Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Ilustrasi (Huffingtonpost)
Dream - Kita semua merasa terganggu dengan suara bising. Namun jika itu benar-benar mengganggu, kemungkinan Anda adalah seorang yang jenius. Artinya para jenius tidak tahan terhadap bising dan memilih untuk mencari suasana tenang dalam berkarya.
Menjadi terlalu sensitif terhadap suara bisa menjadi kunci kreativitas para jenius seperti Charles Darwin dan Franz Kafka.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Neuropsychologia dikutip Daily Mail, Kamis 11 Maret 2015, mengungkapkan keduanya diketahui sebagai ilmuwan yang paling tidak tahan terhadap suara bising.
Para ahli psikologi kini yakin bahwa ketidakmampuan menyaring informasi sensorik yang tidak diinginkan dapat dikaitkan dengan kreativitas.
Penulis terkenal Perancis Marcel Proust adalah salah satu tokoh yang sering menggunakan penutup telinga saat berbaring di tempat tidurnya untuk mencari ilham.
Tidak hanya itu, dia akan melapisi dinding kamarnya dengan gabus untuk meredam suara dari luar kamar saat sedang berkarya.
Dan Kafka pernah berkata: " Saya butuh kesendirian untuk tulisan saya; tidak 'seperti pertapa' karena itu tidak akan cukup. Tapi seperti orang mati."
Darwin dan penulis Anton Chekhov juga dikenal suka mengeluh tentang bagaimana sulitnya mereka dalam menyaring kebisingan.
Baru-baru ini para ilmuwan di Northwestern University, Illinois, menguji 100 orang tentang kemampuan mereka mencari solusi yang jujur dan menemukan hubungan yang kuat antara ketidakmampuan menyaring audio yang tidak relevan, biasa disebut kebocoran sensory gating, dan kreativitas.
Dalam tes tersebut mereka diberikan solusi hingga skenario. Mereka dihadapkan pada tantangan memberikan jawaban yang jujur sebanyak-banyaknya. Cara tersebut dirancang untuk mengukur tingkat kreatif nyata yang dicapai.
Hasil penelitian juga menyebutkan, mereka yang mengalami penderitaan (sulit menyaring informasi sensorik) mungkin merasa lebih mudah untuk berpikir kreatif karena mereka dapat fokus pada berbagai hal secara bersamaan.
" Jika disalurkan ke arah yang benar, kepekaan ini bisa membuat hidup lebih kaya dan bermakna, memberikan pengalaman yang lebih pada ketajaman otak," kata Darya Zabelina, mahasiswa Ph.D psikologi di Northwestern University.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun