Tanpa Produk Baru, BNI Syariah Genjot Griya iB Hasanah

Reporter : Ratih Wulan
Rabu, 6 April 2016 11:02
Tanpa Produk Baru, BNI Syariah Genjot Griya iB Hasanah
Tahun ini BNI Syariah tidak akan melakukan penambahan produk dan akad apapun.

Dream - PT Bank BNI Syariah menyatakan tidak akan melakukan penambahan produk dan akad apapun di tahun 2016. Direktur Bisnis BNI Syariah, Kukuh Rahardjo mereka masih akan fokus mengembangkan Griya iB Hasanah yang selama ini selalu menjadi produk unggulan.

Salah satu faktor yang menjadikan pembiayaan griya konstruksi menjadi produk yang paling laris adalah kemudahan skim griya. Pada proses transaksinya, konsep sharing modal dan hasil penjualan menjadi andalan.

Dengan konsep ini, pihak developer belum diwajibkan membayar atau bagi hasil selama belum ada unit yang terjual.

" Saat developer tahu mereka sangat tertarik. Kalau di konvensional kan developer mengangsur dulu walaupun belum ada rumah yang terjual," kata Kukuh yang dijumpai di Cilegon, Banten, Selasa, 5 April 2016.

Kukuh menilai selama ini nasabah hanya membandingkan dari satu sisi saja. Sehingga saat dilihat dari sisi harga, bank syariah yang mengelola skim musyarakah terlihat tinggi pada margin dan pembagian hasilnya.

" Margin griya kalau di awal tahun dibilang tinggi. Padahal kalau bunga yang diterapkan konvensional itu menerapkan akuisisi yang memberi keringanan di depan tapi setahun dua tahun kemudian ada penyesuaian bunga," ungkapnya menambahkan.

Hal itu sangat berbeda dengan konsep yang digunakan bank syariah, yang tidak mengalami kenaikan seperser pun. Sistem pembayaran tetap 'flat' hingga lunas.

Sedangkan pada produk griya swakarya (pembiayaan properti di atas tanah wakaf) Kukuh optimis perizinan akan segera dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebab, pihak OJK telah melihat ini sebagai produk yang bagus dan sesuai dengan konsep syariah.

" Memungkinkan kita membeli aset dulu baru menjual pada masyarakat. Kalau di Timur Tengah sudah berbasis kaya gitu. Kalau jualan mobil mereka sudah punya dealer. Mudah-mudahaan bisa dikeluarkan dari OJK," ucap Kukuh.

Jaga BOPO

Pada bagian lain, Kukuh Rahardjo menegaskan Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap unsur Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan tidak dapat diganggu gugat.Anggaran yang sangat berkaitan erat dengan kesejahteraan karyawan kecil kemungkinan untuk diturunkan menjadi lebih rendah lagi.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, BNI Syariah menerapkan berbagai strategi salah satunya dengan meningkatkan dana murah serta menekan pembiayaan lebih berkualitas. Car aini diharapkan bisa mencapai target penurunan BOPO.

" BOPO saat ini 85 persen dan mau dijaga tetap diangka 80-85 persen. Tahun 2015 kemarin BOPO 88 persen," terang Kukuh saat dijumpai di Cilegon, Banten.

Menurut Kukuh, selama ini alokasi BOPO terbesar berada pada pembiayaan dana pihak ketiga. Disusul pencadangan pembiayaan dana aset lainnya, sumber daya manusia dan terakhir dana operasional.

Lebih jauh, BNI Syariah juga tengah merancang upaya menekan BOPO lewat peningkatan kualitas teknologi. Hingga saat ini, berbagai fasilitas seperti mesin ATM BNI Syariah masih ditopang oleh induk usaha, PT Bank Negara Indonesia Tbk.

 

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone