Bursa Efek Indonesia (sumber: Http://merdeka.com)
Dream - Aksi buru saham jelang penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengangkat mengangkat indeks saham acuan yang melaju flat sepanjang perdagangan. Aksi beli pemodal asing turut mendorong penguatan ini.
Pada penutupan perdagangan BEI, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menanjak 0,508 poin (0,30%) ke level 171,203.
ISSI mengawali perdagangan di zona merah usai melemah ke level 170,501. Hampir sepanjang perdagangan, ISSI hilir mudik masuk zona merah. ISSI bahkan sempat terkoreksi ke level 169,695.
Adanya aksi beli jelang penutupan perdagangan menambah tenaga bagi laju ISSI. Terbukti kenaikan harga saham dari 116 emiten syariah membuat ISSI mengakhiri perdagangan di zona positif.
Namun papan perdagangan ISSI masih dipenuhi emiten yang bergerak melemah sebanyak 69 emiten dan 57 lainnya stagnan.
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencapai 32,08 miliar saham dengan nilai Rp 4,11 triliun.
Dominasi kenaikan harga saham juga melanda emiten keping biru syariah. Penguatan harga saham dari 23 emiten syariah mendorong Jakarta Islamic Index (JII) menguat 2,281 poin (0,32%) ke level 707,709.
JII masih meninggalkan 5 emiten bluechips syariah di zona merah dan 2 lainnya stagnan.
Sama seperti ISSI, JII juga mengawali perdagangan di zona merah di level 704,135. Indeks saham unggulan syariah ini bahkan sempat terperosok ke level terendah 699,590.
Sebanyak 8,31 miliar saham syariah ditransaksikan pelaku pasar dengan nilai Rp 2,66 triliun.
Secara umum, bursa saham Indonesia memang terselamatkan aksi beli jelang penutupan perdagangan. Indeks saham acuan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat ditutup menguat 17,125 poin (0,33%) ke level 5.277,149.
IHSG pagi tadi mengawali perdagangan dengan turun tipis 5,5 poin (0,11%) ke level 5.254,45.
Lantai bursa kali ini dibanjiri dana investor hingga Rp 6,4 triliun dari perpindahantangan 51,39 miliar saham. Pemodal asing masih mempertahankan aksi beli dengan nett buy Rp 646,43 miliar.
Emiten di sektor aneka industri menjadi satu-satunya indeks sektor yang bergerak melemah sebesar 2,03 persen. Sebaliknya emiten komoditas, pertambangan dan pertanian, menjadi buruan pelaku pasar dengan mencetak kenaikan 1,36 persen dan 1,21 persen.