Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Seorang Penjual Makanan Halal Sedang Melayani Pembelinya. (Foto: Shutterstock/Ilustrasi)
Dream – Pasar makanan halal 'terlalu lezat' untuk dilewatkan. Dengan jumlah penduduk Muslim dunia sebanyak 1,8 miliar orang, tentunya pasar ini menjadi menarik bagi kalangan usaha.
Bagaimana tidak, berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report 2018/2019, pengeluaran Muslim untuk belanja makanan halal, secara global, diperkirakan mencapai US$1,3 triliun, sekitar Rp18.945,62 triliun, pada 2017.
Angka ini diprediksi mencapai US$1,86 triliun, sekitar Rp27.088,31 triliun, pada 2023 atau naik 6,1 persen.
Tak hanya itu, tercatat ada investasi makanan halal sebesar US$667 juta, ekspor US$124,75 miliar, atau sekitar Rp1.813,92 triliun, dan impor US$191,53 miliar, atau sekitar Rp2.784,86 triliun.
Jika dilihat dari belanja makanan halal, orang Muslim di negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), mengeluarkan uang paling banyak untuk belanja produk sayuran sebesar US$92,45 miliar, sekitar Rp1.334,34 triliun, makanan olahan US$63,2 miliar atau sekitar Rp918,98 triliun, serta daging dan hewan hidup US$35,86 miliar, atau Rp521,54 triliun.
Makanya, tak heran banyak negara berlomba-lomba menikmati “ kue” pasar makanan halal. Tapi, ada satu hal yang menjadi tantangan industri halal. Apa itu? Sertifikasi.
Ya, sertifikasi makanan halal memang menjadi penanda bahwa makanan itu halal, baik dari bahan maupun proses. Sayangnya, biaya sertifikasi tidaklah sedikit. Sebab, sertifikasi makanan halal yang berlaku secara global terbilang minim. Inilah yang membuat industri merogoh kocek untuk biaya sertifikasi makanan halal dan situasi itu bisa merusak nilai.
Bicara tentang sertifikasi makanan halal yang berlaku global, industri terpaksa merogoh kocek untuk mendapatkan sertifikasi dari negara lain. Hal ini disebabkan oleh standardisasi badan sertifikasi secara global masih sedikit.
Selain sertifikasi, industri makanan halal juga terganjal dengan pengawasan makanan halal. Ada 300 lembaga sertifikasi makanan di seluruh dunia. Tapi, yang pengawasnya masih sedikit. Ini yang membuka celah bagi oknum nakal untuk melanggar aturan halal.
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang