Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Express Group Mengalami Masalah Keuangan. (Foto: Merdeka.com)
Dream – Kabar mengejutkan berasal dari salah satu perusahaan taksi di Indonesia, PT Express Transindo Utama (Express Group). Perusahaan ini mengalami masalah keuangan.
Oleh karena itulah, manajemen perusahaan terpaksa memangkas 250 orang karyawannya.
Corprate Secretary Express Group, Megawati Affan, mengatakan pengurangan ini dilakukan sampai dengan periode Juni 2017. Pemberhentian ratusan orang karyawan ini didorong oleh dua faktor, yaitu diskon setoran harian pengemudi mitra dan keberadaan taksi online.
“ Tingkat utilitas armada taksi mengalami penurunan karena adanya peralihan ke jasa transportasi berbasis aplikasi,” kata Megawati di Jakarta, Kamis 5 Oktober 2017.
Tak dapat dipungkiri keberadaan transportasi berbasis aplikasi ini menurunkan pendapatan taksi reguler seperti Express. Buktinya, pendapatan Express sampai semester I 2017 turun 58 persen dari Rp374,06 miliar pada semester I 2016 menjadi Rp158,74 miliar. Untuk bisnis penyewaan taksi, pendapatan yang diraup perusahaan turun 60 persen menjadi Rp134,02 miliar.
Express bukan satu-satunya perusahaan taksi yang terkena dampak keberadaan perusahaan jasa transportasi berbasis aplikasi. Ada 31 perusahaan taksi yang gulung tikar karena tergerus dengan perusahaan jasa transportasi berbasis aplikasi, seperti Sri Medali yang dulunya punya 500 armada, kini hanya memiliki 5 armada.
Bagaimana dengan Blue Bird? Meskipun ada persaingan dengan taksi online dan layanan transportasi berbasis aplikasi lainnya, perusahaan ini belum mau memangkas jumlah karyawannya.
Head of Public Relation Blue Bird, Teguh Wijayanto, mengatakan pihaknya meningkatkan layanan untuk menekan laju jasa transportasi berbasis teknologi. Misalnya, mereka meningkatkan kualitas sopir dan kendaraan.
“ Kalau untuk kendaraan, mobilnya harus terawat dan bersih,” kata Teguh kepada Dream.
Dia berkata perusahaan juga melakukan inovasi-inovasi, seperti melakukan kerja sama dengan pihak-pihak untuk mempermudah pemesanan taksi, seperti mal dan hotel.
“ Kami juga bisa diakses dari berbagai channel,” kata Teguh. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya