Azab Mengerikan Bagi Tukang Ghibah, Ini 5 Cara Ampuh Menghindarinya

Reporter : Reni Novita Sari
Selasa, 2 Juni 2020 15:48
Azab Mengerikan Bagi Tukang Ghibah, Ini 5 Cara Ampuh Menghindarinya
Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain tergolong dosa besar

Dream- Tidak bisa dipungkiri manusia sering kali khilaf membicarakan kesalahan atau gosip orang di sekitarnya tanpa disadarinya. Mulut kit terkadang tidak terkontrol saat membicarakan orang lain di belakang atau sekadar mengeluhkan sesuatu.

Gosip atau yang biasa dikenal dengan ghibah, kini sering kali jadi perkara yang banyak dilakukan orang. Ketika sedang asyik berkumpul, terkadang kita lupa bahwa sedang menggunjing seseorang.

Terlebih bahan gosip bisa diakses dengan mudah di segala media, mulai dari televisi sampai media sosial. Bergosip seolah-olah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.

Padahal nyatanya, membicarakan apalagi sampai mencemarkan nama baik seorang muslim yang tidak mereka sukai merupakan kemungkaran yang besar dan termasuk ghibah yang diharamkan bahkan termasuk dosa besar, berdasarkan firman Allah.

“ Dan janganlah sebagian kalian ghibah (menggunjing) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kalian akan merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.” (Al-Hujurat/49: 12)

Berdasarkan firman Allah SWT tersebut, orang yang menggunjing diibaratkan dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati. Hal ini dinilai merupakan dosa besar, yang harus dihindari setiap muslimin.

1 dari 3 halaman

Apa yang Dimaksud Dengan Ghibah ?

Ghibah (menggunjing) termasuk dosa besar, namun sedikit yang mau menyadari hal ini. Seorang ulama tafsir, Imam Masruq, menjelaskan, “ Ghibah adalah jika engkau membicarakan sesuatu yang jelek pada seseorang. Itu disebut mengghibah atau menggunjingnya. Jika yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak benar ada padanya, maka itu berarti menfitnah (menuduh tanpa bukti).” Demikian pula dikatakan oleh Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “ Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “ Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “ Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “ Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “ Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

2 dari 3 halaman

Seberapa Berat Ancaman dan Dosa Bagi Pelaku Ghibah?

stop ghibah© Ilustrasi foto : shutterstock

Diriwayatkan, pada zaman Rasulullah SAW bila ada orang yang berbuat ghibah, maka siksanya langsung diperlihatkan, sebagaimana yang terjadi pada dua orang wanita yang diperintah olehnya untuk memuntahkan darah kental dari mulutnya setelah menggunjing saudaranya.

Seiring banyaknya orang menggunjing, seperti sekarang ini, siksaan itu pun tak lagi diperlihatkan. Terlebih dosa besar itu sudah dianggap sebagai hal biasa dan lumrah terjadi.

Padahal, Rasulullah SAW sudah menyatakan bahwa dosa ghibah berat dari dosa zina,

“ Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,” (HR At-Thabrani).

Tak hanya itu, diriwayatkan bahwa Allah pernah berfirman kepada Nabi Musa AS,

“ Siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan bertaubat dari perbuatan ghibah, maka dia adalah orang terakhir masuk surga. Dan siapa saja yang meninggal dalam keadaan terbiasa berbuat ghibah, maka dia adalah orang yang paling awal masuk neraka.”

Lebih bahaya lagi, kelak di akhirat orang yang suka ghibah akan dimintai  pertanggungjawaban di hadapan Allah oleh orang yang dighibahnya. Amal kebaikannya dibayarkan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya, termasuk kepada orang yang telah dighibahnya. Setelah amal kebaikannya habis, amal keburukan orang-orang yang dizaliminya ditimpakan kepada dirinya.

Akibatnya, dia akan menjadi orang yang bangkrut, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam hadits berikut ini.

Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “ Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “ Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang sudah tidak memiliki dirham dan harta benda lain.”

Ia menjelaskan, “ Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa amal shalat, amal zakat, amal puasa, namun dia pernah mencaci si ini, menuduh si ini, makan harta si sini, menumpahkan darah si ini, memukul si ini sehingga yang ini dibayar dengan kebaikannya dan yang ini dibayar dengan kebaikannya. Setelah kebaikan-kebaikannya habis sebelum semua kezaliman terbayar, maka diambillah keburukan-keburukan mereka yang pernah dizaliminya lalu ditimpakan kepada dirinya. Akibatnya, dia dilemparkan ke dalam neraka.”

Nauzubillahimdzalik

3 dari 3 halaman

Cara Agar Terhindar Dari Ghibah

Secara tidak disadari perbuatan ghibah ini jadi kebiasaan masyarakat. Karena mereka tidak sadar bahwasanya ini merupakan hal yang keji dan termasuk suatu dosa besar. Oleh sebab itu dibutuhkannya ilmu agar terhindar dari perbuatan ghibah ini. Dan ada beberapa cara untuk menghindar diri dari ghibah.

  • Mengingat Balasan Pedih untuk Pelaku Ghibah

Kita harus sadar bahwasanya ghibah yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat dan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Qaf : 18)

“ Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak mengetahuinya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan ditanyai (dimintai pertanggungjawaban)” (Al-Isra’: 36)

  • Menjauhi orang yang yang sering ghibah

Tidak dapat dipungkiri lagi jika nyatanya pergaulan merupakan hal yang dapat membawa dampak besar pada kehidupan sehari-hari kita. Ketika kamu bergaul dengan orang-orang dengan kelakuan baik, maka dengan sendirinya akan ikut terpengaruh dan melakukan hal-hal yang baik pula.

Kebalikannya, ketika kamu bergaul dengan orang yang berperilaku buruk, maka hal ini juga akan memberntuk kepribadian kamu juga. Jika ingin menghindari perilaku ghibah tentu anda harus menghindari orang yang gemar melakukan ghibah itu sendiri.

Dalam hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran seorang teman :

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Saat kamu berada di antara para pelaku ghibah kamu akan terbawa perkataan mereka dan mulai merespon setiap kata sehingga terbentuklah ghibah.

  • Dengan Ilmu

Orang yang mengetahui ilmu agama maka dia akan menjauhi ghibah tersebut dikarenakan ilmu yang dia dapat dari belajar atau mendengar kajian.

  • Diam atau Tidak Menanggapi

Agar kita tidak terjerumus dalam perkataan ghibah, maka cara mudah menghindarinya adalah dengan diam.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

  • Menasehati pelaku ghibah untuk menyudahinya

Kamu dapat mengatakan dan mengingatkan pelaku ghibah bahwasannya perbuatanya itu salah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, rubahlah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan lidahnya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman” (HR Muslim 70)

Kesimpulan

Demikianlah bahaya perbuatan ghibah yang selama ini kita anggap enteng. Mudah-mudahan, berkat uraian ini, kita semakin waspada terhadap segala bentuk perbuatan yang dapat menghapus amal kita, termasuk perbuatan ghibah.

Beri Komentar