Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kasus kematian akibat virus corona di India tergolong sangat rendah. Laporan dari Worldmeters.info menyebutkan jumlah warga positif Covid-19 di Indsia hingga Selasa, 28 April 2020 pagi mencapai 29.451 kasus namun hanya ada 939 kematian.
Berita ini menggembirakan sekaligus membingungkan. Media asing ramai membahas " misteri di balik rendahnya angka kematian di India" akibat infeksi Covid-19, dan menyebut negara itu " menggagalkan tren virus corona" .
Selain itu, ada pembahasan tentang " India adalah pengecualian karena tingkat kematian di kota-kota besar India lebih rendah dibandingkan dengan titik pusat penyebaran virus corona global.
Salah satu cara untuk memahami tingkat kematian adalah dengan melacak berapa hari yang dibutuhkan sampai angkanya naik dua kali lipat.
Berikut 'rahasia', sekaligus masih jadi misteri, India untuk menekan angka kematian akibat Covid-19 yang dikutip dari Merdeka.com.
Menurut para profesional kesehatan masyarakat dan dokter, lockdown yang diberlakukan India selama lebih dari sebulan terbukti sukses mencegah infeksi serta kematian.
Dalam jurnal medis Lancet disebutkan lockdown memiliki efek yang diinginkan yaitu meratakan kurva epidemi.
Peneliti lain juga meyakini populasi India sebagian besar adalah generasi muda. Sehingga hal ini membantu menjaga angka kematian tetap rendah, karena orang lanjut usia memiliki risiko kematian yang tinggi akibat infeksi.
Tetapi ahli lain menduga kemungkinan jenis virus yang menyerang India kurang ganas dibandingkan negara lain. Ada juga kemungkinan cuaca panas telah mengurangi penularan. Kedua klaim ini tidak didukung oleh bukti apa pun.
Faktanya, dokter yang merawat pasien Covid-19 kritis mengatakan penularan virus corona sama mematikannya dengan yang telah dilaporkan di tempat lain di dunia.
" Sejujurnya, saya tidak tahu dan dunia tidak tahu jawabannya," kata dokter dan onkologi India-Amerika Siddhartha Mukherjee kepada wartawan Barkha Dutt baru-baru ini.
" Itu adalah sebuah misteri, saya sudah sampaikan dan bagian dari misteri adalah kita tidak melakukan tes yang cukup. Jika kita melakukan tes lebih dari itu kita akan tahu jawabannya."
Dia menyinggung kedua tes diagnostik yang menentukan mereka yang saat ini terinfeksi dan tes antibodi untuk mengetahui apakah seseorang sebelumnya terinfeksi dan sembuh.
Pertanyaan lain adalah apakah India luput mencatat pasien Covid-19 yang meninggal
Mempelajari data kematian di 12 negara, The New York Times menemukan pada Maret setidaknya 40 ribu orang meninggal selama pandemi dibandingkan jumlah kematian resmi. Ini termasuk kematian akibat penularan serta kemungkinan penyebab lainnya.
Analisis Financial Times terkait keseluruhan angka kematian selama pandemi di 14 negara menemukan, angka kematian akibat virus corona mungkin hampir 60 persen lebih tinggi daripada yang dilaporkan dalam hitungan resmi. Tidak satu pun dari dua studi tersebut yang menampilkan India.
Prabhat Jha dari Universitas Toronto, yang memimpin Million Death Study yang ambisius di India, percaya bahwa untuk menghitung angka kematian dengan benar, angka kematian yang tak tercatat harus dipertimbangkan.
" Karena sebagian besar kematian terjadi di rumah - dan akan terjadi di masa mendatang - di India, sistem lain diperlukan," jelas Jha kepada koresponden BBC India, Soutik Biswas.
Sekitar 80 persen kematian di India masih terjadi di rumah. Ini termasuk kematian akibat infeksi seperti malaria dan pneumonia. Kematian ibu, dan kematian akibat serangan jantung mendadak dan kecelakaan lebih sering dilaporkan dari rumah sakit.
" Banyak orang mendapatkan perawatan medis dari waktu ke waktu, pulang dan meninggal di rumah di India," kata Dr Jha.
Jelas, menghitung kematian di rumah sakit saja tidak akan cukup untuk mendapatkan akurasi jumlah kematian akibat Covid-19.
Presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India, K Srinath Reddy mengatakan, pada saat yang sama, belum ada laporan tentang lonjakan kematian besar-besaran di rumah sakit, yang tentunya tidak luput dari perhatian. Misalnya, peningkatan tajam kematian anak-anak di rumah sakit tertentu di India utara dalam beberapa tahun terakhir telah dilaporkan dengan rutin.
Prof Reddy juga meyakini lonjakan tajam angka kematian di rumah dalam waktu yang lama juga tidak akan terjadi tanpa disadari.
Dengan tidak adanya sistem pengawasan kesehatan masyarakat yang kuat, para ahli mengatakan ponsel dapat digunakan untuk mencari tahu apakah ada lonjakan yang tidak biasa dalam kematian terkait influenza yang dapat dikaitkan dengan Covid-19.
Lebih dari 850 juta orang India diharuskan menggunakan ponsel dan mereka dapat didesak untuk melaporkan kematian yang tidak biasa di desa mereka dengan nomor bebas pulsa. Pihak berwenang kemudian bisa menindaklanjutinya dengan mengunjungi keluarga dan melakukan " otopsi verbal" .
Menghitung kematian selalu menjadi ilmu eksak di India. Sekitar 10 juta orang meninggal di India setiap tahun.
Million Death Study menemukan fakta beberapa kematian diperkirakan terlalu tinggi (India hanya memiliki 100.000 kematian dini pada tahun 2005, sekitar seperempat dari total yang diperkirakan WHO) dan beberapa di antaranya diremehkan (lima kali lebih banyak kematian akibat malaria daripada yang diperkirakan WHO), menurut pengakuan pemerintah sendiri, hanya 22 persen kematian di India yang bersertifikat medis.
Lalu ada pertanyaan tentang bagaimana mendefinisikan kematian Covid-19.
Beberapa dokter India melaporkan, banyak orang meninggal karena gejala Covid-19 tanpa dites atau dirawat. Lalu ada pertanyaan diagnosis yang salah di negara di mana dokter sering salah mendiagnosis penyebab kematian.
Jean-Louis Vincent, seorang profesor Pengobatan Perawatan Intensif di Rumah Sakit Universitas Erasme Belgia, mengatakan ada pelaporan kematian Covid-19 yang kurang " di sejumlah negara, termasuk India" .
" Ketika Anda diberitahu bahwa orang tersebut menderita demam dan beberapa masalah pernapasan sebelum meninggal, Anda mungkin mencurigai Covid-19. Tetapi mungkin itu sesuatu yang lain," katanya.
" Kematian sering didahului oleh infeksi, kadang-kadang minor. Jika Anda tidak melakukan tes, Anda dapat mengaitkan banyak kematian dengan Covid-19 atau menolak perannya sama sekali. Itulah sebabnya tingkat kematian dari flu Spanyol 1918 sangat bervariasi."
Sebagaimana dikatakan para ahli, pemerintah khawatir melaporkan angka kematian karena tak ingin menakut-nakuti orang.
" Tapi tidak ada yang berusaha menyembunyikan kematian dengan sengaja. Anda tidak bisa menyembunyikan kematian massal," ujar Dr Jha.
India mungkin luput mencatat beberapa angka kematian dan tidak mendiagnosis dengan benar setiap pasien yang terinfeksi Covid-19. Tetapi memang angka kematiannya sangat rendah. Namun, masih terlalu dini untuk menyimpulkan negara ini berhasil melawan tren.
" Ayo jujur saja," kata seorang pakar. " Kami belum tahu."
Sumber: Merdeka.com/Hari Ariyanti
Advertisement

Mengapa Milenial Selalu Merasa Selera Musiknya Lebih Bagus Dibanding Generasi Setelahnya

Persiapan Saat Harus Hidup Sendiri di Luar Kota untuk Kuliah

Satu Nama Tiga Varian: Beda Mie Ayam Jakarta, Mie Ayam Bangka, dan Mie Ayam Wonogiri


Superbank Mulai Laksanakan Program LTIP Sebagai Strategi Jangka Panjang


Sebaiknya Mulai Mengajari Anak Berbicara dengan Bahasa Daerah atau Bahasa Indonesia Terlebih Dahulu?