Menelusuri Jejak Islam `Wetu Telu` di Lombok

Reporter : Puri Yuanita
Kamis, 13 Agustus 2015 11:26
Menelusuri Jejak Islam `Wetu Telu` di Lombok
Masyarakat Sasak, etnis asli yang mendiami Pulau Lombok, NTB sebagian besar memeluk agama Islam. Namun Islam di Lombok memiliki keunikan tersendiri.

Dream - Masyarakat Sasak, etnis asli yang mendiami Pulau Lombok, NTB sebagian besar memeluk agama Islam. Namun Islam di Lombok memiliki keunikan tersendiri.

Di Lombok Islam 'terpecah' menjadi 2 golongan, yakni Islam lima waktu (sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW) dan Islam 'Wetu Telu' yang dibawa oleh Sunan Perapen. Islam Wetu Telu merupakan ajaran Islam yang masih berpadu dengan praktik-praktik ritual agama Hindu, Buddha, dan animisme.

Penyebaran Wetu Telu sekitar 1 persen di seluruh wilayah Lombok, di antaranya terdapat di beberapa desa di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, seperti Loloan, Anyar, Akar-akar, Mumbul Sari dan Desa Senaru.

Istilah Wetu Telu sendiri bermakna 'waktu tiga', yang artinya dalam hidup ini terdapat tiga waktu kemunculan yaitu melahirkan (manganak), bertelur (menteluk), dan berbiji (mentiuk).

Tiga sistem reproduksi tersebut digambarkan di dalam Masjid Kuno Bayan dalam wujud sebuah patung kayu yang disebut Paksi Bayan. Budaya Wetu Telu mempengaruhi masyarakat Bayan dalam bertindak.

Mereka percaya hidup pada dasarnya memiliki siklus dan tingkatan mulai dari kelahiran, beranak pinak hingga kematian. Penganut Wetu Telu meyakini bahwa saat memasuki status atau tingkatan yang lebih tinggi, haruslah dilaksanakan ritual tertentu yang dapat menghindarkan mereka dari gangguan-gangguan hidup.

Mereka pun sangat menjaga warisan leluhur seperti rumah, tanah maupun benda pusaka lain. Karena menurut kepercayaan akan ada bencana jika tidak menjaganya.

Bahkan, yang paling menarik, kaum Muslim Wetu Telu masih mendokumentasikan garis silsilah keluarga pada lembaran daun lontar dengan huruf Jawa Kuno yang hanya boleh dibaca oleh tokoh adat dan dibacakan pada saat-saat tertentu. (Ism) 

Beri Komentar