Kisah Menyedihkan Remaja Tak Bisa Makan Selama 3 Tahun

Reporter : Ratih Wulan
Senin, 6 November 2017 07:29
Kisah Menyedihkan Remaja Tak Bisa Makan Selama 3 Tahun
Gara-gara mengidap penyakit langka, gadis cantik ini hanya bisa mencicipi sedikit makanannya. Lalu, muntah.

Dream - Sebuah kasus medis langka menimpa seorang gadis remaja asal Inggris. Ylena Green. Dia mengalami kondisi dimana mulutnya tidak bisa menelan makanan. Yang menyedihkan, kelainan ini sudah diidapnya selama tiga tahun.

Ylena hanya bisa mencicipi rasa makanan favoritnya, seperti cheesecake, lasagna, dan makaroni keju buatan ibunya. Namun makanan tersebut hanya bisa sampai di ujung lidah. Dia akan memuntahkan kembali makanan itu.

 Mirror.co.uk

Diketahui Ylena mengidap penyakit langka yang disebut dengan Ehlers-DanlosSyndrome (EDS). Penyakit ini memengaruhi jaringan ikat di dalam tubuhnya. Perut dan ususnya tidak bisa mencerna makanan.

 

1 dari 3 halaman

Sempat Divonis Hidup Sebentar

Untuk menjaga asupannya, Ylena harus diberi makan melalui saluran di dalam hatinya yang memompa nutrisi cair ke dalam aliran darahnya.

Jadi, ketika dia merayakan ulang tahun ke-18 pada bulan Februari tahu depan, dia hanya bisa mencicipi masakan China kesukaannya tanpa bisa mencernanya di dalam perutnya.

Gadis asal HaywardsHeath, Sussex Barat iyu didiagnosis menderita EDS saat berusia 14 tahun. Tapi kondisinya, yang memperlemah persendiannya, itu memburuk beberapa hari setelah ulang tahunnya.

Saat itu dia terkilir di bagian tengkorak saat memutar kepalanya. Akibatnya dia harus banyak beristirahat di tempat tidur dan memerlukan perawatan sepanjang waktu.
Ylena memakai penjepit leher saat itu.

 Mirror.co.uk

Tapi hidupnya terancam dan dokter telah memperingatkan bahwa tanpa operasi, dia bisa meninggal dalam waktu satu atau dua tahun.

 

2 dari 3 halaman

Keluarga Tak Putus Asa

Keluarganya, termasuk sang ibu Letitia, 58 tahun, akhirnya menggalang dana 90 ribu poundsterling (Rp1,5 miliar) untuk biaya operasi yang rumit itu. Saat ini, pengobatannya belum tersedia di Inggris.

Menurut ayahnya, Martin, hanya ada dua ahli bedah di dunia yang bisa melakukan operasi terhadap Ylena. Mereka berada di Spanyol dan Amerika Serikat.

 Mirror.co.uk

" Putri kami menjalani kehidupan yang normal sampai awal tahun ini. Sekarang dia seperti di dalam penjara. Ini bukan kehidupan yang normal untuk seorang remaja," kata pria 58 tahun yang bekerja sebagai desain grafis itu.

Martin menambahkan, ibunya dan dia sangat sedih melihat Ylena. " Kami dirundung kesedihan setiap hari. Dia punya banyak mimpi, dan tugas kami hanyalah menjaga semangatnya," kata Martin.

 

3 dari 3 halaman

Ini Gejala-gejalanya

Dilansir dari Mirror, saat masih kanak-kanak, Ylena tidak menunjukkan gejala EDS, yang meliputi persendian longgar dan tidak stabil, kulit gampang memar, organ dalam sering bermasalah, dan kepala pusing setelah berdiri.

Dia menikmati berenang, senam, dan balet. Tapi saat remaja, lutut dan pergelangan tangannya mulai terkilir dan dia harus berhati-hati dengan apa yang dia lakukan. Pada bulan Juli 2014 dia pingsan dan didiagnosis dengan kondisinya seperti sekarang.

 Mirror.co.uk

Ylena juga memiliki kondisi yang menyebabkan sendi kranioservikal-nya menjadi tidak stabil. Itu artinya ligamen di lehernya terlalu lemah untuk menopang kepalanya.

Menurut Martin, tingkat keberhasilan operasi Ylena mencapai 80-90 persen. Karena itulah dia dan Letitia berusaha menghimpun dana bantuan senilai 90.000 poundsterling.

Dana tersebut, selain untuk membiayai operasi, juga dipakai menyewa ambulans udara jika diperlukan, membayar akomodasi, dan memenuhi kebutuhan selama mendampingi Ylena.

" Ylena mengatakan akan sangat bagus jika operasi bisa terlaksana sekitar atau sebelum ulang tahunnya pada bulan Februari 2018. Itu memang bukan harapan seorang anak remaja pada umumnya, tapi itu hadiah paling berharga bagi dia. Dia sangat ingin bisa bergerak bebas dan mandiri lagi," pungkas Martin.

(Sah) 

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik