Mengapa Milenial Selalu Merasa Selera Musiknya Lebih Bagus Dibanding Generasi Setelahnya
© Pexels.com/Andrea Piacquadio
Reporter : Abidah
Perasaan superior dari milenial mengenai selara musiknya bisa dijelaskan secara psikologi dan bisa dialami oleh semua generasi. Kenali penyebabnya.
DREAM.CO.ID - "Musik zaman dulu itu lebih bagus." Kalimat ini hampir pasti pernah keluar dari mulut siapa pun yang lahir di tahun 80-an atau 90-an, biasanya sambil membandingkan lagu-lagu era mereka dengan apa yang diputar Gen Z hari ini. Tapi ternyata, perasaan ini bukan cuma soal selera pribadi atau nostalgia semata. Ada mekanisme otak yang bekerja di baliknya, dan sains punya nama untuk fenomena ini.
Dilansir dari Psychology Today, penelitian psikologi menunjukkan bahwa ingatan otobiografis manusia, yaitu kenangan tentang pengalaman hidup, tidak tersimpan merata sepanjang usia. Ada satu periode tertentu yang diingat jauh lebih kuat dibanding periode lainnya: rentang usia 10 hingga 30 tahun. Fenomena ini disebut "reminiscence bump", dan ia menjelaskan kenapa saat orang diminta memilih lagu favoritnya sepanjang hidup, jawabannya hampir selalu berasal dari periode ini.
Riset yang dipimpin Kelly Jakubowski dari Durham University, melibatkan 470 partisipan berusia 18 sampai 82 tahun. Mereka diperlihatkan 111 judul lagu populer yang pernah masuk tangga lagu sepanjang 65 tahun, dari 1950 hingga 2015, lalu diminta menilai seberapa familiar lagu itu, seberapa kuat lagu itu terkait kenangan pribadi, dan seberapa suka mereka pada lagu tersebut. Hasilnya konsisten: lagu yang populer saat partisipan berusia remaja mendapat skor tertinggi untuk familiaritas maupun kekuatan ingatan otobiografis, dengan puncak reminiscence bump musik terjadi sekitar usia 14 tahun.
Kesimpulan Jakubowski sendiri cukup mengejutkan. Ia menyebut alasan orang begitu terikat pada musik masa mudanya bukan karena mereka benar-benar yakin musik itu lebih bagus dari musik era lain, melainkan karena musik itu terhubung erat dengan kenangan pribadi mereka. Dengan kata lain, yang dirasakan milenial saat mendengar lagu-lagu era 2000-an bukan penilaian objektif soal kualitas musik, melainkan kilas balik emosional ke masa remaja mereka sendiri.
Kenapa Usia Remaja Begitu Berkesan
Ada beberapa penjelasan teoretis kenapa periode usia 10 sampai 30 tahun ini begitu dominan dalam ingatan. Periode ini dipenuhi pengalaman baru dan momen pembentuk identitas diri, yang kemungkinan tersimpan lebih dalam di otak dan lebih mudah diakses kembali. Perubahan biologis dan hormonal pada masa remaja juga diduga memperkuat efektivitas proses penyimpanan ingatan selama periode ini.
Riset dari Northeastern University menambahkan penjelasan dari sisi sosial. Masa remaja adalah periode ketika seseorang mulai bertransformasi menjadi makhluk sosial, bergeser dari lingkungan keluarga menuju keinginan diterima oleh teman sebaya. Menemukan musik baru pada masa ini membantu membangun ikatan sosial tersebut. Musik menawarkan "penghargaan sosial" lewat kedekatan dengan orang lain yang berbagi selera musik atau pengalaman musikal bersama, dan proses inilah yang membuat musik dari periode tersebut tertanam sangat dalam di ingatan.
Yang menarik, keterikatan emosional pada musik ternyata bisa menembus batas generasi. Dilansir dari Association for Psychological Science, penelitian yang dipimpin Carol Lynne Krumhansl dari Cornell University menemukan bahwa orang dewasa muda cenderung punya koneksi emosional dengan musik yang populer di masa muda orang tua mereka, sebuah fenomena yang disebut "cascading reminiscence bump". Musik yang mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya membentuk ingatan otobiografis, preferensi, dan respons emosional, bahkan pada orang yang belum lahir saat musik itu populer.
Studi tersebut bahkan menemukan gelombang reminiscence bump kedua yang lebih kecil untuk musik era 1960-an, lebih dari dua dekade sebelum partisipan penelitian lahir. Krumhansl menduga hal ini diwariskan dari generasi kakek-nenek partisipan, yang berusia 20-an atau 30-an pada dekade tersebut.
Bukan Berarti Selera Milenial Salah
Penting dicatat, fenomena ini tidak berarti selera musik generasi muda saat ini lebih buruk. Dilansir dari Psychology Today, sebagian lagu tertentu justru bisa melampaui batas generasi dan tetap dihargai lintas kelompok usia terutama ketika dibawakan kembali oleh musisi di usia yang lebih muda.
Jadi, saat seorang milenial bersikeras musik era mereka jauh lebih superior dibanding lagu-lagu yang diputar Gen Z hari ini, yang sebenarnya terjadi bukan penilaian kualitas musik secara objektif. Itu adalah otak yang memutar ulang jejak emosional dari masa ketika identitas diri mereka sedang terbentuk, saat setiap lagu terasa seperti soundtrack dari momen-momen paling berkesan dalam hidup. Generasi berikutnya, pada waktunya, akan merasakan hal yang persis sama terhadap musik yang mereka besarkan hari ini.