Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seorang Pria Berdiri Di Depan Papan Perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Dream - Dimotori harga komoditas yang terus menguat, indeks syariah mengawali pekan ketig Juli dengan ditutup menguat. Meski sempat bergerak fluktuatif, dua indeks syariah berhasil menanjak ke zona positif. pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Senin 17 Juli 2017.
Sentimen positif jug datang dari pemodal asing yang mulai mengurangi aksi jual sahamnya. Meski masih mencetak jual bersih, nett sell asing sudah turun signifikan.
Dikutip dari papan perdagangan BEI, indeks ISSI menguat 0,361 poin (0,20%) ke level 185,276. Di awal perdagangan, ISSI membuka transaksi dengan menguat ke level 184,936. Namun masih adanya tekan jual membuat ISSI sempat terseret ke zona merah dan menyentuh level terendah di 184,833.
Jelang penutupan, aksi beli investor yang cukup marak terjadi membuat indeks ISSI terkerek ke teritori positif. Investor tampaknya menunggu release data keuangan Bank Mandiri yang selalu menjadi motor penggerak indeks.
Penutupan positif juga dicetak indeks keping biru syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang naik 1,673 poin (0,22%) ke level 751,727. Indeks ini bergerak fluktuatif setelah dibuka melemah di level 749,787.
Transaksi perdagangan saham syariah kembali menggeliat di awal pekan ini. Dengan 42,3 juta saham yang berpindahtangan, nilai transaksi perdagangan saham syariah meningkat menjadi Rp 3,26 triliun.
Pemodal asing juga terlihat sudah semakin mengurangi aksi jual saham mereka. Meski masih mencetak nett sell, nilai jual bersih saham syariah pemodal asing turun signifikan menjadi Rp 54 miliar.
Indeks pertambangan menjadi motor penggerak perdagangan. Indeks emiten sektor pertambangan yang dimotori kenaikan harga nickel naik 2,08 persen. Sektor infrastruktur menjadi indeks yang naik tertinggi kedua, yaitu 0,70 persen.
Ada lima indeks yang melemah pada penutupan perdagangan, yaitu indeks pertanian sebesar 0,09 persen, barang konsumsi 0,20 persen, properti 0,13 persen, keuangan 0,02 persen, dan manufaktur 0,06 persen.
Emiten-emiten bluechip syariah top gainer yang menjadi incaran investor adalah LPPF yang harga sahamnya naik Rp475, PTBA Rp450, INCO Rp130, dan TPIA Rp125.
Sebaliknya, emiten-emiten JII top loser adalah UNVR yang harga sahamnya turun Rp275, PTPP Rp130, WIKA Rp80, SMGR Rp75, dan BSDE Rp55.
Di pasar uang, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS. Kurs rupiah terhadap dolar AS ini naik 39 poin (0,29%) ke level Rp13.300 per dolar AS.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya