Cara Mengganti Puasa Suami Istri yang Berhubungan Pada Siang Hari Ramadhan

Reporter : Cynthia Amanda Male
Senin, 22 Agustus 2022 11:14
Cara Mengganti Puasa Suami Istri yang Berhubungan Pada Siang Hari Ramadhan
Ini penjelasannya.

Dream - Selama bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk menjauhkan diri dari segala hal yang membatalkan puasa.

Mereka tidak boleh makan, minum, bergunjing, berbohong, bahkan berhubungan suami-istri di siang hari.

Terkadang, orang tidak mampu menahan nafsu. Saat melihat pasangannya, timbul keinginan untuk bersetebuh. Kemudian mereka melakukan persetubuhan di siang hari, padahal tahu sedang menjalankan puasa Ramadhan.

Terkait perkara ini, terdapat hukuman yang harus dijalani oleh mereka yang berhubungan suami-istri di siang hari bulan Ramadhan. Mereka diwajibkan membayar kafarat atau tebusan.

 

1 dari 7 halaman

Penjelasan Hadis

Terdapat tiga bentuk kafarat yang harus dibayarkan seseorang sebagai cara mengganti puasa suami istri yang berhubungan pada siang hari ramadhan. Ketiganya terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

Dari Abu Hurairah Ra, beliau berkata, " ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “ Wahai, Rasulullah, celaka!” Beliau menjawab, ”Ada apa denganmu?” Dia berkata, ”Aku berhubungan dengan istriku, padahal aku sedang berpuasa.”

" Dalam riwayat lain berbunyi: " Aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadhan." Maka Rasulullah Saw berkata, ”Apakah kamu mempunyai budak untuk dimerdekakan?” Dia menjawab, ”Tidak!” Lalu Beliau berkata lagi, ”Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab, ”Tidak.” Lalu Beliau bertanya lagi : “ Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab, ”Tidak.” Lalu Rasulullah diam sebentar."

" Dalam keadaan seperti ini, Nabi SAW diberi satu ‘irq berisi kurma –Al irq adalah alat takaran- (maka) Beliau berkata: “ Mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab, ”Saya orangnya.” Beliau berkata lagi: “ Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!”

2 dari 7 halaman

Ini Kata Rasulullah

Kemudian orang tersebut berkata: “ Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di dua ujung kota Madinah satu keluarga yang lebih fakir dari keluargaku”.

Maka Rasulullah SAW tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian Rasulullah SAW berkata: “ Berilah makan keluargamu!”

3 dari 7 halaman

Tiga Bentuk Kafarat

Dari keterangan hadits Rasulullah tersebut bisa diambil kesimpulan, bahwa suami yang melakukan hubungan intim dengan istrinya pada waktu siang hari bulan Ramadhan saat dalam keadaan puasa, maka hukumnya haram dan ia diwajibkan membayar kafarat (tebusan) atas kesalahannya itu.

Kafaratnya salah satu dari tiga hal berikut, dengan skala prioritas:

  1. Membebaskan budak atau hamba sahaya yang mukmin.
  2. Jika tidak sanggup, maka berpuasa dua bulan berturut-turut;
  3. Jika tidak sanggup lagi, maka memberi makan kepada 60 orang miskin di mana setiap orang miskin diberi 1 mud atau 750 gram beras (ada juga yang berpendapat 675 gram beras) atau 0.688 liter beras.
4 dari 7 halaman

Skala Prioritas Bukan Opsional

Tiga jenis kafarat di atas adalah berdasarkan skala prioritas bukan opsional. Artinya, kalau kafarat pertama tidak mampu, baru pindah ke jenis kafarat kedua.

Begitu juga, kalau kafarat kedua (puasa 2 bulan) tidak mampu, maka baru pindah ke jenis kafarat ketiga. Kapan kita bisa mengganti puasa dengan memberi makan 60 orang miskin? Dalam kondisi apa seseorang dianggap tidak mampu puasa kafarat 2 bulan?

Imam Nawawi dalam Raudhah Al-Tolibin wa Umdatul Muftin, menjelaskan:

" Apabila tidak mampu berpuasa karena tua atau sakit yang tidak bisa diharapkan sembuhnya maka wajib baginya memberi makan 60 orang miskin. Yang wajib adalah memberi setiap satu orang miskin satu mud makanan berdasarkan hadits dari Abu Hurairah dalam masalah hadits jimak pada bulan Ramadhan di mana Rasulullah bersabda padanya (pelaku jimak bulan Ramadan): " Berikan makanan pada 60 orang miskin." Pria itu berkata, " Aku tidak punya." Lalu Nabi Saw memberikan korma 15 sha' dan bersabda pada pria itu, " Ambillah dan bersedekahlah dengannya."

5 dari 7 halaman

Tinggal Dua Pilihan

Karena jenis yang pertama memerdekakan budak tidak adalagi maka tinggal 2 pilihan, yaitu berpuasa 2 bulan berturut-turut dan memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang.

Kita tidak boleh langsung memilih jenis yang ketiga, sebelum kita mencoba berpuasa 2 bulan berturut-turut.

Apabila dilakukan berpuasa 2 bulan berturut-turut, terus puasanya dibatalkan pada hari yang ke 59 dengan sengaja tanpa penyebab apapun, maka puasanya di ulang lagi dari hitungan pertama. Namun apabila batal dikarenakan sakit, maka puasanya tetap dihitung sesuai dengan yang sudah dilaksanakan.

6 dari 7 halaman

Siapa yang Harus Membayar Kafarat?

Cara mengganti puasa suami istri yang berhubungan pada siang hari saat berpuasa perlu diperhatikan. Pendapat ulama yang membahas tentang hal ini pun penting menjadi perhatian kaum Muslim.

Cara mengganti puasa suami istri yang berhubungan pada siang hari saat berpuasa adalah dengan membayar kafarat atau denda.

Orang yang terkena denda adalah Muslim yang sudah baligh dan berakal serta yang berniat berpuasa sejak malam hari. Ia terkena dosa karena melakukan hubungan suami istri saat tengah berpuasa.

Menurut ulama Mazhab Syafi'i, apabila suami istri yang melakukan hubungan intim tersebut dalam keadaan lupa bahwa mereka sedang berpuasa, maka puasanya tidaklah batal.

 

7 dari 7 halaman

Lebih lanjut, menurut Imam Syafi’i dan Zahiry, kewajiban membayar denda rupanya hanya dibebankan kepada pihak suami saja. Kendati melakukan hubungan intim adalah dari kedua belah pihak (suami dan istri), namun tetap pelakunya jatuh kepada laki-laki yang menentukan terjadi tidaknya hubungan seksual.

Sementara itu, pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menyebutkan kewajiban membayar denda berlaku bagi kedua belah pihak, yakni suami dan istri. Dalil yang digunakan adalah qiyas, bahwa mengqiyaskan kewajiban suami kepada kewajiban istri pula.

Namun demikian pendapat mazhab Syafi’i adalah pendapat yang lebih kuat dan jumhur ulama telah memilihnya. Perlu diketahui juga, ada pendapat lain dari Imam Hanafi, Syafi’i dan Ahmad yang menyatakan bagi seorang wanita yang dipaksa, lupa atau tidak tahu tentang larangan berhubungan suami istri pada siang hari di bulan Ramadan tidak ada kafarat baginya. Hal ini juga berlaku bagi laki-laki.

Beri Komentar