Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Orang Kaya Di Shanghai, Tiongkok, Rela Merogoh Kocek Senilai Jutaan Rupiah Untuk Les Etiket. (Foto: Next Shark)
Dream – Di Shanghai, Tiongkok, menyeimbangkan buku di atas kepala merupakan salah satu dari etiket dan sopan santun. Orang-orang kaya di Negeri Tirai Bambu tak segan merogoh kocek yang lumayan untuk mengajari anak-anaknya tentang sopan santun.
Bahkan, untuk berjalan dengan menyeimbangkan buku di atas kepala.
Kalau bisa, anak-anaknya terlihat seperti Tuan Muda atau Nona Muda di kalangan orang-orang kaya.
Dikutip dari South China Morning Post, Jumat 14 Juni 2019, sekolah etiket ini bernama Academic De Bernadac. Sang pendiri, Guillame De Bernadac, mendirikan sekolah ini pada 2014.
Pihak Shanghai mendekati lembaga pendidikan untuk merancang program di sekolah-sekolah kota. Salah satu anak didik De Bernadac adalah Danielle Liu.
Gadis cilik ini belajar adab sopan santun di Academic De Bernadac bersama tujuh anak kecil lainnya di hotel bintang lima di pusat Shanghai. Mereka mengenakan pakaian formal, seperti gaun untuk anak perempuan serta dasi kupu-kupu, jas, dan sepatu hitam mengkilap untuk anak lelaki.
Materi yang didapatkan anak orang kaya ini belajar tentang etiket, seperti jalan seimbang dengan buku di atas kepala, tak menjauhkan siku ketika makan, dan tidak berjalan bungkuk. Anak-anak yang rata-rata berusia 7 tahun-10 tahun ini mendapatkan ikatan pita merah di belakang bahu.
Ibu Danielle, Cheng Liyan, ingin anak satu-satunya menjadi wanita yang sempurna. Wanita ini juga mengikutsertakan anaknya les renang, akademis, dan piano.
“Untuk menjadi seperti wanita, atletis, dan akademis, saya berharap dia bisa mengembangkan dirinya secara menyeluruh,” kata dia.
Agar bisa mengikut kelas ini, Cheng bersama para orang tua lainnya merogoh kocek 2.688 yuan (Rp5,54 juta) selama empat jam, atau 672 yuan (Rp1,39 juta) per jam. Wanita ini tak keberatan untuk merogoh kantong agar putrinya bisa “bersaing” dengan orang-orang kaya lainnya.
Ketika mendirikan lembaga pendidikan, De Bernadac ini tak ingin membuat anak-anak bersikap lebih Barat, tetapi menanamkan cara bersikap, terutama ketika berada di luar negeri.
“Jika kamu pindah ke lingkungan internasional dan menghadapi budaya lain, kami memberikan kunci untuk beradaptasi,” kata dia.
Pria ini tak memiliki pelatihan formal, tapi menggunakan pedoman yang digunakan oleh kakek dan paman buyutnya.
Dikatakan bahwa leluhurnya dikirim ke Maroko pada 1920-an sebagai pembimbing kaum bangsawan. Salah satu yang diajarkan adalah cara bersikap dan sopan santun.
De Bernadac juga mengatakan Shanghai tertarik dengan sekolah sopan santun. Dikatakan bahwa negara ini ingin menjadi bagian dari desa global.
Dia juga mengatakan bahwa anak-anak terlihat menikmati pengajaran yang dilakukan di akademi itu. “Anak-anak haruslah tetap menjadi anak-anak. Tapi, setidaknya mereka harus memiliki disiplin,” kata De Bernadac.
Salah satu materi yang diajarkan adalah cara bersikap di situasi publik. Dikatakan bahwa berteriak di depan umum tidaklah pantas. “Misalnya, dalam situasi publik, mereka tidak bisa berteriak. Itu sangat tidak pantas,” kata Bernadac.
Sekadar informasi, akademi ini juga membuka kelas untuk orang dewasa. Materinya yang diajarkan juga etiket dan sopan santun.(Sah)
Advertisement

Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, Apa Penyebabnya? Bukan Sekadar Soal Pasokan Energi

Benarkah Otot Bisa Berubah Menjadi Lemak Jika Berhenti Olahraga? Ini Penjelasan Ahli

Pawang Hujan Bisa Mendatangkan atau Mengusir Hujan? Ini Jawaban Sains




Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?