Koumpa.
" Mengingat keberadaan virus yang tersebar luas di populasi dan morbiditas gangguan pendengaran yang signifikan, penting untuk menyelidiki hal ini lebih lanjut. Ini benar mengingat kebutuhan untuk segera mengidentifikasi dan mengobati gangguan pendengaran dan kesulitan saat ini dalam mengakses layanan medis," tutupnya.
Dengan jumlah kasus yang masih relatif tinggi di Tanah Air, yuk patuh protokol kesehatan dengan disiplin menjalankan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak atau menghindari kerumunan.
(Sah, Sumber : Daily Star)
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement