Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Rasulullah tidak sampai hati mendengar ada umatnya yang akan menerima penderitaan.
Dream - Rasulullah Muhammad SAW, dalam sejumlah riwayat, menerima wahyu dengan pelbagai ekspresi. Ada kalanya gemetar, gembira, bahkan menangis.
Salah satunya seperti dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Hadis tersebut berisi riwayat tatkala Rasullullah menangis mendengar ayat Alquran yang dibacakan sahabat Abdullah bin Mas'ud RA.
Suatu hari, Rasulullah meminta sahabat yang begitu dekat dengannya untuk membacakan Alquran. Abdullah tentu merasa heran, lantaran Rasulullah adalah orang yang menerima wahyu Alquran secara langsung.
"Wahai, Rasulullah, apakah (layak) saya membacakan Alquran untukmu, sementara ia diturunkan kepadamu?" kata Abdullah.
"Aku sedang mendengarnya dari orang selain diriku," jawab Rasulullah.
Abdullah menuruti permintaan Rasulullah dan membaca Surat yang diminta. Rasulullah tiba-tiba menyuruh Abdullah berhenti saat sampai pada ayat 41 Surat An Nisa, yang artinya:
"Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”
Abdullah menghentikan bacaannya, lalu menoleh ke arah Rasulullah. Dia melihat air mata menetes dari kedua mata Rasulullah.
Ayat 41 Surat An Nisa menjelaskan peran Rasulullah yang menjadi saksi bagi umatnya yang durhaka di akhirat kelak. Tangis Rasulullah pecah karena tak sampai hati ada umatnya yang akan menerima penderitaan, meski karena ulahnya sendiri.