4 Tips Investasi untuk Kaum Milenial

Reporter : Cynthia Amanda Male
Selasa, 12 November 2019 13:10
4 Tips Investasi untuk Kaum Milenial
Ada generasi milenial yang belum berinvestasi karena tak mau dan tak tahu.

Dream - Kalau dulu milenial dipandang sebagai sosok yang mengedepankan gaya daripada menabung, kini generasi ini disangkutpautkan dengan investasi.

Kaum milenial mulai melek investasi. Sebagian di antaranya punya deposito berjangka, menabung emas, membuka reksa dana, sampai bermain saham.

Akan tetapi, tak sedikit pula yang masih ragu-ragu untuk memulai. Entah karena enggan berinvestasi atau tidak memahami instrumennya.

Supaya tidak kebingungan dengan investasi, pengamat investasi Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, berbagi tip menanam modal untuk milenial.

" Pertama, harus menentukan investasi," kata Bhima dalam peluncuran " Logam Mulia Waris" oleh PT Sampoerna Gold Indonesia di Sampoerna Strategic Square, Jakarta Pusat, Senin 11 November 2019.

Bhima menekankan apakah investasi itu untuk pembelian motor, mobil, atau rumah sendiri. Sebab, cara investasi masing-masing kebutuhan itu berbeda-beda.

Ke dua, generasi milenial harus mau mempelajari instrumen yang cocok untuk generasi milenial. Misalnya, emas digital, saham, obligasi, surat utang, dan lain-lain.

" Pelajari yang paling nyaman dan dimengerti. Bisa juga beli di e-commerce reksa dana dan lain-lain," kata Bhima.

Menurut dia, tak ada batasan usia dalam investasi. Malah, usia seseorang untuk investasi kini semakin muda.

" Sekarang trennya justru anak masih kuliah. Semester awal tapi bisa manage uang yang dikasih orangtua. Semakin dini, semakin bagus. Apalagi, dengan perkembangan teknologi, informasi investasi yang cocok sama umur kita semakin gampang dicari," kata dia.

1 dari 7 halaman

Pahami Risiko dan Ukur Kemampuan

Ke tiga, memahami risiko. Bhima mengatakan orang harus memahami dulu risiko investasi dan jangan ikut latah.

" Ada yang sukses dengan investasi saham, terus kita latah dengan kondisi ekonomi kayak sekarang. Latah ke saham, risikonya gede," kata dia.

Ke empat, Bhima menekankan generasi milenial harus bisa mengukur kemampuan diri dan mengalokasikan dana minimal untuk dialokasikan secara rutin.

" Saya, sih, minimal punya standar 30 persen dari penghasilan itu ditabung untuk investasi. Misalnya, untuk cicil 30 persen. Untuk milenial, 2 bulan dia baru bisa beli emas 5 gram, 10 gram. Itu jadi menarik," kata dia.

2 dari 7 halaman

Survei: Generasi Z Lebih Optimistis daripada Milenial

Dream – Generasi Z disebut-sebut bakal membawa angin segar bagi dunia kerja. Menurut survei, generasi ini juga lebih tahan di tempat kerja daripada kaum milenial yang lahir di kisaran 1982 hingga 1996.

Menurut survei yang dilakukan Korn Ferry, generasi Z membawa banyak optimisme dan punya banyak tujuan. Apalagi, generasi yang lahir pada 1997 hingga 2010 ini termasuk ke dalam angkatan kerja yang nantinya mendominasi pasar tenaga kerja.

Saat ini, Indonesia sedang memasuki era “ bonus demografi”, di mana proporsi jumlah penduduk usia produktif berada di atas dua pertiga dari jumlah penduduk keseluruhan. Hal ini didukung oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yang menyatakan bahwa era “ bonus demografi” akan dialami Indonesia pada periode antara 2020-2030.

Pada rentang tahun tersebut, jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedangkan 30 persen merupakan penduduk yang tidak produktif. Persentase ini akan semakin ideal saat memasuki masa puncak yaitu antara tahun 2028-2030.

Hasil survei ini menunjukkan dua pertiga responden percaya bahwa generasi Z lebih pede terhadap masa depan daripada generasi Y. Ada 53 persen responden menyebut generasi ini membawa lebih banyak motivasi ke tempat kerja dibandingkan dengan generasi milenial dan lebih dari 54 persen responden berpendapat bahwa Gen Z lebih menekankan pada apakah pekerjaan mereka memiliki tujuan.

" Gen Z lebih optimistis didukung dengan fakta bahwa generasi tersebut adalah generasi yang baru memasuki dunia kerja profesional dan mereka masih sangat bersemangat dan siap menghadapi segala tantangan yang akan muncul," kata Principal Advisory Korn Ferry Indonesia, Melisa Soentoro, di Jakarta.

Melisa mengatakan, rasa optimisme itu berasal dari lingkungan, generasi Z tumbuh di lingkungan yang makmur.

“ Aspek lain yang juga mungkin mempengaruhi adalah faktor lingkungan yang membentuk pola pengasuhan tertentu. Kita telah melihat hampir satu dekade kemakmuran, yaitu era di mana Gen Z dibesarkan,” kata dia.

3 dari 7 halaman

Bagaimana dengan Generasi Milenial?

Melisa mengatakan, generasi milenial memerlukan umpan balik yang konsisten. Mereka termotivasi oleh kepercayaan kepada para pemimpin dan peluang untuk tumbuh berkembang.

“ Oleh karena itu, para pemimpin perusahaan yang memahami perbedaan dalam beragam generasi dapat memupuk kolaborasi yang lebih besar di antara seluruh karyawan untuk mencapai keberhasilan perusahaan,” kata dia.

Jika melihat dari tekanan, 67 persen responden mengatakan generasi milenial lebih tertekan di tempat kerja daripada Z serta 58 persen responden menyebut milenial lebih termotivasi oleh gaji dan kompensasi dan 65 persen lainnya karena proses kenaikan karier yang cepat.

Selain itu di dalam survei, penilaian terhadap responden dilakukan untuk menentukan generasi mana yang lebih memiliki keseimbangan kerja dan kehidupan (work/life balance) dan mudah diajak bekerja sama.

“ Sangatlah penting bagi para pemimpin perusahaan untuk memahami apa yang memotivasi semua karyawan untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaan mereka setiap hari dan untuk menciptakan budaya di mana semua karyawan merasa didukung dan dihargai,” kata dia. 

4 dari 7 halaman

Generasi Milenial Keluhkan Gaji yang Tak Sebesar Biaya Hidup

Dream – Bagi generasi milenial, bukan rahasia lagi bahwa gaji fresh graduate kadang tak bisa mencukupi biaya hidup. Ada kesenjangan besar antara biaya hidup jika dibandingkan dengan gaji standar.

Seperti yang dikeluhkan seorang warganet asal Malaysia yang dimuat oleh World of Buzz berikut ini. Sebagaimana dikutip Dream, Rabu 3 Juli 2019, warganet dengan akun Twitter @InjangNation mencuit bahwa generasi milenial di sana mengalami kesenjangan besar antara biaya hidup dengan gaji standar.

 

 

Menurut dia, 19 tahun yang lalu, harga nasi goreng sekitar satu hingga dua ringgit (Rp3.414-Rp6.829), sementara gajinya sebesar 1.500 hingga 2.000 ringgit (Rp5,13 juta—Rp6,83 juta).

“ Sekarang sepiring nasi goreng sekitar 5 ringgit—6 ringgit (Rp17.073—Rp20.487). Gaji yang berkisar antara 5 ribu hingga 6.500 ringgit (Rp17,07 juta—Rp22,19 juta), kan?” cuit Si Injang.

“ Saya tak tahu apakah hanya buruk dalam matematika, tapi sepertinya biaya hidup meningkat, sementara kisaran gaji yang mengikuti standar yang lebih tua,” cuit di lagi.

5 dari 7 halaman

Dianggap Pemalas?

Si Injang juga menyoroti pandangan masyarakat terhadap generasi milenial. Bagi masyarakat, generasi ini dinilai malas dan buruk, terutama bagi generasi yang lebih tua.

Warganet ini juga menunjukkan bagaimana kesenjangan ekonoi untuk menemukan cara menstabilkan status keuangan dengan mengambil pekerjaan sebagai pengantar makanan.

“ Kami bahkan tidak mampu membeli rumah meskipun generasi yang lalu membelikan masing-masing anaknya rumah, sementara yang satu menyewakan satu kepada kami,” cuit Si Injang.

Dengan kesenjangan ini, Si Injang mencuit, alih-alih bisa membeli rumah, generasi milenial juga kesulitan untuk menikah karena biaya pernikahannya tinggi.

“ Kami sering berpikir dua kali sebelum membentuk keluarga,” cuit dia,

6 dari 7 halaman

Bahkan 3 Pekerjaan Tak Cukup

Si Injang mengatakan harga barang sepanjang 2019 semakin naik, tapi gaji tetap mengikuti aturan tahun 2000. Inilah yang membuat warganet kesal.

“ Bahkan kita mengambil 2-3 pekerjaan, tetap saja tak cukup untuk hidup,” cuit dia.

 

 

Lagipula, Si Injang mengatakan tak logis dengan gaji minimum 1.500 ringgit pada 2019. “ Ini tidak logis, tapi masih eksis. Ini kenyataan yang harus dihadapi bahwa kita harus menghadapi hidup,” kata dia.

7 dari 7 halaman

Bantah Anggapan Pemalas

Si Injang juga menepis anggapan generasi Y merupakan pemalas. Dikatakan bahwa generasi Y bukan malas, melainkan tak punya gaji yang cukup untuk menghidupi kebutuhannya.

“ Aset (generasi terdahulu) bisa mencukupi 19 generasi sebelum habis. Gaji kami? Akan habis selama seminggu,” cuit dia.

Unggahan Si Injang menjadi viral dan telah dicuit sebanyak 19.100 kali.

Beri Komentar
Anak Millenial Wajib Tahu, Ini Tips Umroh Tenang Tanpa Utang