Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Potensi pertumbuhan ekonomi dunia mencapai puncaknya setelah krisis finansial 2007-2009 dan sepertinya akan menurun untuk beberapa tahun ke depan. Hal ini berdasar sebuah studi yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF).
Potensi pertumbuhan, yang mengukur seberapa cepat perekonomian bisa tumbuh tanpa terkena inflasi, telah melambat di negara-negara maju sebelum krisis terjadi karena bertambahnya populasi dan menurunnya inovasi teknologi.
Seperti dikutip dari Arab News, Senin, 13 April 2015, studi yang menjadi bagian dari laporan World Economic Outlook IMF ini menemukan potensi pertumbuhan negara-negara maju masih 1,3 persen antara 2008 dan 2014, lebih rendah dari sebelum krisis.
Dan dalam lima tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi negara maju akan meningkat sebesar 1,6 persen, namun masih di bawah rata-rata sebelum krisis dan tak mungkin bangkit kembali seperti sebelumnya.
Di negara berkembang, potensi pertumbuhan ekonomi mereka menurun 6,5 persen antara 2008 dan 2014 atau dua persen lebih rendah dari sebelum krisis. Potensi pertumbuhan mereka akan menjadi 5,2 persen antara 2015 dan 2020 akibat dari populasi yang menua, pertumbuhan produktivitas rendah, dan investasi yang lemah.
Tiongkok, negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, juga diperkirakan mengalami penurunan potensi pertumbuhan dalam lima tahun ke depan akibat pergeseran dari ekonomi investasi menjadi ekonomi konsumsi.
IMF mendesak negara-negara kaya untuk meningkatkan permintaan dan investasi mereka, termasuk mendanai riset dan pengembangan serta infrastruktur. Sementara untuk negara berkembang, IMF mengatakan mereka harus segera meningkatkan belanja infrastruktur dan melaksanakan reformasi regulasi serta memperbaiki kualitas pendidikan.
World Economic Outlook yang dirilis dua kali setahun ini bisa dijadikan acuan teoritis tentang cara meningkatkan pertumbuhan ketika para pengambil kebijakan ekonomi dunia berkumpul di Washington pekan depan untuk menghadiri pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya