Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Indeks ISSI Menguat Pada Penutupan Perdagangan, Sedangkan Indeks JII Melemah.
Dream – Tekanan jual pada saham-saham unggulan menekan laju indeks syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Meski Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) berhasil bertahan di jalur positif, indeks Jakarta Islamic Indx (JII) kembali gagal bergerak naik.
Koreksi indeks JII juga tak lepas dari aksi jual investor asing pada saham-saham unggulan syariah. Pemodal asing justru mengalihkan dananya dengan membeli saham-saham lapis dua syariah.
Pada penutupan perdagangan harian BEI, Jakarta, Selasa 11 April 2017, indeks keping biru syariah, JII merosot 0,629 poin (0,09%) ke level 720,427. Di awal perdagangan, JII sebetulnya dibuka menguat di level 721,524.
Sementara indeks ISSI masih sanggup bertahan di zona hijau setelah naik 0,114 (0.06%) ke level 181,832. ISSI membuka sesi perdagangan dengan menanjak ke level 181,766.
Transaksi perdagangan saham syariah mengalami peningkatan di perdagangan hari ini. Dengan volume mencapai 92,6 juta saham, nilai transaksi perdagangan saham syariah mencapai Rp 5,17 triliun.
Investor asing juga membukukan nett buy pada saham-saham penghuni ISSI sebesar Rp 644 miliar.
Secara keseluruhan, mayoritas indeks sektoral memang bergerak melemah. Koreksi tertinggi dialami indeks barang konsumer sebesar 0,91 persen, diikuti keuangan 0,85 persen, dan manufaktur 0,70 persen.
Penguatan indeks sektoral dari emiten infrastruktur yang naik 0,73 persen, properti 0,61 persen, perdagangan 0,52 persen, dan pertambangan 0,20 persen, tidak mampu mengerek kinerja indeks ke zona hijau.
Emiten-emiten bluechip syariah top gainer menjadi favorit investor adalah UNTR yang harga sahamnya naik Rp400, PTPP Rp120, SILO Rp100, TLKM Rp50, dan AKRA Rp20.
Sebaliknya, emiten-emiten bluechip top loser yang menjadi favorit investor adalah INTP yang harga sahamnya turun Rp425, UNVR Rp400, LPPF Rp175, SMGR Rp175, dan AALI Rp75.
Dari pasar uang, rupiah menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 30 poin (0,23%) ke level Rp13.244 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang