Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Tingginya permintaan untuk pendanaan jangka panjang dari sektor korporasi Eropa menjadi peluang besar bagi sukuk untuk tampil sebagai sumber pendanaan alternatif, menurut penelitian terbaru oleh Deloitte.
Korporasi Eropa saat ini sedang mencari sumber pendanaan jangka panjang yang layak, sementara investor Asia dan Timur Tengah juga membutuhkan aset yang cocok untuk portofolio mereka.
Seperti dikutip dari Gulf News, para ahli mengatakan saling melengkapi demand dan supply instrumen itu, membuat sukuk dipandang sebagai solusi pembiayaan yang ideal.
" Kebutuhan perusahaan dari Eropa untuk membiayai proyek-proyek jangka panjang yang membutuhkan modal besar terkendala oleh langkanya pembiayaan utang. Pada saat yang sama, ada kebutuhan dari investor Asia Timur Tengah dengan pendanaan syariah di negara maju," ujar kata Joe Al Fadl, mitra dan pemimpin Industri Jasa Keuangan di Deloitte Timur Tengah.
" Korelasi antara kebutuhan korporat Eropa dan investor di Timur Tengah dan Asia menjadi potensi yang kuat untuk inisiasi produk dan pasar sukuk," jelasnya.
Krisis keuangan global telah memicu kerentanan pasar seperti volatilitas yang tinggi dan kurangnya likuiditas di pasar modal. Hal ini telah meningkatkan kebutuhan pembiayaan alternatif yang memiliki risiko yang seimbang dan karakteristik imbal hasil yang meningkatkan modal dan ekuitas dalam industri keuangan.
" Menanggapi beberapa kekuatan global, lembaga jasa keuangan sekarang diwajibkan untuk mematuhi peraturan perubahan modal mendasar. Persyaratan Basel III menekankan pada kualitas modal dan kebutuhan untuk peningkatan ekuitas umum,” kata Dr Hatim Al Tahir, Pemimpin Deloitte Timur Tengah dan Islamic Finance Knowledge Center.
“ Basel IV muncul untuk melengkapi persyaratan ini dan menyoroti pentingnya instrumen modal dan eksposur utang tidak hanya di lembaga perbankan, tetapi juga di dunia usaha. Ini akan mengusulkan revisi untuk risiko kredit," tambahnya.
Para ahli mengatakan pasar modal syariah secara unik diuntungkan iklim saat ini dengan menciptakan instrumen utang dan ekuitas inovatif yang sesuai syariah yang mampu memenuhi peningkatan permintaan pendanaan proyek-proyek infrastruktur, baik di negara berkembang dan maju.
Hal itu ditunjang dengan sejumlah negara Eropa yang telah memperkenalkan undang-undang dan peraturan untuk memfasilitasi pertumbuhan pasar sukuk.
Menurut Bank Dunia, saat ini, negara-negara berkembang menghabiskan sekitar US$ 1 triliun per tahun pada infrastruktur. Tambahan US$ 1 sampai 1,5 triliun akan dibutuhkan hingga 2020 untuk proyek-proyek seperti pengadaan air, listrik dan transportasi. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya