Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Managing Director Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati menyoroti tiga bidang yang sangat penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan di masa depan ramah lingkungan dan inklusif. Ketiga bidang tersebut adalah bidang energi, sumber daya alam, dan tata kelola pemerintahan yang baik.
Seperti dilansir dari situs Kementerian Keuangan, Rabu, 10 Juni 2015, menurut Sri Mulyani, di bidang pertama yaitu sektor energi, terdapat potensi besar dalam mengurangi kemiskinan sekaligus menciptakan pertumbuhan hijau.
“ Hampir 3 miliar orang masih memasak dengan bahan bakar yang menimbulkan polusi, seperti minyak tanah, kayu, arang dan kotoran sapi. Untuk mengatasinya, pembangkit energi terbarukan dan peningkatan efisiensi energi harus segera dimaksimalkan,” katanya dalam Indonesia Green Infrastructure Summit 2015 di Jakarta.
Selanjutnya, bidang kedua, pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab yang selama ini dikelola dengan biaya yang amat tinggi.
“ Hutan tropis Indonesia merupakan yang ketiga terbesar di dunia. Hutan ini menghasilkan minyak sawit dan ekspor batu bara lebih banyak dari negara manapun di dunia. Tapi kelompok ini bergantung pada pertumbuhan yang menimbulkan polusi, mahal dan destruktif,” jelasnya.
Namun, lanjutnya, ada kesempatan yang dapat diraih Pemerintah Indonesia yaitu melalui pengelolaan ekonomi “ biru” yang baik di sektor perikanan. “ Pengelolaan ekonomi “ biru” yang baik dapat mendukung ketahanan pangan, keberlanjutan pariwisata, dan membangun ketahanan,” ujar Mantan Menteri Keuangan itu.
Terakhir, tata kelola pemerintahan yang baik, di mana bagi banyak negara, ini adalah tantangan terbesar. “ Ini adalah masalah tata kelola pemerintahan yang berkinerja buruk sehingga mempengaruhi penegakan peraturan atau kemampuan untuk merancang peraturan yang lebih baik. Dan ini adalah masalah global,” tekannya.
Untuk menekan hal tersebut, Sri Mulyani menyatakan Indonesia dapat mengubah sistem pengambilan keputusannya menjadi lebih transparan dan inklusif, terutama tentang alokasi dan penggunaan sumber daya. Hal ini untuk memastikan bahwa lahan digunakan secara efisien.
“ Dan Indonesia dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak negatif pembangunan yang mencemarkan, sehingga masyarakat dapat menuntut pemerintah untuk melakukan perubahan,” pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya