Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Ilustrasi
Dream - Pasar asuransi syariah (Takaful) dunia tumbuh mengesankan dengan kenaikan dua digit dari 18 persen selama periode 2007-2012. Namun di balik prestasi itu, industri asuransi dengan prinsip Islami ini menyimpan persoalan cukup serius.
Deloitte Timur Tengah dan IRTI-IDB Group menemukan, industri takaful dunia masih menghadapi tantangan inkonsistensi dan interpretasi, yang saling bertentangan di seluruh wilayah hukum negara-negara pendukungnya.
Menurut Joe El Fadl, partner di Industri Jasa Keuangan Deloitte Middle East mengatakan, upaya memperkuat kerangka peraturan industri asuransi syariah membutuhkan usaha serius dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan industri.
Di enam pasar utama industri Takaful yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Malaysia, Indonesia dan Pakistan, laporan Deloitte menemukan adanya kesenjangan praktik dan penawaran produk Takaful.
Di antara temuannya itu, Deloitte menyebut adanya kekurangan penawaran dan keragaman produk asuransi syariah. Alhasil, bisnis asuransi syariah bergerak jauh di bawah penetrasi yang ditargetkan di enam negara itu.
" Agar industri asuransi syariah mampu membuat dampak di pasar global dan bersaing head-to-head dengan industri besar sejenis, perusahaan-perusahaan asuransi syariah perlu bergerak melampaui wilayah produk keluarga ke produk yang tumbuh secara riil seperti logistik dan penerbangan," kata Daud Vicary Abdullah, Presiden dan CEO INCEIF - The Global University of Islamic Finance seperti dikutip dari laman Zawya, Senin, 8 Desember 2014.
John Board, Rektor Henley Business School di Inggris bahkan yakin industri keuangan syariah bisa menjadi pemimpin industri asurans dan tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa. " Laporan ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan umum untuk meningkatkan kesadaran dan kebutuhan asuransi pribadi," katanya.
Selain enam pasar utama di Timur Tengah dan Asia Tenggara, Deliotte melihat Afrika sebagai ceruk pasar yang sedang berkembang, khususnya Kenya, Nigeria dan Tunisia. Di tiga negara ini, industri asuransi syariah masih dalam tahap awal.
" Industri asuransi syariah siap meluas di luar pasar tradisional seperti Malaysia dan negara Teluk. Potensi bisnis signifikan yang belum dimanfaatkan ada di Indonesia, Turki, Nigeria, Mesir, negara-negara Afrika Utara dan Eropa (Inggris, Perancis dan Jerman)," kata Sohail Jaffer, Deputi CEO FWU Group. (Ism)
Advertisement

3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?