Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dream - Pemerintah Tiongkok berharap komunitas Muslim di sana, termasuk Uighur dapat merayakan Ramadan dengan gembira. Padahal, di sisi lain mereka menerapkan sejumlah larangan yang menekan komunitas Muslim.
Dalam laman resmi Kota Korla, Xinjiang, pemerintah lokal mengeluarkan peringatan yang berisi larangan kepada anggota partai, kader, PNS, pelajar, dan anak-anak untuk berpuasa Ramadan serta tidak mengambil bagian pada aktivitas keagamaan serta pergi ke masjid.
"Ramadan adalah saat yang tepat bagi kami para Muslim untuk memurnikan hati, menguatkan pikiran, dan memperdalam ibadah. Tapi, warga non-Muslim sekitar masih membutuhkan kue dan pelayanan kami," ujar Mayis Hagei, pembuat kue di Provinsi Gansu kepada China Daily. Para pemilik restoran dan toko memilih tetap membuka usaha seperti biasa sepanjang bulan Ramadan.
Tiongkok memiliki sekitar 20 juta penduduk Muslim dan kawasan barat jauh Xinjiang adalah rumah bagi 10 juta Muslim Uighur. Mereka kerap mendapat tekanan setelah Xinjiang dinyatakan masuk ke dalam kedaulatan Tiongkok, seperti pelarangan menggunakan hijab, memanjangkan jenggot, dan penggunaan bahasa Uighur.
Tahun lalu, Pemerintah Tiongkok memerintahkan toko-toko di Xinjiang menjual alkohol dan rokok atau ditutup. Langkah ini dipandang sebagai upaya melemahkan pengaruh Islam di wilayah tersebut.
Tekanan itu menimbulkan reaksi cukup keras dari Muslim Uighur. Sejumlah aksi perlawanan mereka lancarkan seperti kasus penusukan di Stasiun Kereta Kunming.
Namun, pemerintah berusaha menyalahkan kelompok ektrimis, lalu menerapkan langkah pencegahan dengan semburan api.
Menurut laporan harian Xinhua, Pejabat Tinggi Partai Komunis Xinjiang Zhang Chuanxian dan sejumlah pejabat lain berharap Ramadan dapat dirayakan dengan penuh perdamaian. Mereka juga berharap Muslim Tiongkok dapat menjadi contoh integrasi yang berhasil.
Pengakuan tersebut merupakan hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Sepanjang bulan Ramadan, restoran Muslim dapat memutuskan apakah akan tetap buka. Tidak akan ada pemaksaan. Pemerintah daerah memastikan seluruh kegiatan keagamaan akan berjalan dengan tertib," kata Zhang.
Sumber: shanghaiist.com
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?