Pandemi Covid-19 Pangkas Pengeluaran Muslim untuk Modest Fashion

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 30 November 2020 10:12
Pandemi Covid-19 Pangkas Pengeluaran Muslim untuk Modest Fashion
Bahkan, peritel memangkas outlet fisik demi bertahan.

Dream – Pandemi Covid-19 turut menekan sektor fashion Muslim. Pengeluaran masyarakat muslim untuk belanja berbagai model fashion santun diperkirakan akan merosot 2,9 persen.

Mengutip dat aterbaru dari State of Islamic Global Economy 2020/2021, pengeluaran muslim pada 2019 diperkirakan mencapai US$277 miliar (Rp3.897,83 triliun). Pandemik yang melanda seluruh dunia pada tahun ini kemungkinan akan memangkas pengeluaran tersebut sebesar 2,9 persen menjadi US$268 miliar (Rp3.711,19 triliun).

Pandemi Covid-19 dikaui ikut memukul industri fashion muslim global. Penjualan anjlok dan peritel mengurangi outlet fisik. Bahkan, tak sedikit yang gulung tikar dan menutup usahanya.

Contoh fesyen modest yang menjadi korban “ keganasan” virus Covid-19 adalah The Modist—platform e-commerce mewah di Teluk Persia dan Hijup Inggris yang tutup setelah beroperasi selama 18 bulan.

Bulan Ramadan menjadi lebih lesu karena penjualan terpengaruh pandemi Covid-19. Biasanya, Ramadan selalu meramaikan penjualan fesyen modest.

Industri ini diperkiraka akan pulih dengan lambat. Pada 2024, diperkirakan pengeluaran Muslim untuk fesyen modest naik 3,8 persen dari 2020 yang sebesar US$268 miliar ke US$311 miliar (Rp4.376,27 triliun) pada 2024. Namun, tanpa ekosistem yang kuat, industri ini tidak akan mampu bangkit.

1 dari 5 halaman

Ada Tantangan, Muncul Peluang

Di tengah pandemi ini, penjualan online menjadi sangat penting dan merek-merek baru bermunculan. Brand-brand pakaian juga mengembangkan seri pakaian olahraga modest, seperti Spark Perform dari Mesir yang merilis koleksi pakaian atlet.

Merek-merek tertentu memanfaatkan naiknya popularitas fesyen modest dengan pencarian di internet yang naik 90 persen pada 2019. Misalnya, Uniqlo dan Banana Republic yang menampilkan koleksi hijab. Lalu, merek hijab Malaysia, dUck, bekerja sama dengan Disney untuk merilis koleksi Frozen 2 dan ini habis terjual dalam dua jam.

Di Indonesia, fesyen modest berkembang baik secara online. Platform e-commerce, Evermos, mengumpulkan dana US$8,25 juta dalam pendanaan seri A. Platform ini siap bersaing dengan Hijup dan Tokopedia.

Selain itu, pengembangan produk juga menyesuaikan diri dengan pandemi, yaitu membuat alat perlindungan diri (APD). Misalnya, ada koleksi hijab untuk pekerja kesehatan.

 

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 5 halaman

Terdampak Covid-19, Ekonomi Syariah Tak Separah Konvensional

Dream – Ekonomi syariah turut terdampak pandemi Covid-19. Namun, dampaknya tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan perekonomian konvensional.

“Menurut State of Global Islamic Economy Report 2020/2021, perlambatan ekonomi syariah global tidak separah pertumbuhan ekonomi konvensional global secara keseluruhan,” kata Wakil Presiden, Ma’ruf Amin, dalam Indonesia Islamic Festival (IIFEST) 2020 Webinar Series, Kamis 26 November 2020.

Wapres menyampaikan perekonomian global mengalami kontraksi sekitar 5,2 persen sejak pandemik Covid-19 muncul. Sebaliknya perekonomian syariah di dunia hanya mengalami pertumbuhan minus 2,5 persen.

Dari berbagai bidang usaha syariah dunia tercatat sektor makanan dan minuman halal terkontraksi 0,2 persen, kosmetik halal 2,5 persen, dan fesyen Muslim 2,9 persen.

 

© Dream

 

Meskipun tumbuh negatif, Wapres melihat permintaan produk halal masih harus dimanfaatkan pelaku usaha syariah. Sebelum pandemi, kata dia, perkiraan pasar halal global mencapai US$3,2 triliun pada 2024. Lalu, setelah pandemi, diprediksi pasar halal mencapai US$2,4 triliun pada 2024.

“Peluang ini harus dimanfaatkan untuk membantu perekonomian nasional,” kata Ma’ruf.

Dia mencontohkan Indonesia menjadi konsumen terbesar produk halal dunia yang senilai US$214 miliar untuk makanan dan minuman halal. Sementara itu, kontribusi ekspor makanan halal baru 3,8 persen dari pasar dunia. Padahal, ekspor produk halal masih didominasi negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.

“Selain mengisi pasar domestik, (ekspor produk halal) untuk memperluas perdagangan global,” kata dia.

 

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

3 dari 5 halaman

Fatwa Jadi `Ruh` dalam Ekonomi Syariah, Mengapa?

Dream – Fatwa merupakan ruh atau jiwa di dalam sistem ekonomi syariah. Fatwa berperan penting dalam sistem ekonomi ini.

" Karena fatwa ini akan memberikan koridor dan batasan atas kesyariahan suatu transaksi yang seyogyanya sejalan dengan dinamika dan perkembangan zaman,” kata Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Wimboh Santoso, dikutip dari Liputan6.com, Rabu 28 Oktober 2020.

Fatwa menjadi penting dan pembeda antara keuangan syariah dan konvensional. Keputusan atau fatwa yang diberikan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) merupakan hasil ijtihad kolektif atau dikenal dengan nama ijtihad jama'i.

 

© Dream

 

“Tentu dari derajatnya ijtihad ini mempunyai kekuatan yang lebih kuat atau lebih tinggi, terutama apabila dibandingkan dengan ijtihad yang dilakukan oleh individual ulama,” kata Wimboh.

Adapun di Indonesia, fatwa yang diterbitkan khususnya mengenai transaksi keuangan syariah, berperan sangat penting dalam pengembangan industri keuangan berbasis syariah.

“Karena itu akan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap syariah kesyariahannya atas produk dan layanan yang dikeluarkan lembaga keuangan syariah,” kata dia.

(Sumber: Liputan6.com/Maulandy Rizky Bayu Kencana)

4 dari 5 halaman

Diakui `Tahan Banting`, Ekonomi Syariah Hadapi Kendala Literasi Masih Minim

Dream – Sistem ekonomi syariah bisa menjadi salah satu solusi untuk memulihkan perekonomian nasional yang terdampak pandemi Covid-19. Ekonomi syariah memiliki sistem yang lebih stabil dan tahan banting, serta memegang prinsip berkelanjutan dan berkeadilan.

“Sistem ekonomi syariah diharapkan bisa menjadi salah satu solusi karena telah membuktikan diri sebagai sistem ekonomi yang mampu bertahan dalam keadaan pandemi Covid-19,” kata Direktur Utama BRIsyariah, Ngatari, dalam “Workshop Perbankan Syariah: Memacu Literasi Keuangan Syariah Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional”, Senin 5 Oktober 2020.

Meski terbukti ampuh, Ngatari mengatakan perbankan syariah masih menghadapi tantangan dari masih rendahanya pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah. Dia mendorong kegiatan literasi ekonomi dan keuangan syariah dimaksimalkan. Tujuannya agar masyarakat bisa memahami kekuatan dan keuntungan sistem perekonomian ini.

“Masih banyak ruang yang harus bersama-sama diisi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ekonomi dan keuangan syariah,” kata dia.

5 dari 5 halaman

Perlu Inovasi?

Chief Investment Strategies&Direktur PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, mengatakan upaya dari berbagai pihak diperlukan untuk meningkatkan literasi masyarakat. Terutama, berkaitan dengan pilihan instrumen investasi berbasis syariah. Pilihan instrumen investasi yang beragam bisa mendorong masyarakat agar berinvestasi, terutama generasi milenial.

“Masih banyak masyarakat yang bertanya soal halal-haram,” kata Budi.

Dia menyarankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) membuat terobosan untuk menggenjot angka literasi keuangan syariah.

“Mungkin ke depannya OJK, BEI, atau dewan syariah bisa menyarankan masjid-masjid untuk mencontohkan di sukuk dan instrumen syariah lainnya,” kata dia. 

Beri Komentar