Remehkan Covid-19, Ayah Asal Mesir Meninggal dan Tulari Keluarganya

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 18 Mei 2020 03:45
Remehkan Covid-19, Ayah Asal Mesir Meninggal dan Tulari Keluarganya
Pria ini berkoar di media sosial dengan menyebut Covid-19 adalah berita palsu.

Dream - Baru-baru ini media sosial tengah dihebohkan dengan seorang ayah yang mengunggah video tentang Covid-19. Dalam videonya tersebut, ia mengklaim penyakit virus corona adalah berita palsu.

Tak lama setelah mengunggahnya, pria itu diberitakan meninggal dunia. Penyebabnya, dia tertular Covid-19

Mohamed Wahdan, 29 tahun, tidak mempedulikan saran pencegahan Covid-19 dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan Mesir. Dia menganggap remeh ancaman global yang ditimbulkan oleh Covid-19.

Bahkan dalam unggahan Facebooknya, Wahdan menyebut Covid-19 merupakan virus buatan AS untuk merusak ekonomi Tiongkok.

Dalam postingannya 16 Maret 2020 lalu, Wahdan, yang tinggal bersama istri dan anaknya di Provinsi Munefeya, Kairo Utara, mendesak warga Mesir untuk melanjutkan hidup mereka seperti biasa.

Wahdan juga kerap mengkritik para penimbun makanan dan adanya penutupan gym seusai anjuran pemerintah Mesir sebagai upaya pencegahan Covid-19.

Setelah meremehkan bahaya virus corona, Wahdan tak lama menunjukan gejala Covid-19 dan dirujuk ke rumah sakit isolasi di sleatan Kairo. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata Wahdan positif Covid-19.

1 dari 4 halaman

Dirawat di Rumah Sakit

Setelah dua hari menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi kesehatan Wahdan tak kunjung membaik. Namun dirinya tetap mampu mempositing video di halaman Facebooknya.

Wahdan mengakui kesalahannya dan menjelaskan bagaimana ganasnya virus corona tersebut. Ia kerap meminta semua warga Mesir untuk tinggal di rumah.

" Saya disuruh tinggal di rumah dan tidak keluar, tetapi saya tidak menganggap serius peringatan tersebut karena saya percaya sesuatuu yang salah," kata dia.

Dalam postingannya dia juga kerap memperingatkan untuk tidak menganggap enteng virus corona karena penyakit ini fatal dan dapat menghancurkan bagian tubuh.

 

 

2 dari 4 halaman

`Saya Sekarat`

Setelah terinfeksi, Wahdan mulai memposting video online dari rumah sakit karantina, meskipun kadang-kadang tidak dapat berbicara karena demam, untuk mendokumentasikan penderitaannya dan memperingatkan orang lain tentang bahaya penyakit.

Dalam satu postingan, tepat sebelum kematiannya, dia berkata: " Saya sekarat."

Pada postingan terakhir Wahdan sebelum meninggal, dia hampir tidak bisa bicara.

Teman-temannya mengumumkan kematiannya pada hari Selasa dan pemakamannya diadakan di desa asalnya Taha Shobra.

3 dari 4 halaman

Tularkan Satu Keluarga

Akibat perbuatannya yang menyepelekan penyakit tanpa vaksin ini, Wahdan juga telah menularkan saudara laki-laki dan ayahnya.

Sebelum kepergiannya, ia sempat membuat postingan di Facebooknya mengatakan betapa menyesal dirinya.

" Kelaparan tidak akan membunuhmu. Jangan membahayakan hidup Anda. Penyakit ini menyebar di Mesir terutama di Munefeya. Sayangnya, saudara-saudara saya tertular virus dari saya. Tetap di rumah Anda karena ini adalah penyakit mematikan. Tolong doakan saya dari hati Anda agar saya segera sembuh dari virus. Tuhan memberkati kalian semua," tulis Wahdan.

Sobat Wahdan, yang ingin tetap anonim, mengatakan ayah Wahdan dirawat di rumah sakit di kota Shebein El-Kom dan saudara lelakinya, Bahaa, menerima perawatan di tempat lain.

Dia mengatakan keduanya dalam kondisi stabil tetapi belum diberitahu tentang kematian Wahdan.

Wahdan digambarkan sebagai seorang atlet dan seseorang yang selalu menjaga kesehatan yang baik.

 

4 dari 4 halaman

Penyebab Panik

Mohamed Allam, Wakil Kepala rumah sakit isolasi di Kota Matrouh, Mesir, mengatakan ketakutan dan kepanikan yang ditunjukkan Wahdan di beberapa posnya, disebabkan oleh rasa sakit dan demam yang terus-menerus dia alami.

Di Facebook, Allam berkata: " Ini tidak selalu terjadi pada semua orang. Dalam beberapa kasus, rasa sakitnya ekstrem, dan demam berlangsung selama berhari-hari menyebabkan lebih banyak rasa sakit di tubuh dan mempengaruhi kondisi pikiran pasien. Panik dalam kasus seperti itu tidak akan membuat segalanya lebih baik.

“ Tidak ada yang harus menghadapi awal penyakit sementara dalam keadaan menyerah berpikir bahwa mereka pada akhirnya akan mati. Hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan mati."

" Ada tingkat pemulihan yang sangat tinggi. Tentu saja, penyakit ini telah mengalahkan beberapa orang tetapi masih sedikit." tutupnya.

Sumber: Arab News

 

Beri Komentar