Bulan Mulia, Jauhi Perbuatan Ini Terutama di Sepanjang Muharram

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 10 September 2019 20:00
Bulan Mulia, Jauhi Perbuatan Ini Terutama di Sepanjang Muharram
Muharram termasuk bulan mulia dalam Islam.

Dream - Baru saja umat Islam merayakan tahun baru Hijriah. Baru saja kita meninggalkan hari asyura, atau tanggal 10 Muharram.

Muharram merupakan bulan yang penuh keberkahan bahkan lebih mulia dibandingkan bulan-bulan lainny yang dianggap mulia seperti Rajab, Dzulqaidah, dan Dzulhijjah. Bahkan Muharram dijuluki sebagai Syahrullah atau Bulannya Allah.

Hal ini seperti tertuang dalam riwayat Imam Bukhari dari Abu Bakrah RA.

Dalam satu tahun ada 12 bulan, di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan secara berurutan adalah Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajabnya Mudhar yang berada di antara Jumada dan Sya'ban.

Karena keutamaan itu, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah di bulan Muharram. Puasa tersebut bahkan memiliki derajat yang paling utama setelah Ramadan.

Selain itu, umat Islam juga dianjurkan menghindari sejumlah perbuatan. Ini mengingat Muharram adalah bulan yang suci.

 

1 dari 5 halaman

Maksiat dan Menumpahkan Darah

Dikutip dari Islami, perbuatan tersebut yaitu tidak boleh melakukan dosa dalam bulan Muharram. Terutama, berhenti dari segala bentuk kemaksiatan.

Dalam Surat At Taubah ayat 36, Allah berfirman demikian.

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini menegaskan larangan umat Islam untuk menganiaya diri sendiri dengan berbuat kemaksiatan. Larangan ini berlaku untuk di empat bulan utama yang disebut bulan Haram.

Selain itu, umat Islam dilarang menumpahkan darah di empat bulan haram. Meski larangan ini berlaku di semua bulan, tetapi lebih ditekankan pada bulan-bulan Haram.

Abdullah Ibnu Abbas RA dalam Risalah fi Ahadits Syahrillah Al Muharram berpendapat demikian.

" Kemudian Allah menjadikannya bulan-bulan haram, membesarkan hal-hal yang diharamkan di dalamnya dan menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dan menjadikan amalan soleh dan pahala juga lebih besar."

Pendapat ini diperkuat pandangan Qatadah RA.

" Sesungguhnya berbuat kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada berbuat kezaliman di selain bulan-bulan tersebut. Meskipun berbuat zalim pada setiap keadaan bernilai besar, tetapi Allah membesarkan segala urusannya sesuai apa yang dikehendaki-Nya."

Umat Islam sudah sepatutnya menghormati bulan Muharram mengingat ini adalah salah satu bulan utama dalam Islam. Sangat dianjurkan untuk mengisi bulan ini dengan amalan-amalan sholeh.

Sumber: Islami.co

2 dari 5 halaman

Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa 9 atau 11 Muharram?

Dream - Salah satu sunah yang dianjurkan pada Hari Asyura adalah berpuasa. Puasa ini untuk meraih keutamaan yang terkandung pada bulan Muharram.

Dalam sejarahnya, Puasa Asyura awalnya dilakukan umat Yahudi. Tetapi, Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan umat Islam juga berpuasa pada 10 Muharram mengingat keutamaan hari tersebut.

Tetapi, syariat Puasa Asyura untuk umat Islam berbeda dengan Yahudi. Agar tidak menyamai, umat Islam melaksakan puasa sehari sebelumnya yaitu pada 9 Muharram atau setelahnya pada 11 Muharram.

Dasarnya adalah hadis riwayat Imam Ahmad yang artinya sebagai berikut.

Berpuasalah di hari Asyura, dan jangan menyamai kaum Yahudi, berpuasalah kalian satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya.

Lantas, apakah benar berpuasa Asyura tanpa puasa pada 9 Muharram atau 11 Muharram tidak dibolehkan?

 

3 dari 5 halaman

Tak Ada Ketentuan Yang Jelas

Dikutip dari Islami, terdapat sebuah hadis yang memuat kisah Rasulullah hendak berpuasa pada 9 Muharram. Tetapi, Rasulullah belum pernah melaksanakannya karena sudah meninggal lebih dulu.

Dari Ibn Abbas RA, sesungguhnya Rasulullah SAW berpuasa hari Asyura, kemudian para sahabat berkata, " Wahai Rasul SAW, sesungguhnya Asyura adalah hari agung bagi kaum Yahudi dan Nasrani." Kemudian Rasul berkata, " Jika tiba Muharram tahun depan, Insya Allah kita berpuasa di hari kesembilan." Ibn Abbas berkata, " Rasulullah wafat sebelum datang bulan Muharram tahun selanjutnya."

Riwayat ini menunjukkan tidak adanya dalil yang jelas mengenai ketentuan pelaksanaan puasa Asyura harus dua hari. Baik sehari sebelum maupun sesudahnya.

Karena tidak ada ketentuan yang jelas, ulama berbeda pendapat dalam memandang pelaksanaan Puasa Asyura, apakah harus disertai puasa sehari sebelum atau setelahnya. Atau cukup melaksanakan satu hari Puasa Asyura.

 

4 dari 5 halaman

Tiga Pandangan Berbeda

Imam Asy Syafi'i punya pandangan sabda Rasulullah yang hendak menambah hari pada Puasa Muharram adalah upaya menyempurnakan kebaikan. Meskipun terdapat kesan ingin berbeda dari umat Yahudi. Sehingga, Imam Asy Syafi'i berkesimpulan menambah hari Puasa Asyura hanyalah kesunahan, bukan kewajiban.

Pendapat ulama yang harus ditambahi hari jika melaksanakan Puasa Asyura agar berbeda dari umat Yahudi. Dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad.

Tetapi, hadis ini ternyata dihukumi dhaif atau lemah. Bahkan Imam As Syaukani, seperti dikutip Al Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan At Tirmidzi menyatakan hadis tersebut mungkar.

Dalam pandangan Al Mubarakfuri, tidak selamanya Rasulullah berbeda dengan kaum ahlul kitab. Dalam beberapa kasus, Rasulullah menjalankan apa yang dilakukan ahli kitab, demikian pula sebaliknya.

Sedangkan pendapat ketiga, sebagian ulama menangkap adanya maksud Rasulullah ingin memindahkan Puasa Asyura dari tanggal 10 menjadi 9 Muharram. Ada pula yang menyebut Rasulullah ingin melaksanakan puasa di dua hari tersebut.

Untuk berhati-hati, para ulama melaksanakan puasa di dua hari tersebut. Bahkan ada golongan tabiin berpuasa Asyura di dua hari yaitu 9 dan 10 Muharram.

Dari beberapa pendapat tersebut, Imam An Nawawi cenderung mengunggulkan pendapat pertama. Yaitu menambah jumlah hari sebelum atau sesudah Puasa Asyura adalah kesunahan.

Sehingga, tidak masalah jika kita hanya menjalankan Puasa Asyura tanpa menambah hari. Tetapi, tentu lebih baik jika ditambah.

Sumber: Islami.co

5 dari 5 halaman

Niat Puasa Asyura 10 Muharram, Insya Allah Dijalankan Besok

Dream - Tak terasa awal tahun 1441 Hijriah sudah memasuki awal 10 Muharram. Umat Islam menyebut hari ini dengan nama Asyura.

Dalam literatur Islam, Asyura merupakan hari yang mengandung banyak sekali keutamaan. Banyak peristiwa penting di masa lalu yang terjadi di hari Asyura.

Di tanggal 10 Muharam dikisahkan sebagai hari diciptakannya Nabi Adam AS serta turunnya Nabi Nuh AS dari kapal setelah banjir besar. Peristiwa lain ada juga seperti dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari perut ikan paus, atau diselamatkannya Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran musuh lewat terbelahnya lautan.

Bagi umat Islam, hari ini juga menduduki derajat sangat penting. Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan Puasa Asyura.

Amalan ini awalnya dihukumi wajib karena Rasulullah selalu menjalankannya. Tetapi, setelah turun perintah Puasa Ramadan, Rasulullah tidak lagi mewajibkan umat Islam melaksanakannya.

Ketika hendak menjalankan Puasa Sunah Asyura pada besok, tentu diawali dengan niat. Pada malam hari, dianjurkan melafalkan niat ini.

Beri Komentar
Bukan Pertama Kali, Ini Deretan Kebrutalan Anjing Milik Bima Aryo