Pasien Ketakutan Terinfeksi Virus Corona, Sengaja Sembur Batuk ke Perawat

Reporter : Sugiono
Kamis, 30 Januari 2020 15:24
Pasien Ketakutan Terinfeksi Virus Corona, Sengaja Sembur Batuk ke Perawat
Dia kesal karena rumah sakit kehabisan persediaan obat.

Dream - Dampak virus corona yang mematikan telah membuat siapa saja yang merasa terjangkit menjadi stres dan panik.

Begitu pula dengan seorang pria di Kota Xiaogan, Provinsi Hubei, China, yang merasa panik setelah tahu rumah sakit kehabisan obat.

Karena kesal rumah sakit kehabisan obat, dia tiba-tiba membuka masker dan langsung menyemburkan batuk ke dua petugas yang berjaga.

Menurut laman Shangyou News, pria itu mulai merasa demam setelah pulang dari Wuhan. Awalnya, dia pergi ke Rumah Sakit Pusat Xiaogan untuk mendapatkan perawatan tapi belum sembuh.

Pria itu kemudian pindah ke rumah sakit wanita dan anak di kota itu untuk memeriksakan diri kedua kalinya pada Senin, 27 Januari 2020.

 

1 dari 7 halaman

Marah Saat Tahu Obat Habis

Setelah mendapat resep dari dokter, pria itu segera menuju tempat untuk menebus obat. Dalam rekaman CCTV rumah sakit, terlihat pria itu menyerahkan kartu ke petugas yang berjaga.

Namun setelah diberitahu bahwa rumah sakit kehabisan persediaan obat yang tertulis di resep tersebut, pria itu marah-marah.

Pria itu meminta uang kembali kepada petugas karena tidak mendapatkan pelayanan yang dibutuhkannya.

Selain itu, dia tiba-tiba membuka masker dan menyemburkan batuk ke masing-masing petugas rumah sakit. Kedua petugas itu langsung berdiri dan menjauh.

 

 

2 dari 7 halaman

Hanya Menderita Sakit Flu Biasa

Dalam video seorang wanita terdengar menjelaskan bahwa pria itu menderita demam tinggi 39 derajat selama empat hari.

Namun menurut wakil rumah sakit, pria itu sebenarnya hanya menderita flu dan demam biasa, bukan karena virus corona.

Setelah pria itu pergi, area itu langsung disterilkan dan rumah sakit melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Pria itu akhirnya ditemukan dan bersedia untuk menjalani pemeriksaan oleh pihak berwenang.

" Peristiwa ini membuat banyak staf kami marah. Tapi kita bisa mengerti bagaimana perasaan pasien pada saat itu. Kami juga tidak ingin menimbulkan masalah baginya," kata direktur rumah sakit.

Sumber: Asia One

3 dari 7 halaman

Rumah Sakit Khusus Pasien Virus Corona di China Berdiri Kurang Dari 48 Jam

Dream - China bergerak cepat menangani para pasien yang terjangkit wabah virus corona Wuhan. Salah satunya dengan mendirikan rumah sakit khusus.

Menariknya, rumah sakit tersebut berdiri dalam waktu kurang dari 48 jam. Saat ini, rumah sakit yang terletak di dekat Kota Wuhan, Provinsi Hubei ini telah beroperasi.

Rumah sakit itu awalnya merupakan bangunan kosong. Gedung itu lantas disulap menjadi fasilitas perawatan darurat dengan kapasitan 1.000 tempat tidur.

Sejumlah pasien terjangkiti virus corona pun telah dipindahkan ke rumah sakit yang kini dikenal sebagai Pusat Medis Regional Gunung Dabie itu. Kloter pertama dipindahkan pada Selasa, 28 Januari 2020 pukul 10:30 malam waktu China.

Melansir World Of Buzz, proses konstruksi sendiri dilakukan sangat cepat dan seefisien mungkin melalui kerja sama beberapa perusahaan kontruksi, utilitas, dan petugas kepolisian.

 Wuhan© dream.co.id

Lebih dari 500 pekerja dan lusinan kendaraan berat bekerja tanpa lelah selama dua hari dua malam untuk menyelesaikan pembangunan rumah sakit tepat waktu.

 Wuhan© dream.co.id

Pemerintah setempat diketahui membuat program pembangunan rumah sakit itu pada hari Jumat lalu. Pekerjaan konstruksi baru dimulai pada hari berikutnya.

Sedangkan pada Senin kemarin, seluruh bagian rumah sakit mulai dari bangunan, tempat tidur, pasokan air, listrik dan internet yang stabil sudah tersedia dan siap digunakan.

 

4 dari 7 halaman

China Kekurangan Rumah Sakit

Dalam video dari China's Cover News terlihat bagaimana staf medis berlatih guna membiasakan diri sebelum pasien pertama datang.

 Wuhan© dream.co.id

Dengan lebih dari 132 korban yang meninggal dan lebih dari 6000 kasus orang yang terinfeksi hingga saat ini, menyebabkan rumah sakit di seluruh China mengalami kekurangan pasokan tenaga medis.

Rumah sakit tidak hanya dipenuhi pasien virus corona yang terus bertambah setiap harinya. Tetapi juga para praktisi medis sendiri yang ikut terjangkit hingga tak sadarkan diri akibat kelelahan.

5 dari 7 halaman

Menguak Pengobatan Pasien Virus Corona di China hingga Sembuh

Dream - Komisi Kesehatan Nasional China menyatakan sudah ada 60 orang yang sembuh dari virus corona. Padahal obat untuk virus tersebut belum ditemukan. Pertanyaan pun bermunculan, mengapa para pasien bisa sembuh?

Rupanya, standar prosedur perawatan pasien virus corona 2019Ncov sudah ditetapkan oleh Komisi Kesehatan setempat untuk mengatasi virus corona yang mematikan. Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), prosedur tersebut diawali dengan melakukan isolasi pada suspek corona.

Pasien yang membutuhkan " perawatan dasar" harus diberikan oksigen tambahan dan obat antivirus. Virus corona ini memiliki gejala seperti pneumonia.

Penanganannya boleh dibilang mirip dengan penyakit pneumonia, termasuk pemberian obat-obatan. Sifat virus sebenarnya akan mati dengan sendirinya dalam hitungan hari jika imunitas tubuh bekerja dengan baik.

 

6 dari 7 halaman

Prosedur untuk Pasien yang Kritis

Untuk pasien dalam kondisi serius atau kritis, prosedur oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO) dan pengobatan jantung-dan-paru buatan bisa diberikan.

ECMO merupakan prosedur pemompaan darah melalui perangkat yang menambah oksigen ke dalamnya dan kemudian memompanya kembali ke tubuh pasien.

 Virus Corona Juga Sebabkan SARS dan MERS, Ini Gejala Khasnya© MEN

Prosedur ini diketahui telah dilakukan pada pasien yang ada di Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan. Pengobatan ECMO tak bisa diterapkan pada semua pasien, tapi hanya pada mereka yang sudah dalam kondisi sangat kritis.

 

7 dari 7 halaman

Prosedur juga dilakukan untuk pasien SARS dan flu burung

" Perawatan ini membutuhkan banyak sumber daya dan hanya tersedia di rumah sakit utama. Perlu setidaknya empat perawat untuk melakukannya," kata Profesor David Hui Shu-cheong, spesialis paru di pernapasan di Universitas Cina Hong Kong.

Selama wabah SARS di Hong Kong pada 2003, pasien dengan gagal napas berat hanya didukung oleh ventilasi mekanik konvensional. Namun, ECMO telah digunakan di Cina untuk wabah influenza lainnya, termasuk H1N1 pada 2009 dan H7N9 (flu burung) pada 2013.

Sumber: SCMP

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak