Kerangka Berusia 3.500 Tahun dari Vietnam Mengungkap Asal-Usul Sifilis

Stories | Senin, 24 Agustus 2026 16:00

Reporter : Abidah

Kerangka berusia 3.500 tahun yang ditemukan di Vietnam mengungkap mengenai sejarah dan riwayat penyakit sifilis.

DREAM.CO.ID - Selama puluhan tahun, para ahli paleopatologi bekerja dengan satu aturan yang cukup praktis: di antara seluruh penyakit treponemal, hanya sifilis kelamin yang bisa menular dari ibu ke anak. Temukan infeksi kongenital pada tulang purba, dan itu artinya ditemukan sifilis.

Dilansir dari Medical Daily, tiga kerangka kecil yang digali di Vietnam telah membuat aturan itu tidak lagi bisa dipakai begitu saja, dan gelombang pemberitaan baru pekan ini kembali mengangkat temuan tersebut ke permukaan.

Tim yang dipimpin Dr. Melandri Vlok dari Charles Sturt University meneliti 309 individu dari 16 situs arkeologi di seluruh Vietnam, mencakup rentang waktu 10.000 hingga 1.000 tahun lalu. Hanya tiga individu yang menunjukkan ciri diagnostik treponematosis kongenital, dan ketiganya adalah anak-anak kecil. Sisa-sisa tubuh mereka berusia setidaknya 3.500 tahun. Penyakit yang menandai tubuh mereka hampir pasti bukan sifilis.

Buktinya berasal dari kondisi gigi dan tulang. Infeksi treponemal yang didapat sejak dalam kandungan mengganggu perkembangan mahkota gigi dengan cara yang khas, meninggalkan stigmata permanen di samping lesi tulang. Dua dari anak-anak itu berasal dari Man Bac di Vietnam utara, satu lagi dari An Son di selatan, di situs-situs yang berusia sekitar 4.100 hingga 3.300 tahun lalu.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal International Journal of Osteoarchaeology pada Maret lalu.

Treponematosis sendiri bukan satu penyakit tunggal. Ia adalah kelompok penyakit yang disebabkan subspesies bakteri Treponema pallidum: sifilis kelamin, frambusia (yaws), bejel, dan pinta. Keempatnya menghasilkan kerusakan tulang yang saling tumpang tindih, dan itulah sebabnya para peneliti selama ini mengandalkan penularan kongenital sebagai penentu pembeda.

2 dari 5 halaman

Mayoritas yang Sakit di Man Bac Adalah Anak-Anak, dan Itu Menjauhkan Dugaan dari Sifilis

Argumen yang menolak dugaan sifilis di Man Bac justru datang dari populasi pemakaman yang lebih luas, bukan hanya dari tiga anak tersebut. Riset sebelumnya di situs itu menemukan tingkat penyakit treponemal yang tergolong tinggi, dengan sekitar 10 persen individu yang diperiksa menunjukkan kemungkinan terinfeksi, dan mayoritas yang terdampak adalah anak-anak serta remaja.

Itu adalah ciri khas penyakit non-kelamin yang menyebar lewat kontak kulit biasa antar anak-anak, bukan lewat penularan seksual antar orang dewasa. Frambusia cocok dengan pola ini. Penyakit frambusia hingga kini masih menjangkiti lebih dari 150.000 orang di kawasan tropis dan bisa menyebabkan disabilitas permanen.

"Epidemiologi situs ini sangat mengarah pada bentuk penyakit treponemal non-kelamin," kata Vlok dalam pernyataan resmi dari Charles Sturt University. "Namun kita tetap menemukan bukti penularan kongenital. Itulah bagian yang mengejutkan."

 

3 dari 5 halaman

Argumen soal Columbus Kehilangan Salah Satu Buktinya

Taruhannya di sini menyentuh salah satu perdebatan terpanjang dalam dunia medis: apakah sifilis sudah ada di luar benua Amerika sebelum 1492. Kasus-kasus kongenital pada kerangka Eropa dan Asia selama bertahun-tahun dipakai sebagai bukti bahwa sifilis memang sudah ada di sana sebelumnya.

Jika penyakit treponemal non-kelamin lain ternyata juga bisa menular ke janin, jalur argumen itu runtuh dengan sendirinya.

"Selama puluhan tahun, infeksi kongenital pada sisa-sisa arkeologi sering dianggap sebagai bukti kuat sifilis kelamin," kata Vlok. "Riset kami menunjukkan asumsi ini mungkin tidak selalu benar. Penyakit treponemal lain mungkin juga pernah ditularkan dari ibu ke anak." Ia menambahkan bahwa "sejumlah kasus yang sebelumnya diberi label sifilis kongenital mungkin sebenarnya mewakili penyakit yang sama sekali berbeda."

Versi klaim yang lebih sempit inilah yang bisa dipertanggungjawabkan, dan itulah yang sebenarnya diajukan makalah tersebut: infeksi kongenital saja kini tidak lagi bisa diandalkan untuk membedakan sifilis kelamin dari kerabat non-kelaminnya pada material tulang. Ini tidak menyelesaikan perdebatan Columbus ke arah mana pun. Ia hanya menghapus satu kategori bukti yang selama ini dipakai kedua kubu.

Perlu ditegaskan dengan hati-hati: anak-anak asal Vietnam ini tidak terbukti mengidap sifilis kuno, dan para peneliti pun tidak mengklaim demikian. Mereka juga tidak membuktikan bahwa penyakitnya pasti frambusia. Identifikasi ini bersandar pada pola lesi dan epidemiologi populasi, bukan pada patogen yang berhasil ditemukan langsung. Hingga saat ini, belum ada bukti genetik terkonfirmasi soal sifilis kelamin pra-Columbus di mana pun, baik di dalam maupun di luar benua Amerika.

Riset genetik pada sisa-sisa tubuh dari Eropa dan Amerika justru mengungkap adanya berbagai penyakit treponemal yang beredar di masa lalu, dan inilah salah satu alasan tim peneliti berpendapat bidang ilmu ini sebaiknya berhenti memperlakukan pertanyaan ini sebagai satu kisah asal-usul tunggal. Pertanyaan yang lebih produktif, menurut mereka, adalah bagaimana berbagai penyakit treponemal ini berevolusi berdampingan dengan masyarakat manusia dan perubahan lingkungan.

 

4 dari 5 halaman

Tanah Tropis Menghancurkan DNA yang Bisa Menjawab Semuanya

Solusi paling jelas tentunya adalah mengurutkan genetik bakteri langsung dari tulang tersebut. Di Asia Tenggara, hal ini nyaris mustahil dilakukan. DNA purba terdegradasi parah di kondisi panas dan lembap, dan proses pengambilan sampelnya membutuhkan penghancuran sebagian kerangka.

"Di lingkungan tropis, memulihkan DNA purba sangatlah sulit, dan pengambilan sampel yang bersifat merusak menimbulkan pertanyaan etis yang penting," kata Minh Tran, mahasiswa PhD di University of the Philippines Diliman sekaligus co-lead author studi ini. "Riset ke depan harus bergerak ke arah baru, bekerja dalam kemitraan sejati dengan komunitas yang terhubung dengan sisa-sisa tubuh ini."

5 dari 5 halaman

Relevansi bagi Masa Kini

Relevansi temuan ini bagi masa kini bukan sekadar wacana abstrak. Vlok sendiri mengaitkan kebangkitan kembali frambusia dengan tekanan perubahan iklim. Sementara di Amerika Serikat, sifilis kongenital justru bergerak berlawanan arah dibanding kebanyakan infeksi menular seksual lainnya. Data sementara dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menunjukkan hampir 4.000 kasus bayi baru lahir pada 2024, kenaikan tahunan kedua belas berturut-turut dan hampir 700 persen lebih tinggi dibanding 495 kasus yang tercatat pada 2015, bahkan ketika klamidia, gonore, dan tahap sifilis paling menular sekalipun justru menurun.

Sifilis kongenital sebenarnya bisa dicegah lewat pemeriksaan dan pengobatan selama kehamilan. Pasien hamil disarankan menanyakan kepada dokter mereka kapan dan seberapa sering pemeriksaan skrining ini perlu dilakukan.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id