Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
Industri Micro Drama China
DREAM.CO.ID - Industri micro drama alias drama berdurasi pendek dari China semakin digemari banyak pecinta drama. Dalam laporan Media Partners Asia (MPA), pendapatan micro-drama bahkan diperkirakan akan melampaui pendapatan box office domestik di China.
Pendapatan micro drama di China telah meningkat dari sekitar US$0,5 miliar atau Rp8,31 triliun (Rp16.620 per US$) pada 2021 menjadi US$7 miliar atau Rp116,34 triliun pada 2024, serta diperkirakan akan melampaui US$16,2 miliar atau Rp269,24 triliun pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 11,5%.
Pada tahun 2030, iklan akan menyumbang 56% dari total pendapatan, langganan (subscription) sebesar 39%, dan perdagangan (commerce) sebesar 5%.
“ Micro-drama telah berevolusi dari eksperimen kecil menjadi kategori global bernilai miliaran dolar,” kata Direktur Eksekutif MPA, Vivek Couto, dikutip dari deadline, Senin, 27 Oktober 2025.
“ Produksinya murah, tetapi distribusinya mahal. Kesuksesan bergantung pada kecepatan, skala, dan IP yang bisa dikembangkan berulang. Ekosistem China menunjukkan potensi besar ketika konten terintegrasi dengan sistem sosial dan pembayaran, sementara AS membuktikan bahwa ekspansi global bisa berhasil," lanjutnya.
Di luar China, pasar micro drama global menghasilkan sekitar US$1,4 miliar atau Rp23,27 triliun pada 2024 dan diperkirakan akan mencapai US$9,5 miliar atau Rp157,89 triliun pada 2030, dengan CAGR sebesar 28,4%.
Secara global, komposisi pendapatan akan tetap didominasi oleh langganan atau pembelian dalam aplikasi (in-app purchase) sebesar 74%, namun pendapatan iklan akan meningkat menjadi 25%, dan perdagangan menjadi 1% pada tahun 2030.
Di China, micro-drama telah menjadi arus utama, dengan pendapatan diperkirakan melampaui US$9,4 miliar atau Rp156,23 triliun pada 2025, dan lebih dari 830 juta penonton yang menonton micro-drama. Dari jumlah itu, hampir 60% di antaranya melakukan pembayaran atau transaksi.
Industri micro-drama di China didukung oleh tiga pemain utama yakni ByteDance (Red Fruit), Tencent (WeChat Video Accounts), dan Kuaishou (Xi Fan). Masing-masing telah membangun aplikasi khusus yang terpisah dari video panjang premium, dan terintegrasi erat dengan ekosistem sosial serta pembayaran.
Platform-platform ini memanfaatkan jalur IP dari COL, China Literature, dan Tomato Novel, dengan cara mengubah novel daring menjadi drama vertikal berseri.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa pasar micro-drama China kini memasuki fase baru, dengan munculnya micro-drama premium yang memiliki anggaran Rp6,65 miliar–Rp9,97 miliar (US$400.000–600.000)* per judul, serta potensi untuk dijadikan waralaba (franchise).
Di luar China, Amerika Serikat menjadi pasar paling menguntungkan untuk micro-drama, dengan pendapatan mencapai US$819 juta atau Rp13,62 triliun pada 2024, dan diproyeksikan naik menjadi US$3,8 miliar atau Rp63,16 triliun pada 2030.
Adopsi penonton di AS dipimpin oleh wanita urban berusia 30–60 tahun dengan daya beli tinggi, yang cenderung menyukai kisah romantis, kisah CEO, dan narasi bertema balas dendam.
Platform DramaBox mencatat pendapatan sebesar US$323 juta atau Rp5,37 triliun dan laba bersih US$10 juta atau Rp166,2 miliar pada 2024. Sementara itu, pesaingnya ReelShort mencapai skala yang lebih besar sekitar Rp6,65 triliun atau US$400 juta pada 2024, namun mengalami kerugian akibat biaya pemasaran tinggi dan amortisasi, menurut laporan MPA.
Selain China dan AS, Jepang muncul sebagai pasar terbesar di Asia Pasifik selain China, dengan pendapatan yang diperkirakan melampaui US$1,2 miliar atau Rp19,94 triliun pada 2030, didukung oleh integrasi LINE Pay dan produksi lokal yang terus berkembang.
Asia Tenggara dan Amerika Latin disebut sebagai wilayah dengan potensi pertumbuhan tinggi, sementara India masih berada pada tahap eksplorasi dengan platform lokal maupun internasional, menurut laporan tersebut.
“ Pasar seperti Jepang, Korea, India, Asia Tenggara, dan Amerika Latin sedang tumbuh. Pemenangnya adalah operator yang menguasai distribusi dan monetisasi, mengelola biaya akuisisi pelanggan, dan membangun jalur IP yang berkelanjutan,” tambah Vivek Couto.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya