Potensi Merger Bank Syariah Milik BUMN Harus Diantisipasi

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 26 Oktober 2020 17:46
Potensi Merger Bank Syariah Milik BUMN Harus Diantisipasi
Apalagi jika bicara soal tenaga kerja.

Dream – Pemerintah diminta menyiapkan antisipasi potensi kegagalan merger bank syariah milik BUMN, misalnya terciptanya pengangguran baru akibat aksi korporasi ini.

“ Merger dipastikan bisa menaikkan market share bank syariah di industri perbankan nasional. Di sisi lain, merger juga tidak boleh melahirkan pengangguran baru,” kata Dosen IPB University dari Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Mukhamad Najib, dikutip dari keterangan tertulis, Senin 26 Oktober 2020.

Pada umumnya, tambah Najib, merger diikuti dengan perampingan perusahaan. Dalam proses ini, tak semua pegawai bisa terlibat di perusahaan baru. Proses ini bisa membuka lahirnya pengangguran baru.

Jika tujuannya untuk menguatkan modal agar bank syariah bisa ekspansi lebih luas lagi, kata dia, merger memang perlu dilakukan.

“ Saat ini kita memiliki bank syariah dengan aset yang relatif kecil, dengan merger. tentu modal dan asetnya menjadi jauh lebih besar. Dengan skala ekonomi yang lebih besar, maka diharapkan akan memudahkan bank syariah yang baru untuk melakukan ekspansi pasar yang lebih luas,” kata Najib.

1 dari 3 halaman

Efektif Tekan Persaingan Bisnis Bank Syariah?

Menurut dia, secara teoritik, ada banyak tujuan merger. Salah satunya adalah untuk memperkecil persaingan sehingga terbentuk perusahaan yang bersifat monopoli.

Jika tujuannya seperti itu, menurut Dr Najib, hal tersebut tidak akan efektif untuk meningkatkan pangsa pasar bank syariah di industri perbankan nasional.

“ Kalau tujuan utamanya adalah meningkatkan aset dan modal secara cepat sehingga pemerintah punya bank syariah yang besar, maka merger cukup efektif,” kata dia.

2 dari 3 halaman

Jika untuk Perluas Pangsa Pasar?

Sementara, jika merger bertujuan untuk memperluas pangsa pasar bank syariah dalam industri perbankan nasional maka merger yang sedang berlangsung ini belum tentu bisa efektif. Saat ini, pangsa pasar bank syariah adalah 7-8 persen.

Merger akan menghasilkan satu bank syariah dengan aset yang besar, tapi secara pangsa pasar bank syariah belum tentu berubah. Perubahan pangsa pasar tergantung pada kemampuan bank hasil merger nantinya melakukan strategi yang tepat untuk mengambil alih segmen nasabah konvensional.

“ Selain market education yang masih perlu dilakukan secara intensif oleh bank syariah hasil merger, untuk menghindari kegagalan tujuan merger dalam meningkatkan pangsa pasar, maka bank syariah juga perlu meyakinkan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang kondusif agar kementerian, pemerintah daerah maupun BUMN mau menempatkan uangnya di bank syariah,” kata Najib.

 

3 dari 3 halaman

Intervensi Pemerintah Tetap Diperlukan

Najib menilai intervensi pemerintah masih diperlukan untuk bisa memperbesar pangsa pasar perbankan syariah dalam industri perbankan nasional. Dia juga berpendapat, jika Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) seluruhnya disimpan di bank syariah, itu juga cukup efektif untuk meningkatkan pangsa pasar bank syariah.

Atau, strategi lain yang bisa dilakukan adalah seperti yang dilakukan oleh Pemda Aceh dengan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan penggunaan bank syariah di wilayah provinsi Aceh. Tapi hal itu tentunya tidak bisa diberlakukan secara total di wilayah Indonesia. Karena Indonesia yang sangat beragam agamanya.

“ Intinya, tanpa intervensi pemerintah yang kuat maka merger hanya sekedar menggabungkan tiga entitas tanpa mampu memperbesar pangsa pasar bank syariah dalam industri perbankan nasional,” kata dia.

Beri Komentar