Heboh Restoran Kenakan Pajak Corona Biar Usaha Bertahan

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 18 Mei 2020 09:33
Heboh Restoran Kenakan Pajak Corona Biar Usaha Bertahan
Ada yang memaklumi langkah pengelola restoran. Banyak pula yang menuduhnya memanfaatkan isu corona.

Dream – Di tengah pandemi corona yang sedang melanda dunia, banyak pengusaha yang memutar otak untuk bertahan di industrinya masing-masing. Salah satu yang terkena dampak akibat corona yaitu usaha restoran.

Meski dirundung penghasilan yang makin seret, tak lantas para pelaku usaha ini menarik pemasukan lewat tagihan yang tak masuk akal. 

Baru-baru ini tempat makan Por ejemplo Goog's Pub & Grub di Holland, Michigan menghebohkan jagat twitter. Pemilik usaha ini menerapkan pajak baru baru para pelanggan yang datang ke tempat makan mereka. Pengelola mengenakan pajak Covid-19 bagi para tamu.

Dikutip dari TMZ, Minggu 17 Mei 2020, pemilik resto tersebut, Brad White, mengatakan usahanya harus bisa beradaptasi di tengah perekonomian yang tidak stabil. Hal ini ia lakukan sebagai upaya menutupi kenaikan harga bahan pokok dan persediaan restoran.

White mengatakan bahwa setiap pembelian akan dikenakan biaya tambahan sebesar 86 sen untuk semua jenis barang pesanan seperti tas, peralatan makan, bumbu dan wadah styrofoam bagi pesanan take-away.

Pemiliki resto tersebut mengatakan, sebelum pandemi corona melanda, restonya dapat menjual 1.500 burger per minggu dengan harga satu bungkus daging yang hanya US$50 (Rp700 ribu).

Namun, setelah Covid-19 melanda, harga satu bungkus daging bisa mencapai US$96 (Rp1,4 juta). Covid-19 telah memukul keras pabrik daging di seluruh negeri, menjadikan pengolahan daging menjadi sulit.

1 dari 7 halaman

Akhirnya Mengerti

Setelah penjelasan White tersebut, nampaknya masyarakat mulai mengerti mengapa pihak restoran harus menambahkan pajak tambahan. White juga mengaku, sebagian besar orang memahami perlunya pengelola restoran melakukan penambahan pajak.

Namun tak semua setuju dengan tindakan White. Ada pula yang menuduhnya mencoba mengekspolitasi konsumen dengan alasan pandemi.

White membantah tudingan tersebut dengan mengatakan usahanya telah melakukan penghematan di berbagai hal. Salah satu caranya yaitu dengan memecat beberapa karyawan. Sebelum pandemi, resto milik White memiliki 35 pegawai, saat ini dirinya hanya memiliki 16 pegawai.

Selain itu, White tetap merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga para pegawainya yang hanya 16 orang. Ia kemudian menaikkan upah per jam mereka dari US$6 (Rp90 ribu) menjadi US$10 (Rp150 ribu).

White pun memastikan untuk para pelanggannya akan menghapuskan pajak Covid-19 ketika keadaan kembali normal.

Pandemi corona memang memukul keras banyak sektor industri. Beginilah salah satu cara para pengusaha memutar otak mereka agar tetap bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.

2 dari 7 halaman

Gara-gara Corona, Harta Bos Louis Vuitton Anjlok Rp448 Triliun

Dream – Pandemi corona membuat miliarder kebangsaan Perancis, Bernard Arnault, tekor. Kekayaan pemilik brand Louis Vuitton, LVMH Group ini melorot hingga ratusan triliun rupiah.

Dikutip dari Liputan6.com yang melansir Indian Express, Kamis 14 Mei 2020, kekayaan Arnault anjlok 19 persen tahun ini, dan hartanya ambles US$30 miliar atau kurang lebih Rp448 triliun (estimasi rupiah 14.935 per dolar AS), menurut data Bloomberg Billionaire Index.

Per 6 Mei yang lalu, Arnault kehilangan jumlah uang yang sama dengan jumlah uang yang justru diraup miliarder Amazon, Jeff Bezos di masa pandemi.

 

© Dream

 

Keluarga Arnault sudah memulai menjalankan bisnis fesyen sejak 1980. Salah satu merek kenamaan mereka, Louis Vuitton, memiliki profit margin sebesar 45 persen.

Merek produk fesyen dan gaya hidup yang dikelola group LVMH khusus diperjualbelikan untuk para orang kaya, yang hendak menghabiskan uang mereka untuk barang mewah.

3 dari 7 halaman

Mayoritas Toko Tutup Akibat Corona

Namun sejak virus Corona menyebar, semua tak sama lagi. Hampir sebagian besar butik fesyen milik LVMH tutup dalam jangka waktu lebih dari sebulan.

Kegiatan " orang kaya" seperti fashion show yang diiringi pesta, kehidupan malam yang mewah dan restoran mewah tutup karena physical distancing harus diterapkan.

Parahnya, di tengah kondisi demikian, Arnault juga harus membayar USD 16 miliar untuk proses akuisisi perusahaan perhiasan, Tiffany & Co.

" Virus Corona adalah badai sempurna untuk menghancurkan bisnis fesyen dan perhiasan," kata pemilik lembaga konsultasi Ortelli & Co. in London, Mario Ortelli.

Untuk menjaga agar bisnis tetap bertahan hidup, perusahaan berencana memangkas 30 hingga 35 persen belanja modal mereka tahun ini dan menunda pembukaan toko baru serta renovasi outlet.

Outlet Sephora (salah satu merek kosmetik LVMH) di Amerika juga sudah memangkas 3.000 pekerja pada awal April lalu.


(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma) 

4 dari 7 halaman

Demi Selamatkan Bisnis, Miliarder Jual Saham Perusahaan Antariksa Rp7,5 Triliun

Dream – Pendiri Virgin Group, Richard Branson, berencana melepas saham perusahaan ruang angkasa, Virgin Galactic. Nilainya saham yang akan dijual itu mencapai US$504,5 juta atau sekitar Rp7,56 triliun.

" Virgin bermaksud menggunakan hasil apapun untuk mendukung portofolio bisnis liburan dan perjalanan global yang terdampak COVID-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata perusahaan dikutip dari Liputan6.com, Selasa 12 Mei 2020.

Penjualan hingga 25 juta lembar saham biasa Virgin Galactic akan dilakukan secara bertahap melalui transaksi broker biasa.

Saham yang ditawarkan hanya mewakili di bawah 22 persen dari total saham Virgin Galactic milik Branson. Nilai total saham mencapai US$2,32 miliar (Rp34,61 triliun), di mana harga per saham US$20,18 (Rp301.067) per saham.

 

© Dream

 

Maskapai penerbangan Virgin Group, menjadi salah satu yang terpukul penurunan tajam pada industri penerbangan imbas pandemi Virus Corona. Bulan lalu, Branson mengatakan Virgin Atlantic dan Virgin Australia akan membutuhkan pinjaman pemerintah.

Bahkan, maskapai penerbangan asal Inggris Virgin Atlantic memutuskan untuk memangkas 3.150 pekerja dan menghentikan beberapa penerbangan imbas pandemi Corona yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

CEO Virgin Atlantic, Shai Weiss menyatakan, selama 36 tahun beroperasi, maskapai tidak pernah menghadapi situasi seperti Covid-19 dimana hampir seluruh sektor mengalami kehilangan yang luar biasa besar.

Maskapai mengatur ulang strategi untuk mempertahankan kelangsungan bisnis dengan mengurangi biaya operasional dan menumpuk uang tunai.

" Sangat krusial karena kita bisa mengembalikan keuntungan di tahun 2021. Ini berarti kita harus mengambil langkah untuk membentuk ulang Virgin Atlantic. Saya harap bukan itu masalahnya, tapi kami benar-benar harus mengurangi pekerja," kata Weiss.

(Sumber: Liputan 6.com/Nurmayanti)

5 dari 7 halaman

Streaming dan Game Online Melonjak Pas Wabah Corona, Pria Ini Jadi Miliarder

Dream – Kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH) menjadi “ ladang uang” bagi segelintir orang. Selain pemilik aplikasi vdeo coneference zoom, wabah Covid-19 juga telah membawa tumpukan uang buat CEO Cloudflare Inc, Matthew Prince.

Dikutip dari Liputan6.com, Selasa 12 Mei 2020, saham perusahaan Cloudflare mendadak melonjak sebelum laporan keuangan perusahaan ditutup.

 

© Dream

 

Nilai saham perusahaan asal San Fransisco, Amerika Serikat tersebut naik 14 persen menjadi US$28,52 (Rp424.441) per lembar, membuat kekayaan Matthew menyentuh angka US$1,08 miliar (Rp16,07 triliun), demikian laporan Bloomberg Billionaires Index.

" Cloudflare menjadi penyedia layanan steeaming, gaming dan e-commerce ketika orang-orang melakukan kegiatannya dari rumah," kata analis Bloomberg Intelligence Mandeep Singh.

6 dari 7 halaman

Saham Meroket hingga 90 Persen

Sejak IPO pada September lalu, nilai saham perusahaan tercatat melonjak 90 persen. Cloudflare dikenal akan penyediaan jaringan dan manajemen trafik yg memungkinkan situs cloud-based beroperasi dengan lebih efektif.

Matthew yang membantu peluncuran perusahaan di tahun 2009 memiliki saham sekitar 12,5 persen, sedangkan Co-foundernya Michelle Zatlyn memiliki saham 4,8 persen.

Ketika diimintai keterangan mengenai kejelasan status miliarder Matthew, juru bicara Cloudflare Daniella Vallurupalli belum memberikan komentar dan respon apapun.

7 dari 7 halaman

Bergabung dengan Jeff Bezos dan Eric Yuan

Dengan demikian, Matthew turut bergabung dengan jajaran miliarder yang tambah kaya selama pandemi Corona selain CEO Amazon Jeff Besoz, CEO Netflix Reed Hastings dan CEO Zoom Eric Yuan, yang kekayaannya naik dua kali lipat tahun ini menjadi US$7,8 miliar (Rp116,07 triliun).

Sementara dalam penutupan perdagangan, Cloudflare diprediksi meraup keuntungan US$87 juta (Rp1,29 triliun) pada kuartal I tahun ini, naik 41 persen dari tahun sebelumnya, demikian menurut analis dalam survey Bloomberg.

(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)

Beri Komentar