Tanda-Tanda Pegawai Alami Stres di Tempat Kerja dan Cara Mengatasinya

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 16 Oktober 2019 09:24
Tanda-Tanda Pegawai Alami Stres di Tempat Kerja dan Cara Mengatasinya
Apa saja penyakit yang bisa ditimbulkan?

Dream – Mungkin hampir semua pegawai pernah mengalami masa-masa stres. Pemicunya bisa berbagai macam.

Stres berat di tempat kerja biasanya dipicu karena lingkungan kerja yang tidak mendukung, beban kerja terlalu banyak, tak mendapat apresiasi atasan, hingga gaji yang terlalu rendah, terlalu perfeksionis. 

Pegawai yang terus membiarkan stres berlarut biasanya akan berdampak pada kondisi mental dan kesehatan fisik.

Tanda-tanda sederhana dari pegawai yang terkena stres bisa terlihat dari ogah pergi ke kantor, cepat lelah, dan lebih gampang sakit. Stres juga bisa membuatmu lekas marah, susah konsentrasi, dan sulit tidur.

Dalam jangka pendek, stres bisa membuat seseorang mengalami sakit kepala, sakit perut, nyeri dada, kelelahan, sakit kepala, mual, dan muntah.

 

1 dari 7 halaman

Dampak Stres di Tempat Kerja

Dalam jangka panjang, tekanan berat bisa membuat gangguan kesehatan yang lebih berat.

Berikut ini rinciannya.

1. Migrain

Stres dapat menyebabkan otot menjadi tegang. Dalam jangka panjang, ketegangan otot dapat menyebabkan migrain dan nyeri kronis lainnya.

2. Tekanan Darah Tinggi

Saat stres, kadar hormon kortisol dalam tubuh akan mengalami peningkatan. Peningkatan kadar hormon kortisol tidak hanya dapat menyebabkan sakit kepala, tapi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya tekanan darah tinggi.

3. Diabetes

Dalam jangka panjang, stres yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan seseorang terkena penyakit diabetes. Hal ini berkaitan dengan kenaikan kadar gula darah saat stres, baik karena pengaruh hormon stres maupun karena perubahan pola hidup akibat stres.

4. Depresi

Jika dibiarkan, stres berat di tempat kerja dapat mengganggu kesehatan mental. Kondisi inilah yang membuat kamu jadi lebih berisiko mengalami depresi.

2 dari 7 halaman

Cara Mengatasi Stres Berat di Tempat Kerja

Mengingat stres berat di tempat kerja dapat membawa dampak buruk terhadap kesehatan, penting untuk mengelola stres kerja dengan baik. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres di tempat kerja:

Bicarakan masalah atau keluhan yang membuat Anda stres kepada atasan atau manajer HRD di kantor kamu.

1. Lakukan beberapa perubahan yang bisa mengurangi tingkat stres di tempat kerja.

2. Atur pekerjaan dengan baik.

Buatlah daftar pekerjaan sesuai prioritasnya.

3. Jangan memendam stres sendiri.

Ceritakan kepada pasangan atau orang terdekat mengenai tekanan kerja yang dirasakan. Kamu butuh dukungan dan saran dari mereka.

4. Nikmati waktu libur dengan baik dan lakukan kegiatan yang menyenangkan saat libur tiba.

Jika ada waktu, pergilah ke tempat wisata yang ingin dikunjungi agar pikiran kembali segar.

Jika telah melakukan perubahan dan stres tetap dialami, mungkin saatnya untuk mempertimbangkan pekerjaan di tempat lain. Jangan anggap sepele stres berat di tempat kerja, kalau tidak ingin terkena berbagai penyakit berbahaya.

Segera lakukan perubahan pada kondisi dan pola kerja. Tidak perlu malu untuk berkonsultasi kepada psikolog jika merasa tertekan dan tidak sanggup mengatasi sendiri stres akibat pekerjaan.

(Sumber: Alodokter)

3 dari 7 halaman

Survei: Wanita Indonesia Lebih Stres dari Pria

Dream – Cigna belum lama ini merilis survei “ Skor Kesejahteraan 360: Well and Beyond”. Dalam surveinya, ada beberapa hal yang disoroti. Salah satunya adalah tingkat stres perempuan di Indonesia.

Dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 28 Maret 2019, Chief Marketing and Strategic Partnership Cigna Indonesia, Akhiz Nasution, menyebut Indonesia memiliki tingkat stres 77 persen.

Angkanya masih rendah dengan tingkat stres di negara-negara lain yang berangka 84 persen. Walaupun angkanya terbilang “ rendah”, ditemukan bahwa angka stres wanita Indonesia lebih tinggi—84 persen—daripada angka rata-rata global yang sebesar 76 persen.

“ Biasanya perempuan stres karena tekanan pekerjaan serta memikirkan kondisi keuangan keluarga dan pribadi,” kata dia di Jakarta.

 

 

Akhiz mengatakan 1 dari 3 perempuan merasa percaya diri terhadap kondisi keuangan mereka. Meskipun pria dianggap sebagai pencari nafkah utama, perempuan merasa tetap harus berkontribusi terhadap keuangan keluarga.

Survei ini menunjukkan perempuan Indonesia merasa program kesejahteraan karyawan di kantor diadakan hanya untuk memberikan manfaat secara umum, tak dikhususkan kepada kebutuhan perempuan pekerja. responden berharap kantor mereka mengadakan program kesejahteraan yang dikhususukan kepada perempuan.

Mayoritas pekerja perempuan, baik yang masih lajang, menikah maupun memiliki anak, berharap dapat mengambil lebih banyak cuti untuk mengatasi stres yang diakibatkan pekerjaan.

“ Kesejahteraan dan manajemen stres di kalangan perempuan adalah permasalahan yang harus ditanggapi serius oleh perusahaan,” kata dia.

Akhiz mengatakan jumlah pekerja perempuan di Indonesia terus meningkat. Oleh karena itu, program kesejahteraan disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

“ Perempuan bekerja harus merasa mendapatkan dukungan penuh dari perusahaan,” kata dia.

4 dari 7 halaman

Masyarakat Indonesia Lebih Sejahtera

Secara keseluruhan, survei Cigna menunjukkan, indeks kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat. Jika tahun sebelumnya, kesejahteraan Indonesia berada di peringkat ke-14 secara global, tahun ini, meroket ke peringkat ke-5.

Pada tahun ini, indeks kesejahteraan Indonesia naik 4,4 poin dari 61,0 menjadi 65,4. Angka ini membawa Indonesia keluar dari jajaran 10 negara dengan persepsi kesejahteraan terendah tahun lalu.

“ Semakin banyak responden survei yang merasa mereka berhasil menjaga makan agar tetap sehat, memiliki waktu untuk berolah raga, berat badan ideal dan tidur yang cukup,” kata Akhiz.

Dia mengatakan masyarakat Indonesia juga merasa mereka semakin mampu menjaga kesejahteraan keluarga mereka. Ini dilihat dari kemampuan menjaga kesehatan dan menjamin keuangan pasangan, anak dan orangtua mereka.

Indeks kenaikan tertinggi terlihat dari kepercayaan diri masyarakat Indonesia dalam menjamin kesejahteraan dan pendidikan anak mereka. Angka kepercayaan diri masayrakat Indonesia naik 15 poin dari 40 ke 55.

“ Melalui survei ini, Cigna berharap bisa terus memberikan dukungan terbaik bagi masyarakat Indonesia dalam meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan rasa aman mereka,” kata Akhiz. (ism)

5 dari 7 halaman

Mana Lebih Buruk, Stres Pikirkan Kerja di Malam atau Pagi Hari?

Dream – Bersikaplah optimis, setidaknya ketika kamu memulai hari. Kalau kamu percaya hari yang akan dilalui akan berat, pemikiran ini akan membuatmu kurang produktif ketika bekerja.

Pemikiran itu juga akan membuat hari-harimu sulit di kantor.

Dikutip dari studyfinds.org, Jumat 15 Februari 2019, sebuah tim peneliti mencoba mengkaji dampak stres pada memori otak. Kajian yang diterbitkan di Journals of Gerontology: Psychological Sciences, menunjukkan memori otak akan pekerjaan akan melemah jika kamu berpikir negatif, lalu stres.

Pakar psikologi dari Penn State University menjelaskan memori kerja di otak bisa mengontrol kemampuan untuk memproses dan menyimpan informasi jangka pendek. Bagian ini juga berperan penting dalam konsentrasi.

 

 

Seorang penulis kajian, Jinshil Hyun, mengatakan manusia bisa memikirkan dan mengantisipasi hal-hal sebelum terjadi. Sikap ini bisa membantu mereka untuk mempersiapkan diri untuk mencegah peristiwa tertentu.

“ Tapi, penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan ini bisa merusak fungsi memori harian kamu, terlepas dari apakah peristiwa yang menekan itu benar-benar terjadi atau tidak,” kata Hyun.

Peneliti menyebut sebagian besar penelitian ini fokus kepada cara stres mempengaruhi fungsi eksekutif dan kognisi. Mereka juga memasukkan sedikit pekerjaan untuk mengantisipasi stres.

Dalam penelitian ini, ada 240 peserta orang dewasa yang menjawab tujuh kali sehari dengan pertanyaan tingkat stres melalui aplikasi smartphone. Aplikasi ini mensurvei peserta tentang tingkat stres pada pagi hari dan keesokan harinya.

Sebelum tidur, mereka juga ditanya tentang seberapa stres yang dipikirkan untuk hari esok. Para peserta survei juga diberi tugas untuk mengukur ingatan kerja sepanjang hari. Ingatan ini dituliskan dalam bentuk lima point.

6 dari 7 halaman

Begini Hasilnya

Hasil survei ini menunjukkan mereka yang khawatir tentang stres pada pagi hari, mengalami memori kerja yang memburuk.

Efeknya berbeda dengan orang-orang yang mengantisipasi stres pada malam hari. Orang-orang ini bangun dengan perasaan lebih optimistis. Peneliti mencatat kadar stres orang yang bangun pagi dengan optimistis, tak terlalu tinggi.

“ Jika berpikir hari ini akan stres, kamu akan merasakan dampak yang tiada akhir,” kata Direktur Penn State’s Center for Healthy Aging, Martin Sliwinski.

Sliwinski mengatakan pemikiran negatif ini akan membuat seseorang kesulitan, termasuk sulit produktif di tempat kerja.

“ Berkurangnya memori kerja bisa membuat kamu cenderung berbuat kesalahan di tempat kerja atau mungkin kurang bisa fokus,” kata dia.

7 dari 7 halaman

Manfaatkan Smartphone

Sliwinski mengatakan seseorang bisa melakukan “ intervensi” terhadap pemikiran negatif. Dia bisa menggunakan gadget sebagai pengingat.

Gawai ini bisa membantu seseorang untuk senantiasa berpikir positif.

“ Jika bangun dan merasa hari ini akan membuat stres, ponsel kamu bisa mengingatkan untuk relaksasi (dan) napas dalam-dalam sebelum memulai hari,” kata dia.

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik