Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
YIA (Shutterstock.com)
Dream – Pandemi Covid-19 membuat banyak usaha dalam kondisi kritis. Demikian pula dengan PT Angkasa Pura I. Perusahaan pelat merah ini bahkan terlilit utang Rp35 miliar dan terancam membengkak bila tak segera diatasi.
“ Manajemen tengah berupaya keras untuk menangani situasi sulit ini,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi, dikutip dari Merdeka.com, Selasa 7 Desember 2021.
Menurut Fahmi, pandemi yang menggulung Indonesia sejak Maret 2020 telah menyebabkan penurunan jumlah penumpang di 15 bandara Angkasa Pura I. Angka penurunannya lumayan signifikan.
Pada 2019 –sebelum pandemi, trafik penumpang di bandara Angkasa Pura I menyentuh angka 81,5 juta. Tapi pada 2020, penumpang tinggal 32,7 juta. Tahun ini bahkan diperkirakan Cuma 25 juta penumpang saja.
Kondisi itu semakin parah karena saat pandemi melanda Angkasa Pura I sedang mengembangkan berbagai bandara yang berada dalam kondisi lack of capacity, seperti Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo (YIA), yang menelan biaya pembangunan hampir Rp12 triliun.
Selain itu, Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dengan dana Rp2,3 triliun, Terminal Baru Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sebesar Rp2,03 triliun.
Kemudian, pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebesar Rp2,6 triliun. Selain itu pengembangan bandara lainnya seperti Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Lombok Praya, Terminal 1 Bandara Juanda Surabaya, Bandara Pattimura Ambon, Bandara El Tari Kupang.
Proyek-proyek itu dibiayai melalui skema penggunaan dana internal dan berbagai sumber lain seperti kredit sindikasi perbankan serta obligasi. Pengembangan dilakukan untuk menjaga konektivitas udara tanah air tetap terbuka, serta mempercantik gerbang udara daerah lebih menarik.
Karena segala pengeluaran itulah kondisi keuangan dan operasional Angkasa Pura I mengalami tekanan besar. Pendapatan 2019 yang mencapai Rp8,6 triliun anjlok di 2020, menjadi Rp3,9 triliun.
Penurunan diprediksi masih akan terjadi pada 2021 akibat anjloknya jumlah penumpang yang hanya mencapai 25 juta orang. Dengan situasi trafik yang menurun dan adanya tekanan keuangan, Angkasa Pura I harus dihadapkan dengan kewajiban membayar pinjaman sebelumnya yang digunakan untuk investasi pengembangan bandara.
“ Seperti diketahui, sektor aviasi dan pariwisata merupakan sektor yang sangat terdampak pandemi Covid-19 di mana pandemi ini masih belum dapat diprediksi kapan akan berakhir,” kata Fahmi.
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya