Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Anggapan mengenai pesantren sebagai sekolah yang hanya mengajarkan agama tampaknya tidak lagi sepenuhnya benar. Pasalnya, pesantren merupakan sekolah yang juga mengajarkan kemandirian sehingga dengan sendirinya timbul semangat berwirausaha.
Demikian disampaikan Pembina Rumah Enterpreneur Indonesia (REI) Ahmat Sugeng Utomo atau yang akrab disapa Gus Ut itu di Jakarta, 7 Desember 2015.
" Santri itu siap bekerja. Dia lebih tekun dibanding yang sekolahnya tinggi karena tidak ada pilihan lain berusaha mewujudkan lapangan kerja sendiri," ujarnya.
Gus Ut menyebutkan, saat ini ada sekitar 9,1 juta lulusan pesantren yang siap kerja. Dan hampir 90 persen dari lulusan pesantren menjadi wirausahawan.
" 90 persen jadi enterpreneur karena mereka tidak punya ijazah (sarjana), 10 persen yang meneruskan itu pun sudah sangat fantastis dan mereka yang keluar dari enterpreneur pasti jadi pejabat negeri ini," ungkapnya.
Bahkan, lanjut Gus Ut, tidak sedikit juga para wirausahawan santri ini yang memiliki bisnis besar dan menjadi jutawan, serta mengembangkan bisnisnya hingga ke luar negeri.
" Berkah dari `nyantri` sehingga mereka berhasil dan jadi miliarder, cuma ini kan jarang diperhatikan (diekspos media)," jelasnya.
Menurut Gus Ut, hal ini karena metode pengajaran yang diberikan di pesantren di mana para kiai mengajak para santri untuk berusaha dengan tenaga dan pikirannya sendiri guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
" Sejak dulu para kiai memberikan pelajaran enterpreneur, santri diajarkan bekerja, seperti diminta ke ladang menanam padi, mereka akan berkreasi, ke kandang ayam, ke pasar, jual hasil kebun, mereka berkreasi, inilah yang muncul pola yang diajarkan kiai untuk megajarkan santri mandiri," paparnya.
Saat ini pun, tambah Gus Ut, ada beberapa pesantren yang mengklaim sebagai pesantren enterpreneur dengan menjanjikan kesiapan berbisnis bagi para lulusannya.
Gus Ut pun yakin dengan kemampuan santri dalam dunia wirausaha ini bisa menggerakkan perekonomian negara. Meski harus diakui, kurangnya permodalan masih menjadi kendala utama bagi para santri dalam mengembangkan usahanya.
Gus Ut menambahkan dirinya pun juga optimis para wirausahawan santri ini bisa go internasional dengan memanfaatkan peluang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2016 mendatang.
" Jangan dianggap MEA itu sebagai suatu kengerian, tapi MEA itu adalah harapan kita memberdayakan diri para santri untuk menginterasional. Ini kesempatan untuk go internasional dan saya bilang tahun 2016 para santri siap ke luar negeri semua karena para santri punya kreativitas," tandasnya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya